Mengapa Berhenti Merokok itu Sulit?

Ketika mengisap rokok, ada rasa yang tidak bisa dijelaskan dan sulit dipahami oleh bukan perokok.

Berbagai macam upaya dilakukan untuk mengedukasi masyarakat mengenai rokok. Informasi terkait zat-zat yang terkandung dalam rokok serta pengaruhnya terhadap tubuh manusia pun kerap dilakukan. Upaya ini seolah-olah menjelaskan dan menegaskan bahwa rokok memang berbahaya bagi kesehatan manusia. Akan tetapi, memisahkan bahkan menghilangkan rokok seutuhnya dalam kehidupan manusia, bukanlah hal yang mudah.

Pola Perkembangan Kebiasaan Merokok

Titik awal seseorang mulai mencoba rokok sangat bervariasi. Ada yang mencoba saat SD, SMP, SMA, kuliah, atau memasuki dunia kerja. Memang tidak semua yang mencoba rokok saat itu, kemudian menjadi kebiasaan merokok sampai sekarang.

Mengutip dari buku Health Psychology: Biopsychosocial Interaction yang ditulis oleh Sarafino dan Smith, ada sebuah pola yang berkembang sampai akhirnya merokok menjadi sebuah kebiasaan. Pada awalnya, dalam sebulan hanya mengisap rokok beberapa kali saja. Kemudian, menjadi lebih sering meski belum setiap hari mengisapnya. Mencoba sehari hanya sebatang, dua batang, setengah bungkus habis, sampai akhirnya intensitas merokok itu terus meningkat. Meningkatnya perilaku merokok ini membuat rokok menjadi sebuah kebiasaan dalam hidup manusia.

Mengapa Orang Mengisap Rokok?

Ketika mencoba rokok pertama kali, respons yang umumnya dialami adalah batuk, pusing, atau mual. Meski mengalami hal tidak menyenangkan, itu bukanlah hasil yang dicari dalam mengisap rokok. Perlahan, perokok mulai merasa enak saat mengisap rokok. Rasa enak ini pun menjadi alasan bagi perokok untuk terus mengisap rokok dalam hidupnya.

Terdapat beberapa penyebab yang memengaruhi perilaku merokok seseorang. Pertama, pengaruh psikososial yang mendorong remaja untuk merokok. Pengaruh psikososial ini juga memberikan gambaran bahwa mengisap rokok adalah hal yang bermanfaat dan memiliko risiko rendah. Gambaran ini berhasil membuat seseorang untuk terus merokok.

Kedua, lingkungan sosial turut andil dalam membentuk sikap, keyakinan, dan keinginan untuk mengisap rokok. Ketika sering berinteraksi dengan orang-orang yang suka merokok, maka ada kemungkinan untuk ikut merokok. Muncul anggapan bahwa rokok sebagai media untuk mudah beradaptasi ataupun merasa  untuk lebih akrab saat berinteraksi dengan mereka.

Perokok cenderung menikmati rokok ketika bersama orang-orang yang juga mengisap rokok. Dengan bersama mereka, perokok seakan-akan mendapat dukungan untuk terus merokok dalam hidupnya.

Ketiga, kebiasaan merokok dalam keluarga. Memiliki orangtua atau anggota keluarga lain sebagai perokok, memungkinkan anak untuk turut menjadi perokok nantinya. Rasa penasaran serta anggapan seolah-olah merokok bukan hal yang dilarang untuk dilakukan, dapat mendorong anak untuk mencoba rokok nantinya.

Keempat, melihat perilaku merokok dalam film atau tayangan televisi. Apalagi jika perokok tersebut adalah artis kesukaan. Setelah melihat itu, muncul keinginan untuk meniru perilaku merokok seperti yang dicontohkan oleh pemain film tersebut.

Kelima, karakteristik pribadi juga turut berpengaruh terhadap perilaku merokok. Karakteristik yang dimaksud adalah orang dengan tingkat percaya diri yang rendah, khawatir dengan berat badan, suka memberontak, suka mencari sensasi, atau merasa dikucilkan. Ketika orang yang berkarakteristik seperti itu melihat rokok sebagai solusi, maka kemungkinan untuk merokok pun meningkat.

Keenam, keyakinan mengenai perilaku merokok itu sendiri. Perokok meyakini dengan merokok dapat memperbesar image diri. Selain itu, membuat diri terlihat lebih dewasa, gagah, mempesona, dan menyenangkan.

Pengaruh Nikotin terhadap Tubuh Seorang Perokok

Kandungan nikotin pada rokok diketahui memiliki pengaruh adiktif bagi perokok itu sendiri. Sebuah penelitian menyatakan, tidak perlu menunggu berbulan-bulan bahkan tahun untuk melihat pengaruh nikotin pada tubuh. Beberapa perokok pemula, yang termasuk jarang mengisap rokok, bisa mengalami gejala ketergantungan, seperti mendambakan rokok itu sendiri.

Ada satu penjelasan penting mengenai nikotin yang dikenal sebagai Nicotine Regulation Model. Model ini mengemukakan, seorang perokok terus mengisap rokok untuk mempertahankan kadar nikotin dalam tubuhnya dan menghindari gejala dari hilangnya nikotin itu sendiri.

Dampak Mengisap Rokok

Berbagai penelitian tentang dampak merokok terhadap tubuh manusia telah banyak dilakukan. Hasil penelitian mengenai pengaruh rokok bersamaan dengan hal lain pun ikut bermunculan. Ketika perilaku merokok berhubungan dengan kolestrol dalam tubuh, maka berisiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung. Stres dan rokok juga seringkali dikaitkan. Pada laki-laki, kandungan nikotin dalam rokok dapat meningkatkan denyut jantung sebagai reaksi terhadap stres. Sementara pada perempuan, mengisap rokok dapat memperlambat denyut jantung dan meningkatkan tekanan darah sebagai respons terhadap stres.

Selain itu, penelitian menyatakan, merokok mengurangi usia harapan hidup manusia beberapa tahun dan menganggu kualitas hidup di masa tua kelak. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh rokok juga terus meningkat, seperti kanker hati atau kanker paru-paru. Merokok juga dapat melemahkan fungsi imun tubuh manusia.

Terlepas dari dampak buruk sebuah rokok, perokok meyakini ada dampak baik yang dirasakan ketika mengisap rokok. Mereka cenderung mencari rokok ketika merasa stres, cemas, atau menghadapi masalah yang terjadi. Bagi sebagian perokok, rokok juga diyakini sebagai media yang memudahkan produktivitas dalam bekerja. Baik dalam arti mencari ide, inspirasi, atau memperlancar proses terbentuknya suatu karya.

Dilema: Bertahan atau Berhenti Merokok?

Perilaku mengisap rokok adalah suatu fenomena yang unik. Fenomena unik karena mungkin hampir semua orang mengetahui bahayanya, bahkan perokok itu sendiri. Akan tetapi, mengapa perokok cenderung ingin tetap bertahan? Apabila ingin berhenti, terasa begitu sulit bagi mereka. Ketika mencoba berhenti, tiba masa untuk kembali mengisap rokok, sampai akhirnya belum berhasil untuk berhenti.

Menyadur dari buku Health Psychology oleh Shelley Taylor, ada beberapa hal yang melatarbelakangi kesulitan untuk berhenti mengisap rokok. Hal tersebut meliputi:

  • Adiksi terhadap rokok yang sulit dihindari. Terlebih lagi, perilaku merokok seringkali dihubungkan dengan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan. Sebagai contoh, bercengkerama dengan teman, berdiskusi, atau bermain musik.
  • Pola merokok cenderung individual sehingga intervensi kelompok untuk mengubah perilaku merokok itu menjadi sulit dilakukan. Hal ini dikarenakan tidak mudah untuk memahami dan menghadapi motif yang mendasari seseorang untuk merokok.
  • Berhenti mengisap rokok menyebabkan gejala yang tidak menyenangkan dalam jangka waktu pendek, seperti mual, sakit kepala, sakit perut, lelah, cemas, insomnia, ataupun mudah tersinggung.
  • Mengisap rokok diyakini dapat membuat suasana hati meningkat, menjaga diri dari kecemasan, rasa tersinggung, serta kesal.
  • Mengisap rokok dapat menjaga berat badan (menurunkan berat badan), terutama bagi perokok remaja perempuan atau dewasa wanita.

Selain pernyataan di atas, ada kisah yang berkontradiksi dengan pengaruh buruk terhadap rokok secara medis. Sebagai contoh, ada seorang perokok yang mendapat pernyataan bahwa paru-paru yang dimiliki sudah lemah oleh dokter. Orang tersebut diminta untuk berhenti mengisap rokok, namun ia malah merokok dan meyakini dirinya akan tetap baik-baik saja. Menariknya sampai sekarang orang itu masih hidup dan baik-baik saja. Seolah-olah tidak pernah menerima vonis itu dari dokter.

Adanya kisah seperti itu memberi pandangan bahwa ada hal lain yang memengaruhi keadaan fisik manusia, yaitu keyakinan dan sesuatu yang bersifat magis. Hal-hal seperti ini sulit dipahami secara akal dan empiris, namun memang suatu hal yang nyata terjadi di kehidupan, khususnya Indonesia.

Sikap Perokok dan Nonperokok

Pandangan terhadap rokok sebagai hal yang tidak baik bagi kesehatan bukanlah salah, tetapi tidak berarti nonperokok memandang perokok sebagai sebuah kesalahan besar. Salah satu perokok yang ditemui penulis menyatakan, lebih baik menyampaikan secara asertif dan secara personal, bila merasa tidak nyaman daripada memberikan tanda nonverbal yang membuat perokok merasa tidak nyaman, bahkan tersinggung.

Baik perokok maupun nonperokok, memiliki kondisi nyaman masing-masing. Perokok berhak untuk mengisap rokok, nonperokok berhak untuk menghirup udara bebas asap rokok. Perbedaan kondisi ini seringkali menimbulkan keadaan tidak nyaman bagi kedua belah pihak. Tanpa disadari, mungkin memang nonperokok akan memberikan tanda nonverbal sebagai bentuk tidak suka dan kesal. Di sisi lain, mungkin perokok juga tidak peka melihat keadaan yang sesuai untuk merokok saat itu juga.

Menyikapi hal tersebut, kedua belah pihak diharapkan dapat saling menghargai dan memahami keadaan masing-masing. Untuk perokok diharapkan memperhatikan situasi terlebih dahulu. Dengan memperhatikan situasi, ia dapat melihat apakah memang itu area khusus rokok atau bukan. Apabila bukan, apakah memang dipenuhi oleh orang lain yang sedang mengisap rokok? Apakah tidak akan menganggu kenyamanan orang lain yang tidak merokok?

Sementara bagi nonperokok, bisa mencoba untuk menegur atau menyampaikan ketidaknyamanan yang dirasakan terhadap perokok di saat yang tepat. Salah satunya bisa disampaikan setelah perokok sudah selesai merokok (ini dilakukan ketika kamu masih bisa mentolerasi ketidaknyamananmu dan menghargai rokok yang telah diisap oleh perokok tersebut). Akan tetapi, bila memang kamu adalah orang yang tidak kuat dengan asap rokok (seperti mudah merasa sesak), kamu bisa menyampaikan pada saat itu juga, secara personal, atau memilih untuk pergi menjauh dari asap tersebut.

“Jika memang masih sulit untuk berhenti merokok, setidaknya jadilah perokok yang bijak dengan memperhatikan situasi sekitar. Di sisi lain, menegur perokok dengan cara yang baik juga mampu membuat mereka sadar diri”

 

Let others know the importance of mental health !
Total
4
Shares