Pahami, Motivasi, dan Sayangi: Sebuah Strategi Mewujudkan Mindful Parenting Bagi Anak dengan Skizofrenia

Skizofrenia adalah salah satu jenis gangguan mental yang berat dan memengaruhi bagaimana cara seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku. Adanya perubahan pada berbagai aspek tersebut membuatnya seringkali diasingkan. Tidak hanya dalam lingkup keluarga, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Kehadirannya tak jarang dianggap sebagai beban sekaligus aib keluarga. Karena itulah, pembicaraan seputar gangguan kejiwaan ini masih belum begitu dekat di telinga kita. Pernyataan tersebut merujuk pada data yang menyampaikan bahwa sebanyak 80% penderita skizofrenia di Indonesia belum mendapatkan penanganan yang tepat. Padahal, hasil penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Child Psychiatry Branch di National Institute of Mental Health menemukan bahwa skizofrenia mungkin ditemukan pada anak di bawah 13 tahun dengan prevalensi 1:40.000 anak.

***

Karena termasuk gangguan psikotik, skizofrenia dapat membuat seseorang menjadi tidak produktif. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kelalaian dalam mengamati dan memahami berbagai positif-negatif symptoms dari skizofrenia sejak dini hari. Berbicara mengenai dini, adapun beberapa gejala utama childhood-onset schizophrenia adalah gangguan pengendalian emosi, perilaku, serta penurunan motivasi dan minat. Dengan pengobatan dan pola asuh yang tepat, bukan tidak mungkin anak-anak skizofrenia bisa menjalani hidup seperti orang normal dan meraih kesuksesan. Bahkan menurut psikolog Tjipto Susana dari fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, pengobatan yang dilakukan ketika ada gejala dini berpotensi untuk sembuh total. Salah satu cara dalam penanganan anak skizofrenia adalah dengan mindful parenting atau pola asuh berkesadaran.

Mindful parenting sendiri adalah kesempatan bagi orang tua untuk melakukan hal-hal bersama anak tanpa melupakan kesenangan bagi orang tua dan sebagai sebuah jeda untuk ‘mengambil napas’. Jeda inilah yang memungkinkan orang tua untuk mengetahui apa yang orang tua rasakan dan memungkinkan orang tua mengenali perasaan dan apa yang anak butuhkan anak dari orang tua saat itu juga. Penjelasan ini bisa juga dimaknai dari kata mindfulness, yang berarti kesadaran seseorang pada suatu pengalaman tanpa diikuti dengan penilaian tertentu dan sudah banyak digunakan sebagai bentuk meditasi yang berbasis intervensi kesadaran untuk mengobati berbagai masalah kesehatan mental—salah satunya skizofrenia.

Mengasuh anak dengan gangguan mental memang akan menjadi pekerjaan yang penuh tantangan dan melelahka. Namun, menyerah terhadap mereka bukanlah pilihan. Pahami, motivasi dan sayangi merupakan bentuk tahapan dan latihan bagi orang tua anak penderita skizofrenia. Ketiga hal ini bagaikan roda bergerigi yang saling bersinggungan karena saling memengaruhi satu sama lain dan berkerja secara bersamaan.

  1. Pahami

Orang tua harus memahami seperti apa skizofrenia. Baik dari gejala-gejalanya, cara penanganan, dan juga penyebab utama yang mungkin menjadi timbulnya penyakit ini pada anak. Karena penderita memiliki pemikiran yang terpecah, akan sulit membedakan apa yang sebenarnya terjadi dengan apa yang hanya terjadi di kepala mereka. Meskipun begitu, ada baiknya para orang tua mendengarkan cerita mereka, intinya adalah bersikap ramah dan empati. Hal ini penting dilakukan agar anak tidak merasa tersingkirkan dan sendirian dalam melawan penyakitnya. Sembari mendengarkan cerita mereka sisipkanlah petunjuk atau kiasan tentang dunia nyata agar mereka tidak terjebak dengan halusinasi dan delusi. Perlu diperhatikan juga bahwa kata-kata itu penting.

  1. Motivasi

Skizofrenia bukanlah penghalang menuju kesuksesan. Di sini orang tua bisa mengarahkan anaknya untuk menuangkan pikiran, keraguan dan ketakutan mereka dalam suatu wadah. Contohnya, melukis dan menulis. Penderita skizofrenia cenderung memiliki pikiran yang negatif tentang dirinya karena itu menyalurkan energi mereka untuk melakukan hal-hal yang positif adalah hal yang penting. Jangan halangi anak untuk berkarya dan terus motivasi anak untuk terus maju. Berikan energi positif kepada anak sebisa mungkin.

  1. Sayangi

Anak-anak butuh disayangi tanpa syarat. Tunjukkan kepada anak kasih sayang tanpa syarat. Menyayangi tanpa syarat berarti memberikan kasih sayang dalam segala tidakan. Namun, perlu dicatat oleh orang tua bahwa sebelum mencintai anak tanpa syarat, hal yang dilakukan pertama kali adalah mencintai diri sendiri. Tidak mungkin orangtua bisa memberikan anak-anak cinta tak bersyarat sebelum kita peduli dan mencintai diri sendiri. Banyak orang tua yang masuk pada pemikiran yang salah yaitu merasa egois ketika peduli pada diri sendiri. Penting untuk diingat bahwa kepedulian terhadap diri sendiri akan melahirkan hal-hal baik untuk orang di sekitarmu.

***

Anak dengan skizofrenia masih sama dengan anak-anak yang lainnya. Perlu diingat bahwa tidak pernah ada yang memilih untuk dilahirkan dengan kondisi tertentu. Sebagai manusia, kita memang memiliki tanggung jawab atas diri kita sendiri. Akan tetapi, sebagai makhluk sosial, kita juga punya tanggung jawab yang besar terhadap mereka di sekitar kita. Oleh karena itu, sudah saatnya bagi kita untuk lebih peduli dengan penderita skizofrenia. Kepedulian ini yang nantinya akan membukakan jalan pada penanganan yang lebih baik dan lebih cepat pada teman-teman kita. Semoga akan selalu datang hari baik untuk kita semua.


Artikel ini adalah Sumbang Tulisan dari El Syafira Saragih. Elsys adalah mahasiswi jurusan psikologi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia dapat dihubungi melalui instagram: @elsyssaragih, facebook: Elsys Saragih, storial: elsyssaragih, dan email: [email protected].


 

 

Let others know the importance of mental health !

1 comment

  1. Bagaimana bila salad satu dari orang tua juga memiliki kecenderungan skizofernia. Apakah hal ini tidak menggagu?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*