Inilah Hal Terkait Fobia yang Penting untuk Anda Ketahui

“Ketika Anda menjelajahi ketakutan anda, saat itulah Anda akan mampu membebaskan diri”

– Stephen Richards

Salah satu bentuk emosi dasar manusia adalah takut. Jika Anda menggemari film Inside Out, Anda tentu menemukannya pada gambaran salah satu tokohnya. Film garapan Pixar ini melukiskan dinamika dari tokoh Joy, Sadness, Fear, Anger, dan Disgust. Kelima tokoh tersebut menggambarkan beberapa emosi dasar dari manusia. Jadi, pada dasarnya emosi takut atau jenis emosi lainnya wajar untuk dirasakan hingga taraf tertentu. Nah, pernahkah Anda merasa tidak nyaman atau takut terhadap objek atau situasi tertentu? Jika iya, bagaimana ketakutan itu kemudian memengaruhi aktivitas Anda?

Dalam kehidupan normal kita, terkadang kita merasa takut atau tidak nyaman terhadap suatu objek atau situasi.1 Namun, kita harus berhati-hati jika level ketakutan yang dirasakan telah berdampak secara ekstrem. Ketika ketakutan tersebut mengganggu aktivitas dan kehidupan sosial Anda, hal itu dapat merujuk pada gangguan kecemasan. Gangguan kecemasan yang dimaksud dikenal dengan istilah fobia. Inilah ketakutan ekstrem dan irasional terhadap hewan, objek, tempat, atau situasi yang kebanyakan orang tidak akan takut.

Orang dengan fobia umumnya akan menghindari situasi yang mereka takutkan atau merasa sangat cemas.1 Mereka dapat terserang panik ketika berada pada situasi yang ditakuti atau bahkan saat baru memikirkannya. Nah, tahukah Anda bahwa ada dua tipe gangguan kecemasan fobia? Untuk mengulik beragam kasusnya, mari kita bahas terlebih dahulu kedua tipe ini. Dua tipe yang dimaksud adalah fobia khusus (specific phobias) dan fobia kompleks (complex phobias).

Fobia khusus merupakan ketakutan terhadap sebuah objek, situasi, atau aktivitas tunggal.1 Umumnya berupa ketakutan terhadap hewan seperti laba-laba dan ular atau lingkungan seperti ketinggian dan badai. Selain itu, dapat melibatkan situasi seperti terbang atau berada di atas eskalator. Bentuk lain dari fobia tipe ini adalah ketakutan akan darah, suntikan, atau luka. Orang dengan fobia ini bisa pingsan ketika menjumpai darah atau luka. Biasanya denyut jantung dan tekanan darah mereka juga akan meningkat. 1

Nah, berlanjut ke fobia tipe kedua yaitu fobia kompleks. Fobia jenis ini melibatkan beberapa bentuk kecemasan. Ada dua kasus yang akan kita bahas secara khusus dalam tipe ini. Berikut ini merupakan gambaran singkat dari agorafobia dan fobia sosial:

AGORAFOBIA (AGORAPHOBIA)

Seseorang dengan agorafobia memiliki ketakutan pada ruang terbuka, keramaian, atau area publik.1 Selain itu, mereka merasa tidak nyaman ketika berbelanja atau bepergian seorang diri dengan jenis transportasi apapun. Terkadang, mereka bahkan tidak mampu meninggalkan rumah yang menjadi wilayah aman mereka.

Orang dengan agorafobia mengalami gejala kecemasan yang signifikan.2 Terkadang juga merasakan kepanikan seperti sesak nafas, berkeringat, pusing, dan mual. Fobia ini menyebabkan rendahnya harga dan kepercayaan diri serta kondisi depresi. Dalam penanganannya dapat diberikan terapi psikologis yang dikenal dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT).1

FOBIA SOSIAL (SOCIAL PHOBIA)

Seseorang dengan fobia sosial mengalami ketakuan pada situasi sosial atau situasi kerja.1 Misalnya, ketika berada di sebuah pesta atau berbicara di depan umum. Mereka  mengalami ketakutan akan penolakan, dianggap memalukan, atau dinilai secara negatif. Ketakutan inilah yang menghalangi seseorang untuk terlibat dalam aspek sosial kehidupannya.3 Ketika dibiarkan berlanjut, ketakutan tersebut dapat menghambat mereka untuk pergi bekerja atau ke sekolah.4 Alhasil, mereka akan sukar untuk menciptakan dan menjaga hubungan pertemanannya.

Fobia sosial umumnya tidak diketahui sampai seseorang telah beranjak remaja.4 Namun, perlu diketahui bahwa fenomena ini berakar dari pengalaman rasa malu yang diinternalisasikan sedari kecil. Orang dengan fobia sosial juga cenderung memiliki harga diri yang rendah dan mengalami depresi.4 Dalam penanganannya, dapat diberikan terapi psikologi, pemberian obat, serta menggunakan strategi self-help. Strategi self-help dapat dengan menuliskan paparan fobia yang dialami dan cara mengatasinya atau melalui bacaan khusus.1

Beberapa kalimat ini akan menjadi akhir bahasan fobia kita kali ini. Fobia mungkin sudah menjadi fenomena yang lazim ditemui. Namun, ingatlah bahwa untuk mengenali fobia tidak hanya diperlukan kesadaran dari dalam diri seseorang. Pemeriksaan oleh psikolog atau psikiater juga harus dilakukan dalam penegakkan diagnosis. Dalam keadaan apapun Anda saat ini, berjuang dan berdamailah dengan segala ketakutan Anda. Yakinlah, konsistensi dan kepercayaan akan membawa perubahan yang luar biasa.


Sumber Data Tulisan

1The British Psycological Society. (2008). Phobias – What, Who, Why, and How to Help. Diakses melalui http://www.bps.org.uk/system/files/documents/phobias_information_leaflet.pdf tanggal 25 Januari 2016.

2Better Health Channel. (2014). Agoraphobia. Diakses melalui https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/agoraphobia tanggal 25 Januari 2016.

3Helsel, P.B. (2005). Social Phobia and the Experience of Shame: Childhood Origins and Pastoral Implications. Pastoral Psychology, 53: 6.

4Psychology Today. (2014). Social Phobia. Diakses melalui https://www.psychologytoday.com/conditions/social-phobia tanggal 25 Januari 2016.

By: Sekar Fitriadzini Istiqomah

Featured Image Credit: inspiringchanges.co.uk

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*