Edukasi Seks: Bukan Hanya Tahu, tapi Paham

“Kalau hanya untuk tahu, tiap pecundang juga bisa. Kuncinya adalah mengerti.”

– Albert Einstein

Globalisasi menjadikan seks sebagai salah satu topik pembicaraan paling umum, baik di dunia nyata maupun maya. Kalau hanya untuk sekadar tahu, bahkan anak-anak kini bisa mencari informasi lewat gadget mereka. Internet menyediakan beragam suplai materi lebih dari yang mereka mungkin bisa cerna. Pertanyaannya, apakah mereka bisa memperoleh pemahaman yang tepat soal seks?

Jika menganut anggapan tradisional, bicara soal seks pada anak bisa jadi hal yang tabu. Nyatanya, meningkatnya risiko seks bebas, penularan penyakit kelamin dan kehamilan pada remaja justru diakibatkan kurangnya pemahaman anak tentang seks. Berdasarkan studi Organisasi Kesehatan Dunia, pendidikan seks sejak dini cenderung menunda inisiasi hubungan intim dan mempromosikan penggunaan alat kontrasepsi secara efektif pada waktu dewasa.

Jangan Tunda Sampai Terlambat

Pada dasarnya, anak-anak terlahir dengan kesadaran dan rasa ingin tahu yang tinggi tentang seksualitas. Hanya saja, mereka belum tahu bagaimana cara mengomunikasikannya. Seiring berjalannya waktu, para remaja bahkan terbukti kerap lebih aktif secara seksual melebihi dugaan orang tua mereka. Terlebih lagi sekarang, saat akses mereka pada konten-konten bernuansa seksual nyaris tak terbatas.

Salah satu laporan Organisasi Kesehatan Dunia Regional Eropa bahkan menyebutkan bahwa edukasi seks bisa dimulai sejak usia empat tahun, tentu saja dimulai dengan hal-hal mendasar yang sederhana terlebih dahulu. Di Chicago, Amerika Serikat misalnya, para guru taman kanak-kanak mulai mengenalkan beberapa konsep seperti “Tubuhku,” “Sentuhan yang Baik vs. Sentuhan yang Buruk” dan “Makhluk Hidup yang Berkembang Biak” pada anak-anak.

Bersikap Terbuka & Apa Adanya

Keterbukaan anak perihal seks sangat ditentukan kesediaan orang tua untuk mendengarkan dan memberi referensi tanpa bermaksud menghakimi. Untuk menghindari kesalahpahaman dan kecanggungan, pertama-tama kita harus menegaskan bahwa perubahan yang bersifat seksual pada tubuh dan emosi anak adalah hal yang wajar. Percakapan sendiri dapat dikaitkan padahal hal sehari-hari yang ringan seperti adegan film dan novel, atau berita dan iklan di televisi.

Tidak perlu menutup-nutupi atau menghindar, tetapi mulailah dengan penjelasan yang jujur seputar organ tubuh, perbedaan fisik, dan relasi antara perempuan dan laki-laki, serta fungsi dan proses reproduksi manusia. Jelaskan pula risiko serta langkah yang perlu diambil untuk mencegah konsekuensi dari hubungan seks tak sehat Beri anak pemahaman melalui contoh nyata yang bijaksana, kemudian biarkan mereka membuat kesimpulan sendiri.

Ada Porsi dan Waktu Tersendiri untuk Segala Hal

Edukasi seks tidak bisa dilakukan secara instan, namun berproses sesuai level tumbuh kembang anak. Kita perlu memperhatikan konten dan cara dalam menjabarkan tentang seks pada anak dengan usia berbeda. Pada anak-anak kelas satu dan dua sekolah dasar misalnya, hindari penggunaan istilah-istilah ilmiah yang sulit dicerna, seperti uterus dan ereksi. Meski begitu, usahakan tidak menggunakan istilah-istilah ambigu seperti burung untuk menyebut alat kelamin laki-laki.

Beranjak remaja, perkenalkan istilah-istilah seksual yang relevan dengan usia mereka. Penjelasan tentang risiko hubungan seks bebas dan penggunaan alat kontrasepsi juga bisa disertakan kemudian. Bagaimanapun, pastikan bahwa tujuan utama kita adalah memberikan gambaran yang objektif sebagai bekal pertimbangan anak dalam membuat keputusan, bukan justru menakut-nakuti atau malah mengiming-imingi.

Arahkan pada Sumber Informasi yang Tepat

Bagi anak, keengganan orang tua membicarakan soal seks akan memberi kesan bahwa hal tersebut tidak patut dibicarakan maupun dipertanyakan. Pada akhirnya, mereka akan mencoba mencari tahu sendiri, salah satunya lewat internet. Sementara itu, tidak ada jaminan bahwa mereka akan mendapat informasi yang akurat. Menurut studi terhadap 177 laman web tentang kesehatan seksual dalamJournal of Adolescent Health tahun 2010, 46 persen laman yang membahas tentang kontrasepsi dan 35 persen yang membahas tentang aborsi terbukti kuranga kurat. Untuk itu, alangkah baiknya apabila orang tua dan anak mencari tahu lewat buku maupun sumber terpercaya lain bersama-sama.

Anda adalah Teladan

Percaya atau tidak, banyak survei menunjukkan bahwa sosok orang tua memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan seks seorang anak. Remaja yang menjalin komunikasi rutin dan terbuka tentang seks dengan orang tuanya cenderung menunda hubungan intim, memiliki pasangan yang lebih sedikit, serta menggunakan kondom maupun alat kontrasepsi lain secara efektif saat berhubungan intim.

Anak menjadikan orang tua sebagai model kehidupan seksual dan belajar melalui observasi sehari-hari. Dengan demikian, penting bagi orang tua untuk memberikan contoh sikap dan relasi seksual yang sehat sesuai konteks budaya dan kepercayaan yang dianut.


Sumber Data Tulisan

Europe, W. R., & (BZgA), t. F. (2010). Standards for Sexuality Education in Europe: A Framework for Policy Makers, Educational and Health Authorities and Specialists. Cologne: Feederal Centre for Health Education, BzgA.

Myth and Facts Surrounding Sexual Education. (2002) Diakses pada Rabu, 2 Maret 2016 dari laman teachingsexualhealth.ca:  HYPERLINK “http://parents.teachingsexualhealts.ca/education/myths-facts” http://parents.teachingsexualhealts.ca/education/myths-facts

Rudulph, H. W. (2014, April 9). 11 Facts About Sex Ed in the U.S. That Might Surprise You. Diakses pada 2 Maret, 2016 dari Cosmopolitan: http://www.cosmopolitan.com/sex-love/advice/a6329/sex-ed-facts/

Talking to Kids About Sex and Sexuality – at a Glance. (2015) DiaksespadaRabu, 2 Maret 2016 darilamanPlannedParenthoodHYPERLINK “https://www.plannedparenthood.org/parents/talking-to-kids-about-sex-and-sexuality”https://www.plannedparenthood.org/parents/talking-to-kids-about-sex-and-sexuality#

SumberGambar:http://northtexaskids.com/ntkblog/wp-content/uploads/2013/01/mom-talking-to-teen.jpg

Featured Image Credit: http://northtexaskids.com/

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*