Memahami Homoseksualitas dalam Perspektif Ilmiah

Secara historis, homoseksualitas (dan juga biseksualitas) tidak pernah secara konsisten dianggap sebagai suatu penyimpangan sosial apalagi penyakit. Beragam budaya dan keyakinan memiliki pandangan yang berbeda dan bahkan berubah-ubah seiring waktu. Misalnya saja tradisi nadleeh dalam suku Navajo; bissu, calalai, dan calabai dalam masyarakat tradisional Bugis; pederasty dalam masyarakat Yunani kuno; atau bahkan adorasi terhadap keindahan tubuh dan paras laki-laki muda yang disajikan dalam puisi-puisi relijius yang ditulis oleh penyair atau imam-imam abad pertengahan.

Kita perlu menyalahkan sang bapak psikoanalisis, Sigmund Freud, yang pertama kali telah mengaitkan perilaku homoseksualitas dengan relasi seseorang dalam keluarga yang abnormal atau penuh konflik. Freud berhasil meyakinkan dunia profesi medis bahwa homoseksualitas adalah suatu penyakit yang perlu disembuhkan melalui psikoanalisis.

Setidaknya ada dua kesalahan apabila kita berpegangan pada psikoanalisis Freud dalam menyikapi homoseksualitas. Pertama, psikoanalisis Freud tidak serta merta membuat daftar jelas penyakit-penyakit yang terkait mental beserta kriteria diagnosis, gejala, etiologi (penyebab), faktor risiko, dan indikasi pengobatan. Kenyataannya, menurut Freud, hampir seluruh perilaku dan kebiasaan kita sehari-hari adalah sebuah bentuk kompensasi mental dari sebuah keinginan instingtif unconscious yang tidak terpenuhi (sebagai contoh: bahwa seseorang dianggap ingin berhubugan intim dengan ibu kandungnya yang dianggap sebagai pemberi kehidupan dan rasa nyaman, dan ingin membunuh ayahnya karena dianggap sebagai kompetitor untuk mendapatkan ibunya, kemudian insting yang tidak terpenuhi ini akan bermanifestasi ke dalam beragam kebiasaan dan perilaku sehari-hari).

Freud menggunakan pendapat psikoanalisisnya ini bukan hanya dalam ilmu kesehatan, tapi juga dalam bagaimana dia mendefinisikan moralitas dan norma sosial di kehidupan sehari-hari, serta dalam pandangannya terhadap agama. Dalam filsafat, pandangan psikoanalisis Freud seringkali dianggap setara dengan Nietzsche yang menyatakan bahwa moralitas dan norma adalah bentuk kompensasi atas ketidakberdayaan mereka yang lemah terhadap yang kuat. Secara sederhana, apabila kita menggunakan sudut pandang psikoanalisis Freud, maka semua orang memiliki sakit mental yang terus-menerus muncul dan hampir tidak mungkin disembuhkan.

Kesalahan kedua, dan sesungguhnya yang paling relevan terhadap peradaban kita saat ini, adalah bahwa banyak studi ilmiah yang telah dilakukan menemukan bahwa tidak ditemukan signifikansi dan hubungan antara pengalaman dalam keluarga atau pun lingkungan terhadap orientasi seksual seseorang. Hal inilah yang membuat para praktisi kesehatan mental di dunia tidak lagi memasukkan homoseksualitas dan biseksualitas ke dalam daftar gangguan mental.

(Penulis sengaja menghindari penggunaan istilah “penyakit jiwa” karena sesungguhnya istilah ini tidak tepat. Mental adalah sesuatu yang ilmiah, berhubungan dengan hormon, struktur dan fungsi otak, serta respon terhadap faktor eksternal yang didasari oleh fungsi biologis. Sedangkan jiwa memiliki konotasi metafisik dan tidak terjelaskan atau pun terbuktikan secara ilmiah. Karenanya dalam bahasa Inggris pun istilah yang digunakan adalah mental disorder, bukan soul disorder.)

Kira-kira dalam suatu populasi terdapat hanya sekitar 3-10% yang memiliki orientasi bukan heteroseksual. Penelitian bertahun-tahun yang berusaha mencari keterhubungan antara orientasi seksual dengan tabula rasa atau pun interaksi sosial tidak berhasil menjelaskan mengapa orientasi selain heteroseksual muncul. Percobaan “menyembuhkan” orientasi seksual baik melalui psikoanalisis atau pun kastrasi (terapi hormon) gagal, justru malah menyebabkan kondisi depresi dan bunuh diri akibat perasaan membenci diri sendiri dan ketidakstabilan hormon.

Penelitian-penelitian yang terbaru berhasil menemukan bahwa sebagaimana banyak kondisi fisiologis dan sifat perilaku individual baik pada hewan maupun manusia ditentukan dan dipengaruhi oleh kerja sistem endokrin (aktivitas hormon, dalam hal ini gonadokortikoid) saat fase prenatal (masih dalam kandungan), demikian pula orientasi seksual. Aktivitas hormon ketika dalam kandungan ini berperan penting bagi perkembangan dan diferensiasi beragam organ tubuh, termasuk otak. Perubahan yang terjadi pada aktivitas hormon ini memengaruhi perubahan pada struktur anatomis, dan apabila ini terjadi pada fase perkembangan otak maka juga akan memengaruhi fungsinya, dalam hal ini sebagai identifikasi diri dan pengaturan perilaku (termasuk orientasi seksual).

Selain aktivitas hormon pada fase prenatal, faktor biologis lain disebutkan juga memiliki peranan. Terdapat peningkatan probabilitas orientasi homoseksual pada laki-laki sebanyak satu per tiga untuk setiap kakak laki-laki yang dimiliki. Pada penelitian terhadap anak kembar, ditemukan keterkaitan orientasi seksual dengan kromosom 8 dan kromosom Xq28. Selain itu, ada pula studi yang menemukan bahwa peningkatan respon imun ibu terhadap protein tertentu seperti NLGN4Y yang dihasilkan oleh kromosom Y pada janin anak laki-laki memiliki korelasi dengan orientasi homoseksualitas.

Berdasarkan perspektif evolusi, apabila suatu fitur atau ekspresi genotipe dan fenotipe suatu spesies tidak menguntungkan, atau bahkan mengancam, bagi keberlangsungan spesies itu, maka secara alami fitur tersebut akan tereliminasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa perilaku homoseksualitas dapat ditemukan bukan saja pada manusia, tapi juga pada hewan, dan sudah berlangsung selama lebih dari ratusan bahkan ribuan tahun? Observasi terhadap perilaku homoseksual baik pada manusia maupun hewan menunjukkan bahwa terdapat keuntungan-keuntungan bagi keberlangsungan spesies.

Di sisi lain, ketakutan masyarakat luas terhadap homoseksualitas sendiri bisa jadi merupakan hal yang wajar berdasarkan perspektif evolusi. Bagian primitif otak kita mendikte secara instingtif bahwa hal-hal asing (tentunya karena jumlah heteroseksual jauh lebih banyak, maka homoseksualitas adalah kejadian yang termasuk jarang) bagi diri kita akan dikategorikan sebagai hal yang mengancam keberadaan kita, sehingga kita cenderung merasa takut dan curiga sebagai bentuk pertahanan diri.

Permasalahannya, rasa takut ini seringkali muncul tanpa perlu memiliki dasar atau alasan yang rasional, terlebih lagi mengingat kita adalah manusia yang notabene merupakan spesies paling cerdas di Bumi dan telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan. Keengganan masyarakat untuk memahami penjelasan-penjelasan ilmiah mengapa suatu peristiwa terjadi tentu saja merupakan bentuk kemunduran evolusi manusia sekaligus peradaban.

 

Tentang penulis:

Liswindio Apendicaesar adalah sarjana kedokteran yang tulisan-tulisannya sudah di muat di berbagai media baik elektronik maupun cetak. Menyukai sains dan filsafat. Pegiat sebuah komunitas sastra di Surakarta (Solo). Buku fiksi kumpulan cerita pendeknya berjudul Malam untuk Ashkii Dighin.

Reference:

  1. Sigmund Freud (1930), Civilization and Its Discontents
  2. Friedrich Wilhelm Nietzsche (1887), On the Genealogy of Morality
  3. Puts DA, Jordan CL, dan Breedlove SM (2006). O brother, where art thou? The fraternal birth-order effect on male sexual orientation. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 103(28): 10531-10532
  4. Balthazart J (2011). Minireview: Hormones and Human Sexual Orientation. Endocrinology, molecular and physiological basis of endocrine health and issue 152(8): 2937-2947
  5. Bogaert AF (2006). Biological versus nonbiological older brothers and men’s sexual orientation. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 103(28): 10771-10774
  6. Bogaert AF, Skorska MN, Wang C, et al (2018). Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 115(2): 302-306
  7. Barash DP (2012). The Evolutionary Mystery of Homosexuality. The Chronice of Higher Education. [daring] Tersedia di: https://www.chronicle.com/article/The-Evolutionary-Mystery-of/135762] [diakses 14 Februari 2014]

Tonton juga: https://www.youtube.com/watch?v=4Khn_z9FPmU oleh James H O’Keefe MD (Board Certified Cardiologist and Director of both the Charles & Barbara Duboc Cardio Health & Wellness Center and the Preventive Cardiology service at Saint Luke’s Mid America Heart Institute)

 

Let others know the importance of mental health !
Total
15
Shares

1 comment

Comments are closed.