Stres di Perjalanan : Dilema Saat Memilih Tempat Kerja Jauh

Melakukan perjalanan jauh ke tempat kerja menjadi pilihan banyak orang belakangan ini. Data dari BPS mengungkapkan bahwa jumlah pekerja yang berkomuter berjumlah 3,6 juta dan sebanyak 70% berada di Jabodetabek. Berbagai macam pertimbangan tentu mendasari hal tersebut seperti biaya hidup di sekitar tempat kerja yang mahal, gaji yang ditawarkan lebih tinggi daripada bekerja di tempat asal, atau keluarga yang tidak dapat ditinggal. Saat memilih menempuh perjalanan jauh, tentu saja stres adalah hal yang tidak bisa dihindari. Stres tersebut dapat diakibatkan karena waktu tempuh yang lama, aktivitas berkomuter yang tidak dapat diprediksi seperti berdesakan dengan pekerja lain hingga berebut tempat.

Dibutuhkan Waktu Tambahan

Para pekerja yang melakukan perjalanan jauh atau berkomuter ke tempat kerja perlu mempersiapkan diri lebih awal. Pada pekerja yang memiliki keluarga mereka harus menyiapkan makanan atau kebutuhan keluarga. Hal tersebut merupakan rutinitas pagi yang perlu dilakukan lebih awal oleh pekerja yang berkomuter. Pada pekerja yang belum bekeluarga, rutinitas bangun lebih awal juga tak dapat dihindarkan. Mereka perlu menyiapkan diri agar dapat berangkat ke tempat kerja tepat waktu, terlebih lagi bagi pekerja yang menggunakan kendaraan umum. Saat mereka terlambat bangun walaupun hanya lima menit, mereka akan ketinggalan jadwal kendaraan yang mereka tumpangi dan hal tersebut akan berpengaruh pada jadwal kedatangan di kantor.

Jam Sibuk : Tantangan Dalam Berkomuter

Jam sibuk biasa terjadi saat jam berangkat dan pulang kerja. Pada saat jam sibuk ribuan pekerja berangkat bersamaan. Pada pekerja yang berkomuter dengan KRL, mereka harus rela berbagi dengan orang lain dan berdesak-desakan untuk mendapatkan tempat di kereta. Tentu saja berdesakan dengan banyak orang setiap pagi dan sore lima hari dalam seminggu bukan pengalaman yang menyenangkan. Berusaha untuk mempertahankan tempat akan membutuhkan energi lebih. Hingga pekerja akan merasa lelah saat melakukan komuter. Stres muncul saat lelah dalam kegiatan berkomuter tidak dapat ditanggulangi, terutama pada orang yang berkomuter dengan KRL.

Selain itu bagi orang yang melakukan komuter dengan kendaraan pribadi, stres pun tak dapat dihindari. Terutama saat macet. Pengguna jalan akan berlomba-lomba mencari celah agar tidak terlalu lama terjebak macet. Terjebak macet memang membuat lelah. Terjebak macet dalam waktu yang lama dapat meningkatkan tekanan darah yang berpengaruh pada peningkatan agresivitas di jalanan. Perilaku agresif tersebut ditunjukkan pada perilaku tidak sabar saat menghadapi pengguna jalan lain dan  saat mengikuti rambu lalu lintas.

Produktivitas terganggu

Melakukan perjalanan yang melelahkan baik itu menggunakan kendaraan umum atau kendaraan pribadi berpengaruh pada konsentrasi serta mood saat sampai di tempat kerja. Hal ini terjadi karena kelelahan saat berkomuter. Bagi yang berkomuter menggunakan kendaraan umum, mereka harus berebut tempat dengan dengan komuter lain. Menyiapkan diri dari orang yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan hal buruk kepada orang lain.

Bagi yang melakukan komuter dengan kendaraan pribadi, menahan diri dari pengendara yang menyetir seenaknya tanpa mematuhi rambu lalu lintas juga membutuhkan energi baik fisik maupun emosional. Rutinitas tiap hari yang menguras energi psikis dan fisik akan membuat lelah. Saat lelah, energi akan berkurang dan produktivitas dapat terganggu.

Membuat kegiatan berkomuter lebih menyenangkan

Berkomuter tak dapat dihindarkan. Begitu pula stres karena lama waktu yang dihabiskan di jalan, macet atau hal tak diprediksi lain saat berkomuter. Karena stres  yang berkepanjangan akan memengaruhi bukan hanya kesehatan mental namun juga kesehatan fisik. Namun ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar aktivitas berkomuter tidak menyebabkan stres berkepanjangan.

Mendengarkan musik

Saat berkomuter, hal paling mudah yang dapat kita lakukan agar tidak bosan adalah dengan mendengarkan musik. Memanfaatkan aplikasi musik yang ada di handphone dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif. Musik dapat membantu kita untuk merasa senang. Bagi yang ingin memanfaatkan waktu saat berkomuter dengan kegiatan yang produktif dapat mendengarkan podcast agar waktu yang digunakan saa berkomuter tidak terbuang.

Pergantian dari tempat kerja ke rumah

Kegiatan berkomuter dapat kita gunakan sebagai waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi tempat kerja. Persiapan menghadapi tempat kerja tersebut dapat dilakukan dengan mencoba menikmati perjalanan. Memandangi aktivitas orang lain atau memikirkan hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan akan membantu kita sejenak melupakan pekerjaan hingga saat sampai ke tempat kerja kita dapat merasa rileks.

Memanfaatkan waktu istirahat

Pekerjaan yang menumpuk dan tiada henti kerap membuat kita merasa harus menggunakan waktu semaksimal mungkin agar semuanya segera selesai. Namun memanfaatkan waktu untuk beristirahat tidak akan menganggu kinerja kita. Hal tersebut justru akan membuat kita menjadi lebih produktif karena saat beristirahat pikiran kita akan lebih rileks hingga siap mengerjakan pekerjaan selanjutnya. Memanfaatkan waktu istirahat dapat dilakukan dengan berbincang dengan teman kantor, menonton video lucu atau melakukan hal yang membuat kita sejenak lupa dengan pekerjaan kita.

Memanfaatkan waktu istirahat saat weekend atau libur juga akan membantu menghilangkan kelelahan akibat kegiatan berkomuter. Meskipun terdengar mustahil, namun meninggalkan sejenak pekerjaan saat hari libur atau weekend akan sangat membantu. Kita dapat memanfaatkan weekend atau hari libur untuk berkumpul bersama keluarga, teman, atau menikmati waktu sendiri dengan diri kita.

Kegiatan berkomuter merupakan pilihan yang tidak dapat dihindarkan. Kendati menyebabkan stres, namun kegiatan berkomuter bukanlah pilihan yang buruk. Karena masih ada hal yang dapat dilakukan untuk menikmati kegiatan tersebut.

Let others know the importance of mental health !
Total
3
Shares