Liputan Pijar Talks 2: 23 Kacamata Depresi

Tidak ada orang yang memilih untuk terkena depresi”, ujar Regisda Machdy Fuadhy, S.Psi., M.Sc, pembicara Pijar Talks kedua. Seminar bertajuk “23 Kacamata Depresi” ini diselenggarakan di Sinergi Cowork & Networking Space, Yogyakarta pada 7 April 2018. Regis sebagai pembicara membahas depresi dari berbagai sudut pandang. Regis mengajak peserta seminar untuk memahami bahwa depresi adalah fenomena yang kompleks dan dilatarbelakangi oleh banyak hal.

Regis menjelaskan bahwa depresi adalah gangguan mental yang kompleks, interaksi berbagai elemen seperti struktur otak, genetika, hormon dan juga faktor luar seperti pola asuh, pengalaman di-bully dan toxic relationship baik dengan pasangan atau rekan kerja.

Lebih lanjut, Regis menjelaskan bahwa depresi juga dipengaruhi oleh cuaca dan makanan sebagai faktor eksternal. Cuaca yang memengaruhi mood dapat dilihat dari fenomena winter blues ketika orang-orang tinggal di negara yang memiliki musim salju. Nuansa gloomy dan ketiadaan matahari yang mengekstrak vitamin D, berpengaruh terhadap mood seseorang. Layaknya cuaca, makanan juga berpengaruh besar terhadap depresi. Makanan yang overcooked dan minim nutrisi membuat probiotik di dalam usus tidak mendapatkan zat yang dibutuhkan untuk memproduksi serotonin, hormon yang membuat kita senang. Maka dari itu, orang-orang yang mengalami depresi disarankan untuk melihat apa-apa yang mereka makan dan mulai beralih ke gaya hidup sehat.

Regis juga menambahkan bahwa pola hidup modern yang serba cepat dan menghujani kita dengan ratusan stressor (penyebab stres) setiap harinya juga memuat semakin banyak orang rentan dengan depresi. Berbeda dengan zaman dahulu, misal ketika kita masih hidup sebagai manusia nomaden, stressor manusia hanyalah binatang buas dan cuaca ekstrem.

Regis menegaskan bahwa yang terkena depresi semakin banyak, namun yang mencari pertolongan rasanya tidak bertambah. Banyak orang takut dengan stigma bahwa orang depresi adalah orang yang lemah, tidak kuat menghadapi cobaan hidup dan jauh dari Tuhan. Akhirnya mereka bungkam, diam dan tak mencari pertolongan. Padahal, depresi juga mematikan sama seperti halnya penyakit fisik.

Sudah saatnya kita memahami depresi lebih dalam. Mengenali gejalanya agar kita mampu menolong orang terdekat yang membutuhkan” tambahnya ketika diwawancarai di akhir acara.

Menurut respons online yang diisi secara anonim, acara Pijar Psikologi kali ini sangat bermanfaat dan merasuk ke hati. Salah satu responden bahkan mengatakan bahwa “saya semakin tergerak untuk mengadvokasikan kesehatan mental dan menolong teman saya”.