CURHAT: Saya Takut Memiliki Anak Karena Saya Tidak Ingin Menyakitinya Seperti Ibu Saya Menyakiti Diri Saya  

Curhat

Halo Pijar Psikologi!

Saya adalah anak pertama dari 3 bersaudara, dua saudara saya adalah laki-laki. Saat ini saya sudah menikah, tapi suami saya bekerja di luar kota sehingga kami termasuk pasangan long distance marriage dan kami rutin bertemu setiap 3 bulan sekali. Karena kondisi tersebut saya tinggal dengan orang tua dan terkadang ibu dari ayah saya juga tinggal bersama kami. Setiap weekend, kami biasanya keluar kota untuk mengunjungi adik-adik saya. 

Beberapa hari ini hati saya rasanya sakit dan sesak karena perkataan ibu saya. Beliau seolah menganggap saya robot dan tidak berguna. Setiap perkataannya begitu melekat dan terngiang dalam pikiran saya. Hal ini tidak hanya terjadi satu dua kali saja. Entah sudah berapa kali hal ini terjadi hingga saya merasa sangat sesak. Setiap kali hal itu terjadi, emosi ibu saya langsung meninggi dan tampak enggan untuk berbicara dengan saya. Pun begitu dengan saya. Saya menghindarinya dan tidak berbicara dengannya karena pernah satu waktu saya mencoba berbicara dengannya beberapa saat setelah kejadian itu, ekspresi beliau seakan-akan mengatakan “duh, anak ini!”. Beliau seperti malas dan enggan ketika melihat saya. Setelah itu, saya memilih untuk tidak memulai percakapan dengannya ketika ia marah, sehingga saya lebih banyak menghindar. Hal itu biasanya terjadi berhari-hari begitu saja hingga entah bagaimana kami bisa bicara lagi.

Sebelumnya saya akan ceritakan tentang ibu saya dari perspektif saya. Ibu saya merupakan seorang PNS dan memiliki posisi yang cukup bagus di kantornya. Dari luar, saya melihat orang memandang ibu saya dengan hormat dan ibu saya memperlakukan mereka dengan baik, sabar, dan perhatian. Namun hal itu tampaknya menjadi satu kejanggalan bagi saya. Hal-hal seperti itu tidak saya dapatkan di rumah. Sikapnya berbeda dengan yang ditunjukkan kepada orang-orang di luar rumah, terutama bila mood-nya sedang jelek. Ibu yang saya tahu di rumah adalah orang yang tidak sabaran dan semua harus berjalan sesuai kehendaknya. Sejak kecil, saya tidak mendapati ibu saya menanyakan bagaimana hari saya di sekolah, cerita apa yang bisa saya bagi dengannya, dan sebagainya. Setidaknya itu yang terjadi pada saya. Untungnya, hal seperti itu sepertinya tidak dialami adik-adik saya. Entah sejak kapan, tapi saya mendapati secara tidak langsung bahwa adik-adik saya sering bercerita kepada ibu saya. Namun, itu semua tidak terjadi pada saya.

Saya ingat ketika saya terlambat untuk menjemputnya padahal saya juga baru keluar dari kantor. Ibu saya bisa bad mood seketika dan mengomeli saya dengan nada tidak enak. Tampaknya hal itu membekas dalam pikiran saya sehingga tiap kali ibu saya minta untuk dijemput, saya bahkan sampai mengebut agar tidak membuatnya menunggu. Tidak jarang ibu saya marah kepada ayah saya karena itu. Dalam keluarga ini, ayah saya yang mengajari saya tentang kesabaran melalui setiap perbuatan beliau. Namun, itu tidak membuat hubungan saya dan ayah saya dekat. Sedari kecil ayah dan saya juga tidak memiliki obrolan yang bisa membuat kami dekat dan saling menguatkan.

Sejujurnya, saya tidak pernah menceritakan masalah saya kepada kedua orang tua saya. Biasanya saya bercerita kepada orang luar rumah, seperti teman-teman saya. Namun untuk masalah dengan ibu saya, saya tidak cukup percaya diri untuk menceritakan masalah ini kepada teman-teman saya. Saya merasa tidak benar ketika saya membicarakan kejelekan ibu saya kepada orang lain, terutama orang yang mengenal kami. Kepada suami pun saya masih enggan menceritakan masalah ini karena alasan tersebut. Saya tidak ingin membuat suami saya merasa tidak enak dan bersalah karena tidak ada di sisi saya. Saya secara tidak langsung menjaga image ibu saya di mata orang lain, termasuk suami saya.

Kini saya memutuskan untuk bercerita di sini bukan untuk diberikan solusi atas hubungan saya dengan ibu saya. Saya hanya ingin bercerita dan mengeluarkan isi kepala saya tentang ibu saya. Karena sejujurnya di lubuk hati terdalam, saya merasa takut untuk memiliki anak untuk saat ini. Saya takut ketika nanti memiliki anak, saya akan memperlakukan anak saya sebagaimana ibu saya memperlakukan saya. Dan saya tidak ingin hal itu terjadi. Saya ingin anak saya tumbuh menjadi anak yang terbuka pada orang tuanya dan tidak memiliki luka batin seperti saya. Saya tidak tahu bagaimana mewujudkan hal itu kelak. Bahkan untuk mengandung pun saya sangat takut saat ini. Saya takut bayi dalam janin saya kelak terkena dampak apabila saya dan ibu sedang ‘perang dingin’ seperti saat ini. Saya tidak tahu harus melakukan apa. Saya selalu memutar otak saya untuk melakukan simulasi-simulasi tindakan apa yang harus saya lakukan dalam menghadapi ibu saya agar tidak ada lagi konflik di antara kami.

Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan sekarang karena sudah beberapa hari ini kami saling diam. Ketika pulang ke rumah, saya selalu memikirkan segala hal sudah benar pada tempatnya atau tidak, apakah rumah sudah lumayan bersih untuk tidak membuatnya marah lagi, dan pikiran-pikiran semacam itu. Saya merasa tidak tenang ketika memikirkan hal itu. Kini, yang bisa saya lakukan ketika di rumah adalah cukup berada di kamar sembari sebelumnya memastikan bahwa tidak ada barang-barang di rumah yang tidak berada pada tempatnya dan memastikan  rumah tidak kotor. Saya lebih memilih berada di dalam kamar saya, menikmati dunia korea yang saya sukai ataupun bermain game di ponsel saya. Saya memilih untuk menghindar karena saya pikir itu adalah pilihan yang aman dan menenangkan bagi semua.

Maafkan bila saya terlalu panjang dan berbelit dalam menulis cerita ini. Pada dasarnya saya adalah pribadi yang cukup banyak bicara, tapi itu tidak terjadi ketika berhadapan dengan ibu saya. Saya lebih banyak diam dan memastikan bahwa saya tidak melakukan sesuatu yang membuatnya marah. Ketakutan terbesar saya saat ini adalah keluarga kecil saya dan suami kelak. Apakah saya akan tetap takut untuk mengandung dan memiliki anak, apakah anak saya akan menjadi seperti saya saat ini?

Saya tidak berharap besar bahwa cerita ini akan mendapatkan balasan dari Anda yang membaca karena hanya dengan menulis panjang lebar di sini, saya merasa sedikit lega. Seakan beban yang selama ini saya rasakan akhirnya bisa saya keluarkan secara perlahan. Satu hal lagi yang membuat saya memutuskan bercerita di Pijar Psikologi adalah ketakutan saya akan dipandang remeh dan sebelah mata bila saya pergi ke psikolog. Ibu saya adalah seorang praktisi kesehatan yang bekerja di rumah sakit, namun bukanlah dokter. Ketika saya sakit, ibu saya selalu memberikan saya obat menurut pengalaman ataupun bertanya pada kolega dokternya. Saat sudah besar seperti sekarang ini, semisal saya ingin konsultasi ke dokter tentang satu rasa sakit yang saya alami, ibu saya berkata tidak perlu melakukan itu. Jadi, saya pun rasanya takut untuk bertemu dengan psikolog karena orang tua saya pasti akan terus menanyai saya hingga mereka mendapat jawaban yang memuaskan mereka. Sekiranya itulah cerita saya. Terima kasih sudah menyediakan platform ini.

Gambaran: Perempuan, 27 Tahun, Pegawai Swasta.



Jawaban Pijar Psikologi
 

Terima kasih atas kepercayaan Anda untuk bercerita di Pijar Psikologi. Memiliki interaksi yang kurang hangat dengan ibu dalam kehidupan sehari-hari rasanya pasti sangat tidak nyaman ya. Situasi rumah menjadi dingin, banyak kalimat-kalimat kurang mengenakkan didengar, bahkan lebih jauh tidak ada komunikasi sama sekali yang terjadi di dalam rumah. Dari cerita yang Anda sampaikan, kami melihat Anda sudah sangat lama memendam kelelahan ini. Menyimpan tanpa mau merilisnya, hingga akhirnya kewalahan dengan semuanya. Pasti sangat berat ya, menahan semua perasaan ini. Akan tetapi kami sangat mengapresiasi pilihan Anda untuk mau perlahan membuka keran yang selama ini disumbat. Seperti yang Anda sampaikan, bahwa setidaknya dengan menuliskan keluh kesah Anda ada sedikit ruang yang terbuka untuk bernapas. Keinginan Anda yang mau bercerita juga merupakan bentuk semangat untuk bangkit dari kondisi ini. Semoga balasan dari kami dapat sedikit meringankan beban di hati Anda ya.

Setiap keluarga memiliki dinamika interaksi yang berbeda-beda. Dinamika keluarga yang terbentuk merupakan hasil perpaduan dari berbagai kepribadian individu di dalamnya. Sehingga sangat wajar terjadi berbagai perbedaan sikap ketika menghadapi suatu situasi di dalam keluarga. Mendapat perlakuan yang cenderung menyudutkan posisi kita di rumah, tentu adalah hal yang tidak menyenangkan dan sangat ingin kita hindari. Akan tetapi sikap yang ditunjukkan oleh Ibu Anda pada diri Anda merupakan ekspresi diri atas sesuatu yang tidak dapat kita ketahui alasannya. Sikap tersebut mungkin karena perasaan, pikiran atau hasil tumpukan penilaian- penilaian dalam dirinya, dan hal tersebut berada di luar kendali diri kita. Meskipun memiliki ikatan keluarga, ketika menjalankan kehidupan masing-masing kita tetaplah individu yang berbeda. Oleh karena itu, sebagai seorang individu kita tidak memiliki kekuatan untuk mengubah apa yang ada di dalam diri orang lain. Satu hal yang dapat kita lakukan dan kendalikan adalah mengendalikan diri kita sendiri.

Untuk menghadapi situasi yang melibatkan berbagai perasaan terkait orang lain, hal utama yang dapat kita lakukan adalah “menerima”. Menerima bahwa Anda berada di keluarga yang membutuhkan lebih banyak komunikasi bersama. Menerima bahwa Anda memiliki Ibu yang memiliki sifat yang berbeda dengan diri Anda. Sembari menumbuhkan sikap menerima, Anda juga dapat perlahan “memaafkan”. Memaafkan segala hal yang kurang menyenangkan yang pernah Anda terima dari keluarga. Memaafkan apapun yang selama ini telah melukai diri Anda. Menerima dan memaafkan bukanlah hal yang instan untuk dapat dilakukan, akan tetapi dengan perlahan terus mengarahkan diri pada dua hal tersebut maka setidaknya kekecewaan pada keadaan dapat sedikit diregulasi oleh diri. Pelan-pelan kita coba ya…

Pada paragraf sebelumnya kami menyampaikan bahwa kita semua tidak dapat mengendalikan apa yang dilakukan oleh orang lain. Namun, kita dapat mengusahakan agar orang lain dapat memahami apa yang kita rasakan dengan berlatih “mengkomunikasikannya dengan asertif”. Komunikasi adalah hal yang biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, namun akan terasa sangat berat ketika di dalamnya mengandung banyak muatan emosi. Sangat wajar sekali ketika Anda merasa sulit menyampaikan keluh kesah yang Anda rasakan pada orang lain, namun hal ini tentu memiliki konsekuensi yaitu hanya diri sendiri yang bisa memahami. Oleh karena itu, jika Anda cukup siap, maka perlahan latihlah diri Anda menyampaikan apa yang Anda rasakan pada orang terdekat Anda. Mungkin Anda bisa berlatih bercerita pada suami. Menceritakan keluh kesah pada suami terkait Ibu, bukan berarti itu adalah bentuk mencari sekutu untuk bersama-sama menjauhi ibu, akan tetapi mungkin sekali setelah menceritakannya pada suami, Anda memiliki sudut pandang baru untuk melihat keadaan. Mungkin sekaligus mendapatkan masukan atau cara untuk meregulasi keadaan yang sedang terjadi di rumah.

Ketika Anda sudah siap, Anda juga dapat perlahan mengajak ibu duduk bersama dan saling menyampaikan keluh kesah dari kedua belah pihak. Kami meyakini salah satu situasi yang paling romantis adalah menyaksikan ibu dan anak saling terbuka terkait perasaannya. Mungkin akan terlihat canggung dan aneh awalnya, namun jika tidak ada yang mengusahakan untuk mulai berbicara mungkin kecanggungan itu akan berlangsung lebih lama lagi. Semoga dengan ada yang mulai membuka dirinya maka aroma baik interaksi baru dapat tercipta.

Sebagai anak, kita tidak menampik bahwa sebagian besar sikap yang muncul pada diri kita saat ini merupakan bentukan dari pola asuh orang tua. Akan tetapi bukan mustahil pola asuh yang kurang pas dan sudah tertanam dalam diri ini perlahan diperbaiki. Kesadaran diri adalah kunci utamanya. Saat ini Anda menyadari bahwa mungkin ada potensi sikap yang kurang pas pada diri Anda, hal ini merupakan sebuah jalan bagi diri Anda untuk perlahan menjauhkan diri dari sikap tersebut. Kesadaran akan hal-hal kecil dalam diri akan membuat kita dapat membuat perencanaan terkait apa yang kita inginkan. Oleh karena itu, kekhawatiran Anda terkait sifat yang mungkin menurun ke anak Anda nantinya perlu diatur dengan memutus pola-pola kurang positif yang Anda rasa sudah Anda bawa sejak dulu. Memutus pola dengan mulai membangun sikap yang positif dan tentunya meminta dukungan suami untuk membangun pola tersebut. Karena urusan terkait keturunan adalah perihal yang harus selalu didiskusikan bersama.

Poin-poin yang kita bahas di atas dapat Anda lakukan secara perlahan. Kemudian ketika dalam perjalanannya Anda masih sering merasa sesak dan sulit mengelola perasaan-perasaan tersebut, Anda dapat berlatih melakukan relaksasi napas. Berikut langkah- langkah dari relaksasi napas yang dapat dilakukan:

  1. Letakkan satu tangan di perut dan satu tangan di dada
  2. Tutup mata dan tariklah napas dari hidung dan keluarkan melalui mulut secara perlahan
  3. Rasakan pergerakan tangan yang berada di perut sama cepatnya dengan pergerakan tangan yang berada di dada saat menghirup napas
  4. Lakukan satu hingga dua menit, bayangkan napas tersebut menyegarkanmu dan abaikan pikiran lain
  5. Biarkan tubuh merasakan dampak dari pernapasan tersebut

Awalnya mungkin akan terasa biasa saja, namun jika Anda rutin melakukannya maka perlahan Anda akan merasakan dampaknya. Relaksasi napas merupakan suatu aktivitas fisik yang melatih kita untuk dapat mengkondisikan diri agar lebih tenang dan rileks saat menghadapi suatu kondisi.

Kami yakin, Anda adalah sosok yang kuat dan memiliki kemampuan yang baik untuk menyelesaikan tantangan yang Anda miliki, maka masalah yang saat ini Anda alami pun perlahan dapat Anda atasi. Sehat selalu ya! Semoga Ibu dan keluarga selalu dilimpahi kebahagiaan dan ketenangan.

 

Terima kasih telah berbagi.

Salam, 

Pijar Psikologi


Catatan: Curhat adalah sesi konsultasi yang disetujui oleh klien untuk dibagikan kepada pembaca agar siapapun yang mengalami masalah serupa dapat belajar dari kisahnya.

Let others know the importance of mental health !

2 comments

  1. kita berada di keadaan yang hampir sama, ibu ku juga seperti itu, bahkan aku berpikir aku diasuh dengan toxic parenting, sesuai dengan kemauan dan kehendak, jika tidak kata2 kasar yang membekas serasa keberadaanku tidaklah berharga. beda nya aku belum bekerja, aku masih kuliah sm 4.

    1. Kejadian serupa juga menimpa saya. Saya mahasiswa sm 4. Saya tumbuh besar dengan asuhan yg apatis menurut sudut pandang saya. Tidak ada kata kata kasar yang saya dengar, tapi orang tua saya sering mendiamkan saya jika ada suatu hal yg tidak berkenan. Saya tidak dimarahi atau dinasehati. Saya dibiarkan begitu saja dalam kebingungan dan rasa bersalah. Akibatnya saya menyelesaikan masalah dengan cara saya sendiri semampu dan sepengetahuan saya. Saya tidak tahu cara yang saya pakai ini benar atau tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*