Membingkai Patah Hati dengan Realita yang Positif

Bagi siapapun yang pernah mengalami patah hati, tentu sangat akrab dengan berbagai gejolak emosi dalam proses panjang yang sangat emosional untuk bisa menjalani kehidupan kembali. Namun apabila kita lihat lebih dalam, patah hati tidak hanya menjadi sebuah “kegagalan” dalam membangun hubungan. Lebih dari itu, patah hati adalah suatu proses untuk belajar kembali memahami diri sendiri. Bagaimana caranya memahami diri sendiri melalui patah hati?

***

Patah hati seringkali membuat seseorang tenggelam dalam amarah, rasa kecewa, sedih, rindu, perasaan bersalah dan tidak terima. Seseorang juga bisa merasakan stres fisik atau emosional, yang mengarah ke sensasi-sensasi fisik seperti nyeri dada, sesak napas, hingga gejala shock jantung. Hal ini biasa disebut dengan Takotsubo Cardiomyopathy (TCM) yang juga dikenal dengan sindrom patah hati.

Stres fisik dan emosi tersebut menunjukkan bahwa dampak berakhirnya sebuah hubungan romantis bisa sangat serius pada seseorang. Begitu dalamnya dampak patah hati tersebut, membuat seseorang bisa merasa tidak berdaya dan tidak kuasa atas dirinya sendiri. Hal ini terjadi karena hubungan romantis akan membentuk sebuah ikatan yang bisa memengaruhi kehidupan seseorang. Ketika ikatan itu putus maka, seseorang akan mengalami pengalaman yang menyakitkan sebagai akibat dari hilangnya ikatan yang semula ada. Maka, ketika mengalami patah hati kita cenderung merasakan rasa sakit karena hilangnya ikatan tersebut menimbulkan tumpukan emosi yang terkadang tidak mampu kita atasi. Selanjutnya, rasa sakit itu akan selalu ada apabila kita tidak merawat dan menyembuhkannya.

Baca juga: Mengobati Luka Batin dengan Memaafkan Diri Sendiri di sini.

Menyelesaikan Rasa “Sakit” Saat Mengalami Patah Hati

Patah hati terkadang membuat kita dipenuhi dengan perasaan-perasaan dan emosi negatif yang akhirnya mengaburkan logika dan tugas kita yaitu menyembuhkan rasa sakit akibat luka. Kita cenderung sibuk tenggelam dalam gejolak emosi sehingga membiarkan luka semakin terbuka. Lalu bagaimana caranya menyembuhkan rasa sakit akibat patah hati ini?

Ketika seseorang mengalami kesedihan akibat patah hati maka, setidaknya ia akan mengalami 7 tahapan sebelum sampai pada penerimaan hidup yang sejati. Penerimaan yang akan membawa kita pada sebuah gerbang perjalanan hidup yang berbeda dengan versi terbaru dari diri sendiri. Versi diri yang sudah selesai dengan rasa sakit dari patah hati. Alih-alih membawa rasa sakit itu bersama dengan kita, kita justru melepas rasa sakit itu dengan berproses dan kembali pada diri sendiri. Sulit memang tapi, bukan tidak mungkin karena sebuah studi menyebutkan bahwa patah hati sangat mungkin untuk disembuhkan. Salah satunya caranya, yaitu dengan membingkai patah hati dengan realita positif. Realita-realita yang berfokus pada diri sendiri, kembali mengenali, menyelami, memahami, dan mencintai diri kita. Ketujuh tahapan tersebut adalah berputus asa (desperate), menolak keadaan (denial), berharap merujuk (bargaining), kambuh (relapse), marah (anger), penerimaan awal (initial acceptance), dan pengalihan harapan (redirected hope).

Tahapan-tahapan tersebut tentu membutuhkan proses dimana masing-masing individu memiliki prosesnya masing-masing. Perjalanan ini adalah perjalanan yang sangat personal. Apabila seseorang mampu melewati pengalaman menyakitkan dari patah hati, maka berakhirnya hubungan cinta bisa menjadi bagian dari pendewasaan diri. Berikut ini adalah realita-realita positif yang bisa membantu kita untuk bisa mencapai penerimaan diri.

  1. Tuhan Ingin Kita Mempelajari Sesuatu   

“When you get what you want, that’s God direction. When you don’t get what you want, that’s God protection.”

Kita tentu akrab dengan kalimat tersebut. Bahwa apapun yang tidak digariskan menjadi milik kita maka, nantinya akan ada jalan untuk saling menjauh. Namun apabila hal itu telah digariskan menjadi milik kita, maka akan banyak cara untuk mewujudkannya. Apabila kita telah berproses hingga ke titik penerimaan, kita akan sampai pada keyakinan bahwa Tuhan pasti punya maksud dan tujuan tertentu yang perlu kita pelajari. Mungkin saja hal itu tentang bagaimana caranya memaafkan, menerima, bersabar, ikhlas, dan berdamai dengan hidup. Karena, pada akhirnya hal yang bisa menguatkan kita adalah hubungan dengan Sang Pencipta. Keyakinan dan kedekatan hubungan dengan Tuhan akan memperkuat pikiran seseorang.

  1. Mengenali Diri dan Menentukan Tujuan Hidup

Kehidupan berpasangan sering membuat seseorang abai terhadap perasaan dan keinginanya sehingga berjarak dan asing dengan diri sendiri. Padahal, diri ini butuh diperhatikan agar kita lebih memahami diri sendiri sehingga mampu menjadikan diri sebagai rumah yang nyaman bagi kita untuk kembali. Patah hati bisa menjadi momentum untuk mengenali kembali diri kita sendiri. Termasuk mencoba menganalisa apa yang menjadi penyebab dari patah hati itu sendiri. Berintropeksi dan selalu memperbaiki diri ke arah yang lebih positif sehingga fokus dan energi kita tertuju pada proses bertumbuh. Bukan berandai-andai ataupun menyalahkan diri dan pihak tertentu, tetapi momentum ini bisa dijadikan pembelajaran untuk semakin menjadi pribadi yang tangguh dan mencintai sesama dengan tulus.

Dengan begitu, kita akan lebih mudah untuk kembali menata hidup. Kita akan semakin jelas dalam memandang sesuatu dan menentukan tujuan hidup yang mungkin kabur semasa menjalin hubungan romantis. Hal ini karena dalam menjalin hubungan romantis kita sering melewatkan waktu untuk mengejar impian dan cita-cita. Putusnya hubungan cinta bisa menjadi titik awal untuk kembali fokus pada diri sendiri. Fokus ke dalam diri, memenuhi tangki cinta diri untuk kemudian mewujudkan tujuan dan cita-cita dalam hidup serta menyebarkan manfaat keluarga, sesama, dan semesta.

Baca juga: Kita Adalah Korban Kehidupan, tapi Mau Sampai Kapan? di sini.

  1. Turning Point untuk Masa Depan

Patah hati adalah pengalaman hidup yang bisa menjadi bekal berharga bagi masa depan. Bagaimana seseorang menyikapi patah hati, akan menentukan bagaimana ia melangkah dalam fase hidup selanjutnya.  Patah hati bisa kita menjadi turning point apabila kita sudah selesai dengan rasa sakit dan muatan emosi yang dibawanya. Menyelesaikan rasa sakit itu semata-mata adalah tugas kita bukan orang lain. Dengan selesainya rasa sakit tersebut, maka kita sampai pada titik awal dari kehidupan kita yang baru dengan versi diri yang baru. Versi diri yang sudah bertumbuh menjadi pribadi yang tangguh.

Baca juga: Perempuan dan Patah Hati di sini.

***

Kita memang tidak bisa mengontrol apa yang akan terjadi pada diri kita, seperti pertemuan kita dengan seseorang yang kemudian menjalin hubungan romantis dengan kita. Namun, ketika hubungan tersebut berakhir karena suatu hal, maka sudah saatnya bagi kita untuk kembali ke dalam diri. Kembali menyelami, mengenali, mengasihi, mencintai dan merawat diri sendiri. Sudah saatnya memberikan asupan cinta pada diri yang terluka karena patah hati. Sudah saatnya kita menyembuhkan luka itu dengan kembali memeluk diri sendiri dan berkata, “Tidak apa-apa kamu akan sembuh”.

Baca juga: Self-Healing: Sebuah Perjalanan Menyembuhkan Diri di sini.


Artikel ini adalah Sumbang Tulisan dari Pratiwi Diranti. Pratiwi adalah seorang lulusan psikologi Universitas Gadjah Mada. Ia ingin fokus dalam menyuarakan pentingnya kesadaran terhadap kesehatan mental di Indonesia. Pratiwi dapat dihubungi melalui [email protected] 


Sumber gambar : www.unsplash.com

Let others know the importance of mental health !

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*