Pendidikan Inklusi Untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

 

Kesempatan untuk mencicipi manisnya pendidikan merupakan hak setiap anak Indonesia, tidak terkecuali Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Pendidikan formal di sekolah adalah angin segar bagi mereka yang juga ingin menyulam asa dan mewujudkan cita-cita.

***

Baru-baru ini kita telah memperingati hari Autisme sedunia. Anak-anak dengan gangguan autisme dan anak-anak yang berkebutuhan khusus lainnya memang membutuhkan treatment khusus dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya. Namun, hal tersebut tidak seharusnya menjadi alasan bahwa anak dengan autisme dan ABK lainnya tidak mendapatkan pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan. Anak dengan autisme dan ABK juga berhak untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan anak-anak lain tanpa harus dipisahkan, dikucilkan bahkan diisolasi dari lingkungan sosialnya. Mereka juga berhak untuk tumbuh berkembang bersama lingkungan sosial yang suportif dan positif. Namun, faktanya anak-anak berkebutuhan khusus masih diprioritaskan untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Hal ini tentu saja bukan suatu hal yang negatif, akan tetapi penyelenggaraan SLB akhirnya menjadi jurang pemisah antara anak ‘normal’ dengan anak berkebutuhan khusus. Akibatnya antara keduanya tidak terjalin interaksi yang sehat.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia mencapai angka 1,6 juta anak (data 2017) dan menurut Survey osial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik pada 2016 sebanyak satu juta diantaranya adalah ABK yang tidak sekolah. Hal ini tentu saja menjadi keprihatinan kita bersama karena anak-anak berkebutuhan khusus tentu juga membutuhkan pendidikan yang layak bagi tumbuh kembang mereka. Keprihatinan berikutnya adalah kecenderungan ABK untuk disekolahkan di SLB ketimbang sekolah inklusi. Sekolah inklusi adalah sekolah  yang diprogram secara khusus dan disesuaikan dengan kebutuhan ABK dalam belajar bersama dengan anak-anak didik ‘normal’ lainnya. Kebersamaan antara ABK dengan anak ‘normal’ yang belajar di kelas yang sama akan memberikan peluang bagi satu sama lain untuk saling menjadi sumber belajar.

 Pentingnya Sekolah Inklusi Bagi Anak-anak Berkebutuhan Khusus

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 Tentang Sistem Pendidikan Nasional membuka jalan bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk dapat mengenyam pendidikan dengan layak. Pendidikan inklusi secara khusus diartikan sebagai sebuah upaya penyelenggaraan pendidikan yang diperuntukkan bagi anak berkebutuhan khusus dan anak normal untuk belajar. Dengan adanya pendidikan inklusif yang diimplementasikan dalam bentuk sekolah inklusi, harapannya sekolah tersebut mampu mengakomodasi setiap anak tanpa kecuali, baik secara fisik, intelektual, emosional, sosial, bahasa, budaya, etnis, minoritas dan berbagai hal lainnya. Sekolah inklusi memfasilitasi ABK yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran bersama anak didik umum lainnya.

Adanya sekolah inklusi membawa peran penting bagi anak berkebutuhan khusus. Salah satu diantaranya yaitu interaksi yang terjalin antara ABK dengan siswa umum lainnya dalam lingkup sekolah akan meningkatkan kemampuan sosio-emosional mereka secara gradual. Manfaat dari sekolah inklusi tidak hanya dirasakan oleh anak berkebutuhan khusus, namun juga oleh anak-anak ‘normal’ atau anak-anak yang tidak memiliki kebutuhan khusus yang berada di sekolah tersebut. Anak-anak ‘normal’ dapat mengembangkan kemampuan empati mereka, kemampuan bekerja sama, dan lebih bijak dalam menerima keadaan teman-temannya. Secara umum sekolah inklusi mampu memberi kesempatan bagi anak berkebutuhan khusus untuk dapat mengembangkan diri mereka. Dengan hal tersebut maka anak berkebutuhan khusus tak lagi termarginalkan.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika menyebutkan bahwa adanya perilaku dan stigma negatif masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus salah satunya disebabkan karena kurangnya interaksi mereka dengan ABK. Sebaliknya orang-orang yang memiliki riwayat interaksi dengan ABK cenderung berperilaku positif dan suportif. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya interaksi ABK dengan lingkungan sosial pada umumnya (diimplementasikan dalam sebuah sekolah inklusi) lebih mengarah kepada hal-hal yang positif untuk kesejahteraan mereka. Ditambah lagi, dengan adanya dukungan dari seluruh komponen baik orang tua, teman sebaya, sekolah dan masyarakat demi terciptanya iklim positif bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan kata lain, pendidikan model segregasi tidak menjamin kesempatan anak berkebutuhan khusus untuk mengembangkan potensi secara optimal, karena sistem pendidikan dirancang berbeda dengan sekolah pada umumnya.

***

Sebagai manusia yang hidup di tengah-tengah manusia lainnya, sudah sepantasnya kita berbagi ruang untuk bercengkrama, saling mengisi dan saling menghargai. Sekolah inklusi adalah bentuk sekolah yang berasaskan humanis, bahwa setiap manusia adalah sama dan setara tanpa dibatasi oleh kekhususan yang dimiliki seseorang termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Sudah selayaknya bagi manusia menghargai sesamanya dan kita memiliki kesempatan yang sama besarnya untuk mendapatkan pendidikan tak terkecuali ABK.

Kita patut untuk mengapresiasi usaha pemerintah untuk mulai membuka mata bahwa anak berkebutuhan khusus mempunyai hak yang sama seperti anak pada umumnya dengan direalisasikannya beberapa sekolah umum untuk menjadi sekolah inklusi. Sejalan dengan hal itu, kita berharap bahwa masyarakat juga mulai membuka pintu lebar-lebar untuk bisa menerima anak berkebutuhan khusus sebagaimana anak-anak lainnya tanpa penilaian dan penghakiman. Untuk itu, tidak ada salahnya untuk memilih menjadi masyarakat, orang tua, teman, guru atau bagian dari pemerintah yang suportif terhadap pendidikan ABK.

 

Let others know the importance of mental health !