Orang Tua Sering Membandingkan Saya dengan Orang Lain. Saya Harus Bagaimana?

Artikel ini dibuat atas kerjasama dengan Mojok.co untuk pengisian kolom konsultasi psikologi di media Mojok.

Pertanyaan :

Setiap membuka instagram atau sosial media lainnya, saya melihat teman-teman saya memiliki kehidupan yang indah. Namun, hal itu tidak terjadi pada saya.  Sebagai mahasiswa di usia 20-an, saya masih bergantung pada orang tua. Sedihnya, orang tua justru sering mempermasalahkan keadaan saya yang masih belum berpenghasilan. Padahal saya sudah mencoba menjadi anak yang berbakti. Tak jarang, orang tua juga membandingkan saya dengan anak tetangga atau anak rekan kerja mereka. Seburuk itukah saya? Lalu, saya harus bagaimana?

Jawaban Pijar Psikologi :

Terima kasih telah berbagi kisahmu bersama kami. Dari cerita yang kamu sampaikan, tampaknya ada dua hal yang perlu kita bahas. Pertama adalah tentang media sosial. Yang kedua adalah tentang orang tua yang sering menuntut kamu dengan berbagai hal. Keduanya mengarahkan pada hal yang sama, yaitu perasaan bahwa “saya tak cukup”, “saya kurang” dan “saya selalu lebih buruk dari orang lain”.

Yuk, kita bahas satu per satu!

Tentang Media Sosial

Dunia maya, dengan media sosial di dalamnya, adalah tempat yang sangat menyenangkan. Tempat di mana kamu dan kita semua bisa menampilkan “diri” yang terbaik. Bertengger di dunia maya membuat kita merasa “ada” dan dihargai. Love dan like menjadi notifikasi yang selalu ditunggu. Di sinilah letak candu media sosial. Media sosial dianggap dapat memenuhi kebutuhan kita untuk dicintai dan dihargai.

Akan tetapi, percayalah, apa yang ada di media sosial tidak mewakili kehidupan pemilik akun yang sebenarnya. Ibaratnya, Instagram hanyalah 1 detik foto dari 24 jam kehidupan manusia. Maka dari itu, kamu tidak perlu membandingkan keadaan dirimu dengan apa yang direpresentasikan oleh orang lain di media sosial. Fokuslah untuk melihat kebaikan di dalam kehidupanmu sendiri. Sebagai tambahan, kamu bisa membaca kisah Lucy, yang sempat viral, mengenai iri hati dan cemburu di dunia maya.

Dibanding-bandingkan Orang Tua

Perlu kita ketahui bahwa orang tua yang menyakiti kita sebenarnya mungkin saja juga sedang terluka. Sekilas dari sudut pandangmu, dan dari sudut pandang anak usia 20-an, orang tua yang membandingkan anaknya dengan anak lain adalah orang tua yang tega.  Namun, jika ditarik dari sudut pandang yang lebih luas, orang tuamu juga belum puas dengan keadaannya. Mereka masih ingin memiliki keadaan yang lebih baik lagi dengan menyalahkan kamu yang masih bergantung secara ekonomi.  Atau mereka adalah orang tua yang sangat pencemas, yang sudah mengkhawatirkan masa depan anaknya sejak dini. Jadi, kalau sekarang kamu mendengar kekhawatiran dan perbandingan yang mereka lakukan, coba bayangkan kamu berada di posisi mereka. Posisi sebagai orang tua yang juga sedang menanti segala kepastian.

Sebagai anak, yang bisa kamu lakukan adalah berusaha memahami mereka. Sesekali, cobalah bicara dari hati ke hati dengan orang tuamu. Memang akan sulit awalnya, karena memaksa orang lain untuk berubah bukanlah hal mudah. Satu-satunya yang bisa diubah adalah diri kita sendiri. Berusahalah mengubah dirimu menjadi lebih baik dengan meningkatkan kesabaran terhadap sikap orang tua dan mencoba memahami dari sisi mereka. Atau, kamu juga bisa berusaha untuk belajar lebih tekun agar bisa membanggakan orang tuamu. Karena, mungkin saja itulah yang mereka mau dan ingin mereka lihat darimu.

Bersikap “Bodo Amat”

Seringkali kita memedulikan suatu hal hingga terlalu menyerap tenaga dan pikiran. Akibatnya, kita akan merasa pusing atau sedih berkepanjangan. Padahal, kita tidak perlu memedulikan setiap hal yang ada di sekitar kita. Seperti yang sedang kamu rasakan, tanpa disadari kamu memedulikan banyak hal yang sebenarnya bisa kamu pilih untuk tidak diacuhkan. Kamu tidak perlu terlalu memedulikan feed Instagram temanmu atau terlalu memikirkan pendapat negatif tentang dirimu dari orangtua.

Kamu bisa mencoba untuk tidak terlalu peduli dengan apa yang membuat dirimu merasa tidak nyaman. Ingatlah, kamu tidak harus berubah demi memenuhi standard orang lain. Terima apa yang ada pada dirimu saat ini. Cobalah untuk mengenali apa yang sebenarnya menjadi kelebihanmu.

Menyayangi Diri Sendiri sebagai Jawaban

Seperti saran di atas, jika kamu mau, kamu bisa uninstall media sosialmu agar kamu bisa melindungi diri untuk tidak membandingkan hidupmu dengan orang lain di dunia maya. Selain itu, waktu yang kamu habiskan juga tidak akan sia-sia begitu saja hanya karena scrolling  feed media sosial.

Di sisi lain, kamu perlu lebih menyayangi dirimu sendiri. Maafkanlah dan sayangi dirimu sendiri. Berhentilah melabel negatif dan menggunakan orang lain sebagai patokan kualitas dirimu. Ketika kamu semakin kuat menggunakan orang lain sebagai patokan, semakin besar peluangmu untuk kehilangan diri sendiri. Percayalah, masing-masing dari kita memiliki alur hidup  dan cara masing-masing untuk berkembang.

***

Terakhir,  jangan pernah lupa bahwa kamu masih muda. Di usia 20-an, masih ada banyak hal yang bisa kamu lakukan. Cobalah untuk membayangkan akan menjadi seperti apa dirimu di masa depan. Jika kamu bisa menyibukkan diri dengan hal-hal positif, percayalah, tanpa kamu sadari kamu akan berada di jalur dan titik sukses yang kamu harapkan.

 

 

 

 

Let others know the importance of mental health !
Total
5
Shares