5 Hal yang Bisa Dilakukan Workaholic Untuk Sehat Secara Fisik dan Mental

Bagi sebagian orang, hari raya dan hari libur menjadi hari yang paling dinanti untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga atau sekadar bersantai melepas beban pekerjaan. Namun, tidak bagi workaholic. Workaholic atau seseorang yang kecanduan atau lebih mementingkan pekerjaan secara berlebihan dan melalaikan aspek kehidupan yang lain kini banyak kita temukan di sekitar kita. Entah itu karena ritme kerja yang semakin cepat, tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi, atau iming-iming insentif dan promosi jabatan membuat sebagian orang bekerja secara berlebihan. Entah mereka sadar atau tidak, seorang workaholic hidup dalam dunia yang hanya ia dedikasikan pada pekerjaannya. Terkadang, di hari libur bahkan hari raya pun seorang workaholic bisa saja membawa pekerjaannya hingga melupakan aspek kehidupan lainnya.

 

***

Istilah workaholic kini umum digunakan akibat maraknya fenomena work addiction. Workaholic seringkali diartikan sebagai seseorang yang terobsesi pada pekerjaan sehingga perlahan menjadi tidak seimbang secara emosional. Selain itu, seorang workaholic mengalami kecanduan terhadap kekuasaan dan kontrol dalam dorongan kompulsif untuk mendapatkan pengakuan publik. Namun, perlu digarisbawahi bahwa seorang workaholic berbeda dengan hard worker. Perbedaannya keduanya terletak pada kontrol diri yang membuat hard worker tetap dapat menyeimbangkan aspek-aspek dalam hidupnya, seperti waktu untuk keluarga dan waktu untuk diri sendiri.

Berdasarkan studi yang dilakukan di Norwegia, perilaku workaholic yang mengalami kecanduan pekerjaan diketahui berhubungan erat dengan masalah psikis seperti ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), OCD (Obsessive-Compulsive Disorder), depresi dan gangguan kecemasan. Maka dari itu, penting bagi workaholic untuk membuat batasan agar dirinya menjadi individu yang sehat secara fisik dan mental agar dapat beraktivitas secara fungsional.

Artikel ini akan membahas tentang hal-hal yang bisa dilakukan seorang workaholic untuk menjadi individu yang sehat secara fisik dan mental.

1.Tentukan Batasan Waktu

Seorang workaholic perlu membuat batasan terkait aspek-aspek dalam hidupnya. Batasan dan pembagian waktu antara pekerjaan, keluarga, diri sendiri dan lingkungan sosial lainnya harus jelas. Hal ini penting mengingat pembagian dan batasan waktu yang jelas bisa membantu otak untuk memproyeksikan sesuatu dan menambah fokus.

Kuantitas waktu yang dialokasikan mungkin bervariasi dari setiap individu. Namun yang perlu diperhatikan adalah banyaknya waktu untuk bekerja tidak sama dengan tingkat produktivitas. Terkadang, banyaknya jam yang kita habiskan untuk bekerja seharian hasilnya tidak sama ketika kita bekerja beberapa jam dalam sehari. Hal ini menunjukkan mekanisme tubuh manusia yang mewajibkan kita untuk memiliki waktu yang seimbang, antara bekerja, berkarya dan beristirahat. Maka dari itu, ada baiknya apabila kita menjaga alokasi waktu antara keduanya sehingga hidup menjadi lebih seimbang dengan tetap bisa menikmati momen-momen berharga lainnya. Selain itu, adanya waktu untuk beristirahat dari pekerjaan atau rutinitas juga akan berdampak pada motivasi dan semangat kita dalam bekerja di hari selanjutnya.

2. Pastikan Ada Batasan Fisik

Batasan fisik yang dimaksud adalah hal-hal atau barang-barang yang mengingatkan kita terhadap pekerjaan. Grup Whatsapp dan e-mail di handphone, laptop, tumpukan file yang belum diselesaikan, dan semacamnya adalah beberapa contoh barang yang mengingatkan kita pada pekerjaan. Ada baiknya untuk menjauhkan atau membatasi diri secara fisik dengan barang-barang yang akan mengingatkan kita dengan pekerjaan. Hal ini penting agar kita menjadi lebih fokus pada aktivitas lain atau fokus beristirahat dari pekerjaan. Sebaiknya hindari melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu yang akan membuat efektivitas dan waktu istirahat kita terganggu.

3. Yakinkan Diri Secara Kognitif

Meyakinkan diri sendiri untuk tidak memikirkan pekerjaaan secara berlebihan perlu kita lakukan untuk meyakinkan diri secara kognitif. Lupakan sejenak urusan pekerjaan kita tidak berarti kita adalah individu yang tidak bertanggungjawab. Memutuskan untuk beristirahat dari pekerjaan juga bukan sesuatu yang memalukan atau hal yang perlu disesali.

Kita sebagai manusia memang didesain untuk hidup secara seimbang sehingga hal yang perlu kita lakukan adalah menyadari bahwa tubuh memerlukan istirahat dan fokus terhadap apa yang kita kerjakan. Diri yang tertekan dan terlalu fokus pada hal-hal yang menyangkut pekerjaan akan membuat kita cenderung mudah terganggu dengan hal-hal kecil. Rasa gelisah, sering terburu-buru, atau terus membicarakan pekerjaan yang belum selesai akan membuat kita cenderung tidak menikmati apa yang dilakukan dan membuat kita menjadi individu yang tidak sadar di saat ini-kini.

4. Asertif Pada Atasan

Seorang asertif adalah orang yang berani mengutarakan pandangan atau tujuannya dengan tetap menghargai orang lain. Apabila kita bekerja dibawah atasan yang workaholic, secara tidak langsung kita akan mengikuti pola kerja yang sama. Ada baiknya untuk kita mengkomunikasikan hal-hal yang bisa membuat kita tidak nyaman, termasuk jam kerja ekstra yang membuat kita tidak nyaman. Komunikasi dengan atasan tentang keterbatasan diri dan alokasi waktu di luar jam kerja penting untuk dilakukan semata-mata demi menjaga performa kita dalam bekerja. Tidak perlu malu, takut atau berusaha menutupi kekurangan diri untuk tampil sempurna tanpa celah, karena hal itu justru akan menjadi boomerang di lain waktu, seperti stres, burnout atau sakit akibat kelelahan. Menjadi asertif dalam situasi ini membuat kita menjadi tidak terbebani sekaligus menghindari konsekuensi yang tidak diharapkan. Membangun komunikasi asertif juga membantu atasan dalam memahami setiap karyawan dalam hal kompetensinya, sehingga dengan begitu atasan bisa memberikan beban kerja yang ideal bagi setiap karyawannya.

5. Lakukan Self-care

Self-care atau upaya merawat diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan kehidupan, kesehatan serta kesejahteraan diri baik secara fisik maupun mental. Kebanyakan orang sering berpikir bahwa meluangkan waktu untuk diri sendiri, merawat diri, dan mencintai diri sendiri dinilai egois. Namun, diri kita justru membutuhkan perawatan dan perhatian untuk tetap menjadi pribadi yang positif dan produktif. Hal ini penting untuk menjaga kita dari dampak tekanan kerja, dan konsekuensi lainnya dari bekerja secara berlebihan.

Baca juga: Self-Sabotage dan Pengaruhnya Terhadap Pencapaian Tujuan di sini.

***

Sebagai manusia, kita adalah makhluk yang didesain untuk hidup secara seimbang dari berbagai aspek kehidupan. Hal yang sering dilupakan oleh seorang workaholic adalah kewajibannya dalam memenuhi aspek kebutuhan diri dan sosialnya, sehingga ia cenderung terfokus hanya pada satu aspek kehidupan yaitu pekerjaannya. Tidak ada salahnya untuk berhenti sejenak dan menyadari situasi bahwa kita telah melampaui batasan diri. Tidak ada salahnya untuk memutuskan kembali pada desain alami kita untuk hidup secara seimbang.

 

 

 

1 comment

  1. Maaf ka
    saya berniat untuk belajar lebih banyak tentang psikologi..
    Kalo sekiranya tidak merepotkan, boleh dong kaka ajarin saya..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*