LGBT juga Manusia

Memahami mereka yang berbeda dengan kita bukanlah hal mudah, terlebih memahami teman-teman dari komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Rasanya perbedaan kita terlalu jauh. Rasanya mereka sangat asing, sesuatu yang tidak terjangkau imajinasi kita.

Siapa mereka? Mengapa mereka berbeda? Apakah mereka menyalahi kodrat? Ada segudang pertanyaan di kepala kita namun rasanya segan untuk bertanya. Jarak kita dengan mereka semakin merenggang karena banyaknya informasi simpang siur yang tidak kita tahu kebenarannya. Yang kita tahu mereka salah, mereka sengaja memilih ‘jalan hidup LGBT’ dan sebaiknya kita tidak perlu dekat dengan mereka.

Mungkin kini saatnya kita mengenal mereka lebih dekat. Memandang mereka sebagai manusia dengan segala kompleksitasnya.

LGBT di Antara Kita

Penelitian di Eropa menunjukan bahwa orang-orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai gay, lesbian dan biseksual (LGB) sebanyak 6% dari populasi. Selain itu, penelitian di Amerika Serikat menunjukan hasil yang beragam bahwa populasi LGB berkisar antara 3,5% hingga 11% atau sekitar 25 juta orang.

Di Indonesia belum ada data yang pasti. Dikabarkan bahwa populasi lesbian dan gay sekitar 3%. Ada juga data penelitian yang hanya menemukan 3 juta populasi atau 1.1% dari total populasi. Namun, semuanya masih berupa prediksi karena masih banyaknya LGBT yang menyembunyikan statusnya.

Belum lagi, sensus LGBT biasanya baru melibatkan lesbian, gay dan biseksual. Beberapa sensus belum melibatkan waria, aseksual, pansexual, intersex dan orientasi gender atau seks lainnya. Maka dari itu, ada sebuah klaim dari studi yang sangat tua bahwa populasi LGBT di masyarakat mencapai 10%. Artinya, jika kamu memiliki 100 orang teman, maka bisa dipastikan 10 orang teman kamu adalah bagian dari LGBTQIAAP+ (lesbian, gay, biseksual, transgender, queer, intersex, aseksual, allies, pansexual, dll). Hanya saja mereka menyembunyikan diri atau belum berani mengungkapkan identitas mereka. LGBT bukan hanya tentang lesbian dan gay. LGBT adalah spektrum seksualitas dan gender yang lain.

Kenapa Kita Membenci Mereka

Kami memahami bahwa LGBT tidak bisa diterima di kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Dari sudut pandang ‘normal’, perilaku LGBT sangat asing dan dirasa sangat tidak pantas, bahkan menjijikan. Rasanya tidak nyaman sekali melihat dua pria dewasa bergandengan tangan mesra atau melihat dua perempuan yang saling berangkulan di mana salah satunya berambut cepak dan terlihat seperti pria.

Interpretasi mayoritas agama yang ada di Indonesia tidak bisa memberi ruang untuk perilaku LGBT. Kita pun berusaha memarginalisasi LGBT karena kita tidak ingin anak kita tertular pergaulan bebas mereka. Kita tidak ingin perilaku LGBT menjadi wajar dan akhirnya semakin banyak orang yang menjadi LGBT.

Lebih jauh lagi, kita khawatir bahwa eksistensi LGBT akan terus berkembang hingga akhirnya menggeser populasi orang-orang normal seperti kita. Fakta ini membuat kita merasa terancam. Dan akhirnya mendorong kita untuk mendiskriminasi mereka dan memastikan bahwa mereka tidak memiliki ruang sama sekali untuk menunjukan eksistensinya di Indonesia.

Putih Hitam LGBT di Indonesia

Membahas LGBT nampaknya tidak bisa dikotakkan dalam perspektif hitam dan putih, salah dan benar.  Karena “benar” sangatlah relatif, tergantung sistem masyarakat, nilai, budaya, agama dan faktor-faktor tak terhitung lainnya. Apa yang “tidak benar” bagi kita bisa jadi “normal” bagi orang yang lainnya.

Jika kita melihat konteks budaya, sebenarnya LGBT memiliki ruang di negara kita. Sebut saja, pengakuan lima jenis gender di suku Bugis, simpanan sesama jenis (gemblak) di kalangan seniman reog ponorogo, penari rateb sadati di Aceh yang memiliki anak laki-laki sebagai simpanan dan kesenian ludruk Jawa Timur yang selalu memberikan ruang untuk waria sebagai magnet tawa. Contoh-contoh ini bukanlah semata untuk memaklumkan perilaku seksual sesama jenis, namun untuk menyadari bahwa leluhur kita dapat toleran atas eksistensi mereka.

Terkait dengan perbedaan tatanan nilai masyarakat dengan LGBT saat ini, agaknya kita butuh mengevaluasi diri kita sebelum menanam kebencian yang begitu besar terhadap mereka. Satu hal yang perlu kita ingatkan kepada diri kita adalah bahwa kita perlu berusaha memahami mereka sebelum menghujat. Kita perlu merangkul mereka sebelum mendiskriminasi. Karena jika kita berniat mengubah mereka, bagaimana mungkin perubahan itu terjadi kalau kita sudah menjauhinya atau bahkan menghinanya?

Memanusiakan LGBT

Belakangan ini rasanya banyak sekali kebencian yang mudah ditemukan di berbagai komentar dunia maya. Di era yang bebas berpendapat, mudah sekali kita menghujat dan mengumpat.

Saat kita begitu enggan mendengar istilah LGBT, sebaiknya ada proses refleksi yang perlu kita lakukan:

“Dari istilah LGBT, apa yang sebenarnya aku benci?”

“Apakah aku membenci perilaku atau membenci orangnya?”

“Apa yang kupahami mengenai LGBT?”

Dari hasil berbincang dengan beberapa teman dan juga rekan-rekan yang lebih tua, kami menemukan banyak orang yang memahami LGBT sebagai gay dan lesbian saja. Tidak sedikit juga yang mengaitkan LGBT sebagai pria homoseksual saja dan kemudian dikaitkan dengan stigma bahwa gay adalah psikopat. Atas paham itu lah, banyak yang langsung menolak konsep LGBT dan segala hal yang terkait dengannya. Pembahasan mengenai LGBT nampaknya sudah tidak memiliki ruang yang netral.

LGBT memang berbeda dengan kebanyakan dari kita. Perilaku LGBT memang dosa jika dilihat dari kacamata agama. Namun, jika kita kembali melihat mereka sebagai manusia, mereka adalah anak-anak yang pantas mengenyam pendidikan, mereka adalah rekan kerja yang kompeten di bidangnya, mereka adalah warga negara dan tetangga kita. Yang membedakan kita dan mereka adalah perilaku seksual, sesuatu yang privat dan tertutup. Sisanya mereka adalah manusia seperti kita yang ingin hidup bahagia.

LGBT adalah figur publik, LGBT adalah pelawak,  LGBT adalah tokoh politik, LGBT adalah orang beragama, LGBT juga peduli terhadap sesama, LGBT adalah pelajar, LGBT adalah tetangga kita, rekan kerja kita, keluarga kita. LGBT adalah manusia. Dan sewajarnyalah kita berbuat baik terhadap sesama manusia.

Bukan Tugas Kita untuk Menghakimi

Teman-teman LGBT sudah cukup tersiksa dengan kondisi mereka. Teman-teman waria merasa terlahir di badan yang salah. Teman gay dan lesbian sudah merasa memiliki hasrat yang salah. Teman-teman LGBT memiliki resiko bunuh diri yang jauh lebih besar dibandingkan orang-orang heteroseksual. Tidak sedikit dari mereka yang depresi dan ingin mati karena perbedaan mereka. Lalu haruskah kita menambah beban mereka? Haruskah kita menghina mereka dan merendahkan mereka.

Sudah menjadi pengetahuan kita bersama bahwa perilaku hubungan seksual sesama jenis (bahkan hubungan heteroseksual di luar pernikahan) adalah dosa dalam konteks agama. Sebagai manusia, teman-teman LGBT juga sudah sadar bahwa perilakunya adalah bagian dari dosa. Namun rasanya, kita tidak perlu mengambil posisi Tuhan yang memutuskan siapa yang berdosa dan siapa yang tidak.

LGBTQIAAP+ adalah fenomena yang kompleks. Mereka tidak memilih untuk menjadi LGBT. Setiap LGBT memiliki fase kehidupan di mana mereka ingin hidup normal. Namun kenyataannya, mereka tidak bisa. Sebagian besar dari mereka menjadi bagian dari LGBT karena murni faktor genetika. Sebagian kecil mungkin karena kekerasan seksual yang dialami ketika kecil. Biasanya mereka telah menyadari ketertarikan sesama jenis saat mereka masih berusia di bawah 8 tahun. Mereka sudah menyadari perbedaan diri mereka. Beberapa laki-laki homoseksual bahkan mengalami mimpi basah pertama mereka dengan sesama laki-laki.

LGBT adalah Manusia

Di luar segala perdebatan apakah mereka normal atau tidak, bahwa mereka tidak sesuai dengan agama, kodrat dan lainnya, mari kita kesampingkan itu sejenak dan mari anggap mereka sebagai manusia dan warga negara. LGBT adalah manusia, mereka ada di sekitar kita. Mereka adalah teman kampus kita, rekan kerja kita, atau bahkan anggota keluarga kita, hanya saja mereka belum bercerita.

Pada akhirnya, apakah LGBT salah atau benar bukanlah lagi urusan kita.

Sebagai penutup, kami dari Pijar Psikologi ingin menyampaikan bahwa kami bersikap netral terhadap isu ini. Kami hanya menawarkan berbagai kacamata untuk melihat suatu fenomena: kacamata genetika, biologis, psikologis, sosial, spiritual, budaya dan lainnya.

Tunggu jawaban kami akan pertanyaan pembaca Pijar mengenai LGBT di artikel berikutnya.

Let others know the importance of mental health !