Mengenal Lebih Dekat Gejala Dini Autisme

Bagi orang tua, setiap tahapan dari perkembangan anak adalah momen-momen yang berharga dan sangat dinantikan. Dalam setiap tahapannya, orang tua bisa membekali diri dengan banyak informasi mengenai perkembangan perilaku anak baik secara fisik maupun mental. Apabila anak tidak menunjukkan perilaku yang semestinya, orang tua perlu untuk waspada. Hal ini merupakan langkah awal kita sebagai orang tua dalam menyadari berbagai gangguan perkembangan anak. Termasuk salah satunya adalah gejala autisme. Karena semakin cepat kita mengetahui gangguan tersebut maka, semakin cepat pula kita bisa menentukan penanganan yang tepat bagi anak kita. Lalu, bagaimana cara untuk mengetahui gejala autisme sejak dini?

***

Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA) adalah gangguan perkembangan yang bersifat pervasif atau menetap. Hingga saat ini, gangguan autisme belum ditemukan penyebab pasti. Namun, para pakar sepakat bahwa gangguan autisme terjadi karena adanya kelainan pada struktur dan fungsi otak. Selain itu, sebenarnya terdapat beberapa faktor risiko lain yang dapat meningkatkan potensi seseorang untuk mengalami gangguan spektrum autisme. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah faktor genetika, faktor lingkungan, dan faktor neurologis.

Faktor genetika berkaitan dengan suatu gen khusus yang diturunkan atau diwariskan oleh orang tua. Anak yang lahir dari keluarga yang memiliki riwayat gangguan autisme memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan tersebut. Faktor lingkungan seringkali terkait dengan masa-masa kehamilan sang ibu, terutama faktor mengkonsumsi alkohol ataupun obat-obatan keras. Selanjutnya, faktor neurologis berupa gangguan koneksi antara otak bagian korteks dengan sistem limbik dan amygdala (bagian yang bertanggung jawab atas respon emosi). Kelainan inilah yang menjadi penyebab anak-anak dengan spektrum autisme memiliki respon emosi yang sangat ekstrem seperti, berteriak, tantrum (kemarahan yang berlebihan), dan juga tertawa pada situasi yang tidak sesuai.

Bagaimana Mengetahui Gejala Autisme Sejak Usia Dini?

Meskipun ada banyak faktor yang bisa memengaruhi perkembangan seorang anak mengalami gangguan spektrum autisme, tapi gejala dari gangguan ini sebenarnya sudah bisa diamati sebelum anak berusia tiga tahun. Maka dari itu, orang tua bisa meningkatkan kepekaan dalam menyadari gejala-gejala atau tanda-tanda anak mengalami gangguan autisme. Adapun tiga karakteristik utama dari anak dengan autisme yang mudah ditemui adalah mereka cenderung kesulitan dalam melakukan interaksi sosial, keterbatasan dalam berkomunikasi, dan kecenderungan untuk melakukan perilaku repetitif (berulang-ulang). Berikut ini adalah penjelasan lebih dalam mengenai tiga karakteristik utama yang sekaligus menjadi tiga gejala yang bisa dikenali oleh orang tua lebih awal.

  1. Kesulitan dalam Melakukan Interaksi Sosial

Untuk melihat kecenderungan gangguan autisme pada anak, orang tua bisa mulai mengamati perkembangan mereka dalam hal interaksi sosial. Anak dengan autisme yang berusia dua hingga tiga bulan tidak akan responsif terhadap suara, kontak mata, dan senyum orang lain. Selanjutnya, pada usia delapan hingga sepuluh bulan, mereka akan susah merespon panggilan namanya dan kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain. Kemudian saat berusia lima tahun, mereka akan memilih untuk bermain sendirian. Hal ini disebabkan ketidakmampuan mereka dalam memahami pemikiran dan perasaan orang lain yang berbeda dengan dirinya.

  1. Keterbatasan dalam Berkomunikasi

Selain menunjukkan perilaku-perilaku tertentu dalam interaksi sosial, lambatnya perkembangan bahasa dapat mengindikasikan kecenderungan anak mengalami spektrum autisme.  Pada perkembangan yang normal, anak-anak mulai mengucapkan kata pada usia satu tahun. Pada beberapa kasus, bayi dengan autisme akan mulai mengeluarkan suara pada bulan awal perkembangan, lalu kehilangan kemampuan tersebut seiring bertambahnya usia. Kesulitan dalam berkomunikasi secara verbal ini biasanya dapat ditangani melalui terapi dengan tenaga profesional.

Bagi mereka dengan gangguan autisme, masalah dalam komunikasi lainnya adalah bahwa setiap perkataan memiliki arti yang literal. Tidak ada kata kiasan atau maksud lain dari sebuah kalimat. Misalnya saja, ketika mereka disuruh untuk “angkat kaki”, mereka akan mengartikannya sebagai perintah untuk mengangkat kaki mereka, bukan kiasan yang berarti menyuruh mereka untuk pergi.

  1. Perilaku yang Repetitif

Ketika anak menunjukkan kebiasaan melakukan perilaku repetitif atau mengulang-ulang sesuatu, orang tua sebaiknya meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan adanya gangguan autisme. Perilaku tersebut dapat berupa bertepuk tangan, meloncat-loncat, menyusun objek, dan mengulang suara-suara, kata, atau frase tertentu.  Perilaku ini bisa dikarenakan adanya obsesi berlebihan pada suatu objek ataupun pada pilihan mainan yang terbatas. Biasanya manifestasi dari obsesi tersebut dapat ditunjukkan melalui kedalaman wawasan atau ingatan yang mereka miliki tentang objek tersebut. Misalnya saja, seorang anak dengan gangguan autisme yang menyukai pesawat terbang, maka ia akan mengetahui beragam model, tipe, dan fakta-fakta tertentu mengenai hal tersebut.

Umumnya, perilaku ini diikuti dengan konsistensi pada lingkungan sekitar dan jadwal kegiatan sehari-hari. Mereka biasanya memiliki obsesi untuk mengatur benda-benda miliknya dalam urutan tertentu. Mereka juga bergantung pada rutinitas yang sama setiap hari. Perubahan lingkungan dan perubahan jadwal rutinitas mereka secara tiba-tiba dapat menimbulkan perasaan frustrasi. Perasaan frustrasi tersebut biasanya dimunculkan melalui tindakan-tindakan yang berbahaya dan melukai diri sendiri, seperti memukul-mukulkan kepala ke arah dinding.

Berdasarkan hal tersebut, karakteristik yang mendominasi seorang anak dengan spektrum autisme sangat mungkin bervariasi. Pada beberapa kasus, gangguan komunikasi dan interaksi mungkin menjadi karakteristik yang lebih dominan. Sementara pada kasus lainnya, anak memiliki kemampuan komunikasi yang baik, tetapi memiliki kecenderungan berperilaku repetitif yang cukup berat. Lebih dari itu, kepekaan dari orang tua dalam mengenali gejala-gejala atau karakteristik gangguan autisme sejak dini merupakan hal yang terpenting dalam menentukan intervensi yang tepat bagi anak.

***

Menjadi orang tua adalah berkah sekaligus tanggung jawab besar yang dititipkan Tuhan pada kita. Tanggung jawab tersebut meliputi pemahaman, keterbukaan serta kepekaan kita terhadap kesehatan baik secara fisik maupun mental. Maka dari itu, perlu bagi orang tua membekali diri dengan isu-isu dalam perkembangan anak termasuk gangguan spektrum autisme. Karena apabila kita mengetahui gejala tersebut sejak dini, maka semakin cepat intervensi yang bisa dilakukan bagi perkembangan anak ke depannya. Mari berikan anak kita versi terbaik dari diri kita dalam menjadi orang tua, termasuk wawasan kita mengenai gangguan spektrum autisme yang masih sering dianggap sebagai hal yang negatif, tabu, memalukan dan atau jauh dari kata normal. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang memberikan kualitas diri yang baik melalui pemahaman dan kepekaan terhadap gangguan spektrum autisme sejak dini.


Artikel ini ditulis oleh Azka Nafirul Hasna.


Sumber gambar : www.unsplash.com

Let others know the importance of mental health !
Total
8
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*