Menjadi Orang Tua di Dunia Digital

“Nanti kalau sudah pulang, WhatsApp Mami ya Nak….”

“Ayah, udah top-up-in Go-Pay belum?”

“Ibu, ini nilai-nilainya sudah bisa dicek di website sekolah.”

Percakapan-percakapan tersebut mulai menggantikan aktivitas dan relasi orangtua-anak yang dilakukan di era terdahulu. Dulu, ada momen anak yang membantu ibunya menyiapkan makan malam di dapur. Sekarang, hanya dengan beberapa kali sentuhan di layar gadget, pesanan makanan sudah tiba dalam hitungan menit. Momen orangtua yang menasehati anaknya di ruang keluarga pun telah tergantikan dengan komunikasi melalui fitur percakapan di gadget masing-masing.

Relasi Orang Tua-Anak di Era Digital

Perlu disadari bahwa dunia digital telah merambah di hampir seluruh aspek kehidupan kita. Seolah-olah segala sesuatu ada dalam genggaman jari. Oleh karena itu, perlu sikap yang bijak dalam menghadapinya. Memang, tidak ada yang salah dengan kemajuan zaman. Segala perkembangan teknologi sungguh membantu manusia di berbagai segi kehidupannya. Hanya saja, ada yang perlu kita cermati pada relasi orangtua-anak belakangan ini.

Dalam psikologi, diketahui bahwa masa bayi (usia 0-2 tahun) hingga masa remaja (usia 13-18 tahun) merupakan periode yang krusial dalam perkembangan psikososial seorang individu. Pada masa-masa ini, seorang individu masih berada di bawah tanggungjawab orangtuanya. Sehingga, pada masa bayi hingga remaja,  relasi dan interaksi dengan orangtua akan sangat menentukan tumbuh-kembang dari individu tersebut. Misalnya, pada masa bayi, seorang anak akan mulai memiliki rasa percaya dasar (basic trust) jika ibu atau pengasuh utama mereka selalu menyediakan makanan secara teratur. Hal ini terjadi karena dalam proses pemberian makanan, bayi dapat mendengarkan suara ibu atau pengasuhnya secara konsisten.

Seiring berjalannya waktu, relasi orangtua-anak terus berkembang dan semakin bervariasi. Salah satu waktu berkualitas yang sering disepelekan adalah waktu bermain dengan anak. Dalam aktivitas-aktivitas bermain dengan anak,  orangtua dapat membekali anak dengan berbagai macam hal yang diperlukan agar dapat sukses dalam proses tumbuh-kembangnya.

Pada masa kanak-kanak awal (usia 2-3 tahun), misalnya, anak-anak sedang berada pada periode pengembangan rasa malu dan ragu-ragu (shame and doubt). Maka, mereka perlu difasilitasi untuk mengekspresikan diri dengan baik sehingga tidak tumbuh menjadi anak-anak yang tidak percaya diri.

Pada masa ini, penting bagi orangtua untuk menemani anak dalam berbagai aktivitas, termasuk dalam bermain. Hal ini dilakukan agar orangtua dapat memastikan anak-anak tetap aman selama beraktivitas dan mengekspresikan diri. Kendati demikian, orangtua, sadar ataupun tidak, seringkali menyepelekan waktu berkualitas untuk berinteraksi dengan anak. Alasannya beragam, sibuk bekerja, terlalu banyak anak, dan lain sebagainya. Padahal, dampaknya bisa jadi sangat serius.

Kualitas Hubungan dengan Orang Tua = Modal Menuju Kedewasaan

Baru-baru ini, seorang praktisi sekaligus mentor mindfulness, Adjie Santosaputro membagikan sebuah kisah melalui akun media sosialnya. Ia menceritakan bagaimana kualitas hubungannya yang buruk dengan ayahnya di masa kecil ternyata membuatnya kesulitan untuk menjadi seorang laki-laki dewasa yang baik. Ayahnya yang tidak memperlakukan ibunya dengan baik, membuatnya mengalami kebingungan dalam prosesnya menjadi figur orang dewasa, khususnya laki-laki. Ia bahkan kadang takut akan memiliki relasi ayah-anak yang buruk dengan anak-anaknya kelak.

Oleh karena itu, selaku orangtua, kita perlu untuk mengkaji ulang kualitas hubungan dengan buah hati kita. Daripada menghabiskan waktu di depan layar kaca, alangkah baiknya kita menyempatkan diri untuk bermain dengan mereka. Bukankah melihat anak-anak tertawa adalah obat yang mujarab bagi stress kita? Lagipula, waktu terus bergulir dan tidak akan kembali. Suatu hari, mereka harus hidup dalam keluarganya masing-masing, dan kita terlalu renta untuk bermain dengan mereka. Belum lagi, kini berbagai teknologi digital mulai menggantikan peran kita sebagai orangtua.

Yuk, Mulai Aware!

Tak jarang, anak-anak SD saat ini sudah memiliki akun Instagram pribadi. Padahal, menurut peraturan resmi, hanya individu berusia 13 tahun ke atas yang boleh memiliki akun Instagram pribadi. Anak-anak lebih sering curhat dengan menggunggah status di media sosial daripada bercerita kepada orangtuanya. Berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa penggunaan media digital yang berlebihan dapat memberikan berbagai dampak buruk, misalnya obesitas pada anak.

Ayo para orangtua, mari kita menjadi orangtua yang melek digital parenting dengan memantau anak-anak kita dalam berselancar di dunia maya, sekaligus tidak menomorduakan waktu bermain dengan anak. Permainan dengan anak tidak harus mahal. Kita bisa mengenalkan kepada mereka permainan-permainan masa kecil kita yang mulai terlupakan, misalnya gobak sodor, petak umpet, dan lain sebagainya. Mari dukung generasi muda Indonesia tumbuh sebagai anak-anak GENIUS (Gesit, Empati, Berani, Unggul, dan Sehat).

Artikel ini adalah sumbangan tulisan dari Tiffany Chandra atau lebih dikenal dengan Archangela Tiffany. Saat ini, Tiffany tengah berjuang untuk menjadi seorang Psikolog dengan menempuh Magister Profesi Psikologi Pendidikan di Universitas Indonesia. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa, Tiffany juga menulis puisi dan menjadi relawan ataupun freelancer di berbagai kegiatan sosial dan pendidikan.

Let others know the importance of mental health !
Total
50
Shares