Di Balik Pembuatan Media Sosial: Apakah Rela Menukarnya dengan Kesehatan Mental Anda?

“… dan saya mempertanyakan apakah mereka berusaha untuk membuat dunia menjadi lebih baik atau hanyalah mencari uang.”

-B.J. Fogg

Pada handphone yang sedang Anda genggam, ada berapa banyak aplikasi media sosial yang tersimpan di dalamnya? Atau, berapa media sosial yang sedang Anda buka di jendela peramban bersamaan dengan membaca artikel ini? Berdasarkan GlobalWebIndex pada tahun 2014, pengguna usia 16-64 tahun mengakses rata-rata 5 jenis media social yang berbeda.1

Akan tetapi, pernahkah terpikirkan oleh Anda sebagai pengguna, cerita di balik pembuatan media sosial –sebuah penemuan yang  berhasil menundukkan kepala dan menggerakkan jari-jari Anda dengan lincah?

Mark Zuckerberg menciptakan Facebook untuk membuat dunia semakin terbuka.2

Pada Februari 2004, pengguna hanya terbatas kalangan mahasiswa Harvard University3.  Kini Facebook telah digunakan di seluruh dunia oleh 1.71 miliar orang dan terus bertambah 500.000 pengguna baru setiap hari.4 Dengan melakukan pengembangan aplikasi, peningkatan pengguna juga terjadi pada media sosial lain seperti Twitter, Instagram, Snapchat, LinkedIn, dan lain sebagainya.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian para perancang aplikasi media sosial untuk memikat pengguna adalah behavior design (merancang kebiasaan). Menurut B.J. Fogg dari Persuasive Technology Lab, Stanford University, kebiasaan adalah produk dari 3 faktor: motivasi, kemampuan, dan pemicu. 3 hal ini harus terjadi pada waktu yang bersamaan.5

Para perancang aplikasi media sosial membius pengguna dengan pendekatan persuasif yang disampaikan melalui presentasi produk, wawancara dengan penyiar berita. Ketertarikan awal akan menggiring seseorang untuk mendaftarkan dirinya sebagai pengguna media sosial. Tugas selanjutnya bagi para perancang adalah mempertahankan pengguna agar selalu kembali menggunakan media sosial. Adanya daftar video yang berkaitan dan pilihan autoplay pada jendela Youtube merupakan salah satu cara agar pengguna tidak berhenti untuk mengonsumsi media sosial. Akan lebih mudah bagi pengguna untuk menekan tombol ‘selanjutnya’ daripada menutup aplikasi media sosial. Ketika motivasi dan kemudahan pengoperasian sudah terpenuhi, maka pengguna lebih cepat merespon pemicu seperti getaran, kedipan lampu pada handphone, atau pemberitahuan yang muncul di layar. Pengguna akan sulit untuk meninggalkan media sosial yang telah memikatnya.

Kebiasaan sederhana Anda untuk segera mengecek handphone tiap kali muncul pemberitahuan dari media sosial –ataupun tidak adalah hasil dari pemrograman yang dilakukan oleh perancang aplikasi.

Secara tidak langsung, Anda juga turut memasukkan dolar ke kantong-kantong mereka. Bagaimana ini bisa terjadi? Ketika mengiklankan produknya pada media online, pebisnis akan memperhatikan frekuensi dan lama waktu penggunaan media sosial. Sehingga, para perancang akan membuat aplikasi yang mampu membius pengguna agar pebisnis tertarik untuk mengiklankan produknya.

B.J. Fogg yang telah meneliti behavior design atau desain perilaku sebelum era media sosial menunjukkan kekhawatirannya. Teknologi –media sosial tidak lagi bertujuan membuat dunia menjadi lebih baik  tetapi keinginan untuk meraup uang semata dengan mengorbankan kesehatan mental pengguna aplikasi media sosial.

Dr. Larry Rosen, seorang peneliti psikologi dari California State University, Dominguez Hills mengatakan bahwa penelitian mulai menunjukkan kita menggunakan aplikasi bukan untuk merasakan kesenangan –kita mencoba untuk menyingkirkan neurotrasmiter yang membuat kita merasa buruk.6

Facebook, Tinder, Youtube dan lainnya berhasil menggabungkan aplikasi dengan kebutuhan dasar manusia untuk memiliki teman, memperoleh pengakuan, mendapatkan pencapaian.7 Seperti pada Instagram yang menyediakan filter untuk mengedit foto agar terlihat sempurna. Tanpa disadari, Anda tidak menikmati waktu yang Anda punya, tetapi sibuk dengan kegelisahan jumlah like, viewer, subscriber, follower (Baca Artikelnya..). Alam bawah sadar juga disetir untuk mengecek handphone walaupun tidak ada pemberitahuan dari media sosial. Kegelisahan yang terjadi secara terus menerus dapat mengarahkan pada depresi dan rasa tidak tenang dalam menjalani hidup.

Harris, salah satu pengembang aplikasi Send the Sunshine di kelas B.J. Fogg, mengatakan bahwa tugas dari perusahaan adalah membuat orang-orang terikat pada aplikasi mereka dengan memanfaatkan kerentanan psikologis pengguna. Akan tetapi, lanjutnya, sebagai perancang aplikasi yang menyediakan kemudahan dan kesenangan, juga perlu melihat perancang aplikasi sebagai pelayan moral yang bertanggung jawab terhadap miliaran orang.  

Selagi etika desain aplikasi masih dalam tahap pemikiran dan pengembangan, diperlukan kesadaran bagi pengguna untuk menerapkan kontrol terhadap diri sendiri dalam mengonsumsi media sosial. Kebiasaan mengecek yang sudah tertanam di bawah sadar dan waktu yang digadaikan dapat mengancam kesehatan mental.

Steve Jobs, penemu produk Apple, melarang anaknya menggunakan teknologi.

Chris Anderson, CEO 3D Robotics yang juga ayah dari 5 anak telah melihat langsung bahaya teknologi dari dekat sehingga tidak menginginkan hal itu terjadi pada anaknya.8 Pemikiran yang sama mengantarkan para pekerja di bidang teknologi untuk mengirimkan anak-anaknya ke sekolah tanpa komputer, seperti  Waldorf School of the Peninsula. Di sana murid menulis menggunakan pensil dan kertas, diajarkan untuk merajut, dan melakukan aktifitas yang melibatkan anggota tubuh. Alan Eagle yang bekerja sebagai tim eksekutif komunikasi Google mengakui anaknya yang kelas 5 SD tidak tahu cara menggunakan Google. Tidak ada hal mendesak untuk mengajarkan anak menggunakan teknologi, justru masa-masa emas ini digunakan untuk mengasah otak dan fisik.

Hal ini bukan berarti media social tidak memiliki manfaat. Layaknya dua mata pedang, media sosial dapat merusak hidup jika menggunakannya berlebihan. Akan tetapi, ada kekuatan dahsyat jika dapat memanfaatkannya dengan bijak. Ridwan Kamil, walikota Bandung, memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dengan masyarakat dan juga menginformasikan perkembangan Kota Bandung. Banyak pula dengan memanfaatkan media sosial untuk menggalang dana korban bencana.

Yuk, telisik lagi penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Pastikan bahwa setiap click, scroll, post yang kita lakukan dan waktu yang kita luangkan memberikan manfaat yang baik bagi dunia.


Sumber data tulisan (sertaan daftar pustaka atau footnote)

1 http://www.adweek.com/socialtimes/social-media-accounts/502588

2 https://www.wired.com/2010/05/zuckerberg-interview/

3 https://www.theguardian.com/technology/2007/jul/25/media.newmedia

4 https://www.brandwatch.com/2016/03/96-amazing-social-media-statistics-and-facts-for-2016/

5 A Behavior Model for Persuasive Design oleh B.J. Fogg

6 http://kernelmag.dailydot.com/issue-sections/features-issue-sections/15708/addicting-apps-mobile-technology-health/

7 Hirarki kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow

8 http://nextshark.com/why-steve-jobs-didnt-let-his-kids-use-ipads-and-why-you-shouldnt-either/

 

Baca lebih lanjut mengenai perancangan aplikasi teknologi dan dampaknya terhadap aspek psikologis manusia

https://www.1843magazine.com/features/the-scientists-who-make-apps-addictive

http://kernelmag.dailydot.com/issue-sections/features-issue-sections/15708/addicting-apps-mobile-technology-health/

 Baca lebih lanjut mengenai pekerja di bidang teknologi dan sekolah tanpa komputer

http://www.nytimes.com/2011/10/23/technology/at-waldorf-school-in-silicon-valley-technology-can-wait.html?pagewanted=1&_r=1

By: Faizana Izzahasni

Featured Image Credit: http://tech.thaivisa.com/zuckerberg-hacking-serves-as-reminder-to-change-passwords/15567/

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*