CURHAT: Suicidal Thought Hampir Selalu Menghampiri Saya Setiap Hari. Apa yang Bisa Saya Lakukan?

Curhat

Trigger warning!

Jika Anda memiliki pikiran bunuh diri, SEGERA konsultasi dengan psikolog terdekat di kota Anda!

 

Saya selalu ingin mengakhiri hidup saya ketika ada suatu hal yang tidak beres atau tidak sesuai dengan apa yang saya rencanakan. Saya merasa stres, kecewa, tertekan dan bahkan sering menangis. Perasaan seperti ini muncul saat saya sedang dalam tekanan dan kadang pikiran negatif seperti kemungkinan yang terburuk (saya telat lulus, atau saya akan dimarahi dosen, saya akan mengecewakan bapak) hadir tanpa diundang. Saya sangat takut kalau sampai saya gagal, saya sangat ingin berhasil tapi saya tidak sabaran, bahkan saya sering menangis karena ada masalah yang sangat kecil tapi saya sudah takut kalau saya gagal, saya sering ingin terjun dari jembatan atau menabrakkan diri saya saat menaiki motor. Pikiran saya sangat kacau. Saya sangat ingin menjadi orang yang berpikiran positif dan sabar, tidak mudah emosi dan terhindar dari pikiran untuk bunuh diri. Namun, rasanya sulit karena hampir setiap hari pikiran itu muncul dengan sendirinya.

Semua ini berawal semenjak saya kelas 3 SMA, kemudian dilanjut masuk kuliah 4 tahun lalu. Saat kelas 3 SMA saya juga sudah ingin bunuh diri karena saya merasa sudah mengecewakan banyak orang, saya terlalu ambisius untuk mendapatkan kepercayaan orang lain, ketika saya ditunjuk menjadi ketua panitia tingkat kecamatan, saya malah tidak bertanggungjawab dan saya kecewa pada diri saya sendiri. Lalu saya tidak bisa belajar dengan baik, saya peringkat terakhir seangkatan dan juga saya tidak lolos ujian masuk universitas secara mandiri. Saya gagal 5 kali dalam test di universitas impian saya. Rasanya saya sangat kecewa dengan diri saya karena tidak dapat meraih impian saya ke kampus negeri yang saya inginkan, kemudian saya jadi mudah kecewa pada diri saya. Saya ingin menghancurkan hidup saya, saya selalu marah akan hal kecil dan mudah emosi terhadap hal kecil. Saya dulu waktu SMA sangat menyukai tantangan, namun sekarang saya benci berorganisasi bahkan bersosialisasi. Saya lebih suka menghabiskan waktu di kos saja. Saya rasa saya mengalami trauma terhadap orang-orang. Di satu sisi, saya makin kecewa karena saya tidak bisa seperti teman saya yang lain. Mereka pintar dan pandai bergaul. Hal itu membuat saya makin malu dan insecure.

Gambaran: Perempuan, 22 Tahun, Mahasiswa.


Jawaban Pijar Psikologi

Halo, terima kasih karena telah mempercayakan Pijar Psikologi untuk menjadi tempatmu berbagi cerita. Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga ketika membaca balasan ini, dirimu sudah merasa lebih baik ya. Kami sungguh kagum denganmu. Kamu berani untuk mencari bantuan atas kondisi yang sedang dialami saat ini. Kami yakin, tidak mudah bagimu untuk mengumpulkan niat, keberanian, dan rasa percaya dalam mengungkapkan masalah yang sedang mengganggu pikiran dan mencari bantuan pada kami. Tapi, kamu sudah melakukannya. Ini merupakan bagian yang hebat dari dirimu.

Berdasarkan cerita yang sudah disampaikan, kami dapat memahami apa yang sedang kamu rasakan. Nampaknya ada perasaan takut dan kecewa yang membentuk kecemasan dalam dirimu. Kamu orang yang kuat ya. Rasanya tidak mudah berada di posisimu sekarang. Terlebih lagi, kamu harus berjuang seorang diri untuk menghadapi masalah yang sedang mengganggu karena tidak ada teman untuk berbagi cerita. Namun, di balik semua itu, kamu telah berjuang dengan sangat baik. Sehingga, pada saat ini, paru-parumu sedang bernapas, kedua matamu sedang membaca kata-kata ini, jari-jarimu sedang merasakan sentuhan dari apapun yang sedang kamu genggam, dan kita dapat bertemu melalui konsultasi ini. Pada saat ini juga, bagian dirimu yang menginginkan untuk bertahan hidup lebih kuat dari bagian dirimu yang ingin menyerah. Untuk itu, terima kasih karena sudah bertahan walau mungkin selama ini lebih banyak melalui semuanya seorang diri. Tidak ada salahnya jika sekarang kamu juga berterima kasih pada dirimu sendiri yang telah berjuang banyak untuk dapat melalui hari-hari yang berat kemarin.

Pertama, mari kita pahami bersama, bahwa semua manusia diizinkan untuk merasa lelah, diizinkan untuk merasa marah dan kecewa, diizinkan pula untuk merasa tidak baik-baik saja bahkan jika sudah mencoba bertahan sebaik mungkin. Tetapi, tidak untuk menyerah pada hidupnya. Tahukah, kamu? Setiap orang yang memiliki pemikiran untuk bunuh diri pada dasarnya bukan ingin merasakan sakit atau mengakhiri hidupnya. Melainkan, ia hanya ingin menghentikan rasa sakit yang dialaminya. Rasa sakit tersebut bisa saja mengandung perasaan kosong, tidak berharga, kesepian, menderita, bersalah, atau perasaan lainnya yang sedang dirasakan. Keinginan untuk menghilangkan perasaan-perasaan yang tidak nyaman akan semakin sulit ketika kita berusaha menekan, mengabaikan, dan menganggap perasaan tersebut tidak ada. Sebaliknya, ketika kita menerima apa yang kita rasakan, maka perasaan-perasaan tidak nyaman tersebut tidak akan membebani kita. Hal ini dikarenakan kita berani melepas atau mengikhlaskan apa yang terjadi di kehidupan kita. Oleh karena itu, mari kita coba melakukan langkah-langkah berikut ini agar perlahan-lahan kita bisa tenang serta nyaman ketika menghadapi berbagai hal dalam kehidupan.

Berikut ini adalah hal-hal yang bisa kamu lakukan untuk bisa tenang dan nyaman ketika menghadapai permasalahan dalam hidupmu.

  1. Mengidentifikasi emosi yang dirasakan ketika pikiran negatif muncul

Aktivitas ini bertujuan untuk melatih diri kita mengenali emosi yang sedang dirasakan ketika pikiran negatif kembali muncul. Mari perhatikan ke dalam diri. Ketika pikiran negatif seperti:

“Aku telat lulus”

“Aku akan dimarahi dosen”

“Aku akan mengecewakan Bapak”

Ketika pikiran tersebut muncul, emosi apa yang sedang kita rasakan? Mari kita coba lakukan langkah-langkah di bawah ini:

1) Posisikan duduk secara nyaman

2) Tarik napas secara perlahan lalu rasakan udara masuk dari hidung dan mengalir ke dalam tubuh, kita bisa lakukan beberapa kali sampai kita merasa nyaman

3) Setelah menghembuskan nafas, tanyakan kepada diri, “Apa yang aku rasakan saat ini?” Kita bisa pikirkan jawabannya selama beberapa detik. Apakah rasanya sedih, senang, cemas, marah, takut, atau rileks?

4) Selanjutnya, kita bisa menuliskan pada selembar kertas, emosi atau perasaan apa saja yang sedang kita rasakan saat ini.

5) Setelah selesai menulis, mari latih diri kita untuk mengatakan kalimat berikut ini dan isi yang kosong dengan jawaban yang telah ditulis sebelumnya,

“Saat ini, aku sedang merasa ______”.

Kita bisa ulangi kalimat tersebut untuk setiap emosi yang dirasakan. Hal ini  bertujuan untuk membantu kita fokus dengan perasaan yang ingin distabilkan. Posisikan tubuh senyaman mungkin dan rentangkan bagian tubuh yang terasa berat atau tegang. Fokuskan pikiran kita pada napas yang masuk dan keluar, lakukan sampai kita merasa lebih tenang. Saat pikiran kita melayang, kembalikan fokus ke aliran udara yang masuk dan keluar. Ulangi sampai merasa tenang dan nyaman.

  1. Mengekspresikan emosi yang sedang dirasakan

Setelah mengetahui emosi apa yang sedang dirasakan, maka kita akan lebih mudah untuk mengelola emosi tersebut. Terdapat berbagai macam cara yang dapat dilakukan, seperti menulis ekspresif dan self-healing. Melalui menulis ekspresif kita bisa mengungkapkan pikiran dan perasaan yang mengganggu, dan melalui self-healing kita bisa menyembuhkan luka batin. Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa membaca pada artikel yang pernah dibagikan oleh Pijar dengan mengakses link berikut:

  1. Belajar untuk memaafkan dan menerima diri sendiri

Memaafkan diri sendiri merupakan langkah awal untuk menerima diri apa adanya, memaafkan orang lain, serta melanjutkan hidup dengan perasaan yang lebih positif. Salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu berbicara dengan diri sendiri (self talking) dengan mengucapkan:“Jika aku telah melukai seseorang, sengaja atau tidak sengaja, aku meminta maaf. Jika siapapun telah melukaiku, sengaja atau tidak sengaja, aku memaafkan mereka. Jika aku telah melukai diriku sendiri, sengaja atau tidak sengaja, aku menawarkan permintaan maaf.”

Kita bisa mengubah atau membuat kalimat sendiri selama merasa cukup nyaman untuk mengucapkannya. Kita memutuskan untuk memaafkan diri dan mencintai diri daripada menjadi pengkritik utama diri sendiri. Kita memilih menjadi teman dan partner yang welas asih dengan diri sendiri. Kita kembali berpikir tentang hubungan kita dengan diri sendiri. Apakah selama ini kita sudah mencintai dan memaafkan diri kita? Atau, justru kita sangat kejam dalam memperlakukan diri sendiri? Dengan pemahaman itu, maka kita akan bersikap welas asih dalam menjalani hidup. Segala peristiwa yang terjadi adalah bagian dari hidup yang perlu dijalani dan diterima. Itulah yang dimaksud dengan self-compassion, sebuah cara yang kita lakukan untuk tetap berlaku baik terhadap diri sendiri. Kita memilih untuk tetap memberikan kebaikan, pengertian, dan belas kasih terhadap diri sendiri dengan penuh pemahaman. Pemahaman bahwa penderitaan, kegagalan, ketidakmampuan, ketidaksempurnaan adalah bagian dari pengalaman semua manusia.

  1. Membiasakan diri memberi afirmasi postitif

Afirmasi merupakan serangkaian kata positif yang dapat diucapkan pada diri sendiri dengan penuh keyakinan untuk membentuk citra diri yang lebih positif dan meningkatkan rasa percaya diri. Setelah melalui kejadian atau situasi buruk, mari membiasakan diri mengatakan hal-hal positif yang didapatkan dari kejadian tersebut. Misalnya, “Walaupun hari ini sulit, tapi saya masih bisa bersyukur karena ternyata saya mampu melaluinya. Saya wanita yang tangguh”. Memberikan afirmasi positif dapat dilakukan setiap hari untuk membantu diri terbiasa memproses sesuatu secara positif lalu menggantikan pikiran-pikiran negatif yang sering muncul secara otomatis. Percayalah pada diri kita sendiri, bahwa pikiran positif akan berdampak pada perasaan serta perilaku yang positif pula.

  1. Berteman dengan diri sendiri

Terkadang kita berusaha keras untuk melawan rasa kesepian dan kesendirian. Namun, terkadang ada yang kita lupa, kita lupa untuk berteman dengan diri sendiri. Berteman dengan diri sendiri dapat memberikan kita ruang untuk lebih memahami diri, menerima diri, dan belajar bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa membaca pada artikel yang pernah dibagikan oleh Pijar dengan mengakses link berikut:

  1. Berbagi dengan orang yang kita percaya

Mungkin tidak banyak orang yang ada dalam lingkaran keluarga dan pertemanan mampu memahami kondisi yang kita alami. Ditambah pengalaman masa lalu membuat kita sulit percaya pada orang lain. Namun, percayalah, tidak semua orang akan berlaku demikian terhadap kita. Ada kemungkinan satu dari sekian orang yang kita kenal mampu memahami kondisi dan pemikiran kita. Hanya, perlu usaha untuk membuktikan hal tersebut. Usaha tersebut datang dari dalam diri kita, yaitu kemauan untuk kembali terbuka pada keluarga atau teman. Perlu kita pahami bersama bahwa berbagi cerita dengan orang lain mungkin tidak selalu dapat menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Namun, secara tidak sadar kita telah mengeluarkan sedikit tekanan yang ada dalam diri. Selain itu, dengan berbagi kita juga bisa mendapatkan masukan dan dukungan dari orang yang kita yakini mampu diajak berbagi. Mungkin tidak semua orang mau dan mampu untuk memahami permasalahan yang kita alami. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba. Dengan begitu, mungkin suatu saat kita akan bertemu dengan orang yang bisa memahami diri kita. Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa membaca artikel yang pernah dibagikan oleh Pijar dengan mengakses link berikut:

  1. Kembali melakukan hobi yang sudah lama tidak dilakukan

Kita juga bisa mulai menuliskan beberapa aktivitas yang dapat dilakukan atau dipelajari sebagai alternatif kegiatan ketika sedang sendiri. Setelah itu, kita dapat mulai melakukan dan menekuninya. Dengan demikian, kita dapat menghabiskan waktu dan tenaga pada aktivitas yang bermanfaat dan dapat menjadikan diri sebagai pribadi yang lebih positif. Berikut beberapa artikel dari Pijar yang bisa dijadikan sebagai referensi:

Berbagai cara di atas dapat kita coba untuk berlatih membebaskan diri dari jeratan krisis yang sedang dialami. Kita bisa coba melakukannya setiap hari secara rutin dan bertahap. Proses ini mungkin tidak mudah, namun ingatlah bahwa tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Oleh karena itu, jangan lupa untuk mengapresiasi setiap proses yang telah kita lakukan sekecil apapun. Terakhir yang ingin kami sampaikan, apabila keinginan untuk bunuh diri dirasa semakin kuat dan tidak dapat dihentikan, mari segera mungkin cari bantuan profesional seperti Psikolog Klinis atau Psikiater di rumah sakit atau biro psikologi terdekat di kotamu. Konsultasi tersebut dapat membantumu mengenal dan menerima diri, mengurangi pikiran negatif, berlatih untuk membuka diri, serta mengatasi permasalahan yang mungkin tersimpan sejak lama yang tidak disadari olehmu. Beberapa manfaat tersebut tidak diperoleh melalui konsultasi online. Namun, memang semua itu tidak terjadi dalam semalam. Perlu waktu dan usaha dari dalam diri kita untuk bisa terlepas dari masalah yang sedang dihadapi. Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa membaca artikel yang pernah dibagikan oleh Pijar dengan mengakses link berikut:

Berikut ini adalah daftar beberapa rumah sakit atau biro psikologi yang memiliki Psikolog Klinis di Yogyakarta yang bisa kamu jadikan sebagai referensi:

http://www.intothelightid.org/wp-content/uploads/2019/12/Database-Layanan-Kesmen-CIMSASCOPH-Pijar-Psikologi-Into-The-Light-Indonesia-IYHPS.pdf

Sekali lagi kami ingin mengapresiasi perjuangan yang sudah kamu lalui sampai sekarang. Kamu sudah berjuang dengan sangat baik. Semoga dengan keberanian untuk membuka diri kepada kami, kamu juga semakin berani untuk menghadapi segala situasi yang dihadapi. Selamat berproses menjadi dirimu yang lebih baik lagi. Percayalah bahwa setiap orang berhak untuk merasakan kebahagiaan, begitupun denganmu. Terima kasih telah bertahan ya! Semoga bermanfaat.

 

Terima kasih telah berbagi.

Salam,

Pijar Psikologi


Catatan: Curhat adalah sesi konsultasi yang disetujui oleh klien untuk dibagikan kepada pembaca agar siapapun yang mengalami masalah serupa dapat belajar dari kisahnya.

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*