Pelaku Bullying Sebenarnya Juga Korban

Pelaku bullying dalam skenario kehidupan ini selalu ditempatkan sebagai pemeran penjahat. Padahal bisa juga pelaku bully pernah menjadi korban. Sebenarnya ada cerita yang perlu dipahami dari pelaku dibalik perbuatan bullyingnya.

Pernahkah kita memikirkan bagaimana perasaan dan kisah panjang di balik pelaku bully? Sebagian pelaku bully sebenarnya juga merupakan korban. Korban dari kekerasan saudara-sadaranya, korban dari bullying teman yang sebelumnya, korban dari otoriternya pola asuh keluarga, atau korban dari pikiran mereka sendiri.

Mereka adalah Korban dari Orangtuanya

Perilaku bullying anak dipengaruhi oleh pola hubungan antar keluarganya. Menurut penelitian, perilaku bully tidak lepas dari pola asuh keluarganya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh otoriter memiliki peluang besar bagi anak menjadi pelaku bullying. Pola asuh ini dapat membuat anak menjadi pelaku bully karena orangtua bertindak sewenang-wenang terhadap anak. Kesewenang-wenangan itu tidak menciptakan kebebasan anak dalam memilih maupun mengekspresikan dirinya.

Orangtua yang otoriter umumnya bersikap tegas dan tidak banyak berdialog dengan anak. Orangtua menuntut anak untuk mengikuti setiap kehendak orangtua terhadapnya. Orangtua tidak menaruh kepercayaan terhadap pilihan-pilihan yang dibuat anak. Seolah orangtua tidak menganggap bahwa anak bisa memilih hal yang baik baginya.

Hal ini menyebabkan anak tertekan dan tidak berani menyampaikan keinginannya. Membuat anak tidak mampu hanya sekadar bercerita tentang masalah-masalahanya. Mereka akhirnya tidak bisa mencurahkan segala keresahan yang ia miliki kepada orangtua.

Orangtua yang otoriter mendidik dengan cara yang keras, baik secara lisan maupun tindakan. Tidak sedikit orangtua otoriter memberi hukuman dengan cara memukul atau memaki. Hal tersebut sungguh menyakitkan bagi perasaan si anak. Perilaku kasar orangtua kepadanya itulah yang akan ditiru oleh anak dalam memperlakukan orang lain.

“Bullies are made, not born, this behavior is typically fostered at a very young age”

Anonim

Mereka adalah Korban dari Kekerasan Saudaranya

Sebagian besar pelaku bully di masa sekarang pernah menjumpai kekerasan di masa kecil yang dilakukan oleh saudaranya. Sebagian diantara mereka mendapatkan luka dari tendangan, tamparan, pukulan hingga benda tajam. Sebagian lain menerima perkataan kasar yang tidak mengenakkan.

Tercatat sebanyak 53% kekerasan yang dilakukan saudara anak dapat berakibat fatal. Data di atas diperkuat dengan hasil survey yang mengatakan bahwa sebesar 14.2% anak yang terlibat bullying merupakan anak yang memang memiliki masalah dengan saudaranya. Oleh karena inilah, seorang anak menimbun segala perlakuan dan luka yang pernah ia dapatkan sejak kecil.

Perlakuan kasar yang berasal dari saudaranya ini menimbulkan keinginan anak untuk melakukan bully pada temannya yang lain. Merasa tidak mampu membalas perlakuan yang diterimanya selama itu, anak kemudian melampiaskannya kepada orang lain. Dengan begitu, anak akan merasa puas dan terbayarkan perasaan kesalnya.

Baca: Jangan Ada Bullying di Antara Kita di sini

Mereka adalah Korban dari Temannya

Sebanyak 20% anak pada kelas 9-12 pernah terlibat bullying di sekolah dengan teman-temannya. Baik sebagai pelaku maupun korban bully. Namun, mereka yang menjadi korban bullying di kalangan temannya itu juga berpotensi menjadi pelaku yang selanjutnya.

Seorang anak yang menjadi bahan bully oleh teman-temannya dapat menimbulkan efek yang negatif bagi konsep dirinya. Anak akan menganggap dirinya berbeda dengan temannya. Ia juga akan merasa cemas, tertekan dan rendah diri. Dengan adanya berbagai perasaan insecure ini, akan muncul keinginan untuk melakukan bully.

Mereka adalah Korban dari Pikirannya sendiri

Pelaku bully mempunyai luka tertentu yang terus mereka bawa. Akibat dari luka itu, pelaku bully mempunyai ketidaknyamanan dalam diri mereka. Manifestasinya, pelaku bully merendahkan orang lain untuk bisa merasa nyaman dan damai dengan diri sendiri.

Baca: Mengapa Kita Hobi Nyinyir dan Gosip di sini

Mereka yang melakukan bullying terhadap orang lain berawal dari pikiran negatif mereka sendiri. Sebagian ada yang pernah mengalami hal yang menyakitkan seperti tidak diterima oleh keluarganya, teman, atau lingkungannya. Sebagian lain berawal karena dulu ia tidak pernah dihargai dan diakui oleh orang lain. Oleh karena luka tersebut, ia melakukan bully agar dianggap lebih kuat dan mendapat pengakuan dari orang di sekitarnya.

Tidak selamanya pelaku bullying dilabel sebagai penjahat atau pembuat onar. Kita sudutkan dan salahkan sepenuhnya mereka karena tindakan bullying yang dilakukan. Di balik tindakannya, terdapat luka yang belum selesai dalam dirinya. Jika kita pernah dilukai atau dibully dan masih saja menyalahkannya,  saatnya kita memahami lebih jauh alasan bullying itu dilakukan beserta rasa sakit dan pedih yang dibawanya.

Let others know the importance of mental health !
Total
56
Shares