OCD, Apa sih Sebenarnya?

“OCD-Aku akan mengajak setiap orang untuk menjalani terapi. Itu tidak akan membuatmu menjadi seorang yang lemah atau aneh. Sudah bertahun-tahun aku tidak melakukannya, dan aku merindukannya.” – Daniel Radcliffe

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata OCD atau Obsessive Compulsive Disorder (Gangguan Obsesif Kompulsif)? Bisa jadi Anda langsung berpikir tentang seseorang yang maniak kebersihan, atau seseorang yang sering mencuci tangan, atau seseorang yang selalu mengerjakan suatu aktivitas berulang-ulang. Sebenarnya, apa sih OCD itu?

Yang Dirasakan Penderita OCD

Bayangkan ketika otak Anda sedang memikirkan suatu hal tertentu. Hal tersebut terus berputar di pikiran Anda, berulang-ulang. Sekeras apapun usaha dilakukan, Anda tetap tidak bisa menyingkirkannya meskipun ingin. Pikiran tersebut bagaikan air terjun yang senantiasa mengalir dan sulit dihentikan. Akibatnya, Anda pun mulai merasa cemas. Rasa cemas sendiri merupakan sebuah peringatan dari sistem otak bahwa Anda sedang berada dalam bahaya dan ini mendorong Anda untuk melakukan sesuatu. Di sisi lain, Anda tahu persis bahwa hal yang Anda pikirkan itu bukanlah suatu ancaman. Akan tetapi, tetap saja, rasanya sulit untuk tidak mencemaskan hal itu1.

Inilah yang dirasakan oleh orang-orang yang mengidap OCD. Apabila Anda menderita OCD, maka otak Anda akan senantiasa ‘berbohong’. Ia mengatakan bahwa ada bahaya yang mengancam, padahal tidak ada. Akibatnya, Anda akan mengalami rasa cemas yang tidak berujung1.

Jadi, Apakah OCD Itu?

OCD (Obsessive Compulsive Disorder—Gangguan Obsesif Kompulsif) adalah suatu gangguan yang membuat seseorang terjebak dalam suatu siklus pikiran dan perilaku yang berulang dan tak berujung. Dulu, OCD termasuk ke dalam gangguan kecemasan (anxiety disorder), namun sekarang dianggap menjadi suatu penyakit dengan kekhususan tersendiri2. Kondisi ini terdiri atas dua unsur utama, yaitu: gangguan pikiran (obsession) dan keharusan untuk melakukan sesuatu (compulsion)3.

Gangguan pikiran (obsession) ialah suatu pemikiran, ingatan, imajinasi, atau keraguan tak diundang yang selalu berada di dalam pikiran seseorang. Misalnya, seseorang berpikir bahwa ia selalu terkontaminasi oleh kotoran atau bakteri. Pemikiran tersebut akan benar-benar mengganggu pikirannya dan membautnya menjadi sangat cemas.

Sedangkan keharusan untuk melakukan sesuatu (compulsion) adalah aktivitas berulang yang dilakukan karena ‘dirasa’ memang harus dilakukan. Misalnya, seseorang berulang kali memastikan apakah pintu sudah terkunci atau belum. Ini merupakan respons untuk menghilangkan gangguan pikiran dan rasa cemas yang telah muncul sebelumnya. Akan tetapi, ‘rasa lega’ ini hanya muncul sesaat. Setelah itu, gangguan pikiran dan rasa cemas akan kembali muncul dan mendorong penderita untuk mengerjakan kembali aktivitas yang telah dilakukannya.

Bagaimana Mengenali Penderita OCD?

Gejala setiap penderita OCD bisa jadi berbeda, namun terdapat beberapa macam gangguan pikiran dan keharusan yang umum terdapat pada pengidap OCD. Di antara bentuk gangguan pikiran (obsession) yang umum pada penderita OCD adalah: rasa takut terkontaminasi kuman dan kotoran, rasa menuntut ketepatan dan kesempurnaan, rasa takut akan musibah yang bisa saja terjadi, dan sebagainya. Sedangkan di antara bentuk keharusan untuk melakukan sesuatu (compulsion) yang umum ialah: terlalu sering mencuci tangan, terlalu sering bersih-bersih, mengulang-ulang aktivitas rutin, bolak-balik mengecek akan bahaya yang mungkin datang, dan lain-lain1.

Lalu, Bagaimana Menanganinya?

OCD tidak akan hilang dengan sendirinya. Karena itu, penting untuk mencari penanganan yang tepat. Salah satu cara yang paling efektif adalah mengombinasikan antara pengobatan dan terapi perilaku kognitif. Cara pengobatan misalnya dengan penggunaan antidepresan. Sedangkan terapi perilaku kognitif, bertujuan untuk membimbing penderita OCD dalam menghadapi ketakutannya dan mengurangi kecemasannya tanpa melakukan kegiatan berulang.

Hidup dengan OCD dan menghadapinya memang tidak mudah. Namun, sembuh darinya bukan hal yang mustahil. OCD, bahkan penyakit lainnya pula, tidak menghalangi seseorang untuk hidup normal dan berkarya. Yang terpenting adalah tekad yang kuat serta dukungan dari orang-orang terdekat seperti orangtua dan sahabat!


Sumber Data Tulisan

1International OCD Foundation. 2014. What You Need to Know about Obsessive Compulsive Disorder. Boston: OCD Foundation.

2http://www.webmd.com/mental-health/obsessive-compulsive-disorder

3Warin, Celia. 2013. Understanding Obsessive-Compulsive Disorder. London: Mind 2013.

Featured Image Credit: http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2011/02/25/myths-about-hand-hygiene.aspx

 

Let others know the importance of mental health !

2 comments

Comments are closed.