Perempuan dan Standar Kecantikan

Sudah berapa kali kita, perempuan mendengar bahwa kecantikan diidentikkan dengan tubuh langsing, kulit putih, kaki jenjang, dan rambut terurai panjang? Di lingkungan pergaulan, keluarga dan masyarakat umum kini mulai membentuk standar kecantikan berupa definisi fisik yang akhirnya mau tidak mau membuat perempuan berusaha untuk “memenuhi” standar tersebut. Fenomena standar kecantikan salah satunya disebabkan karena adanya anggapan bahwa perempuan cantik adalah perempuan yang sempurna secara fisik serta memiliki daya tarik di mata lelaki. Namun, benarkah demikian?

Definisi Kecantikan

Kecantikan telah begitu lekat dengan penampilan fisik. Namun, apabila kita melihat kecantikan dengan spektrum yang lebih luas, maka kecantikan dapat diartikan sebagai sesuatu yang kita sukai, sesuatu yang menarik, mempesona atau menginspirasi sehingga mampu membuat kita senang. Berdasarkan pernyataan tersebut, kecantikan merupakan perasaan senang yang muncul dalam persepsi masing-masing individu. Persepsi tersebut muncul karena adanya emosi, motivasi, kognisi, pemikiran (thinking) dan pembelajaran (learning) secara bersamaan.

Standar Kecantikan Mengubah Pola Pikir Beberapa Perempuan

Beberapa dari kita, perempuan sangat berusaha untuk menimbulkan persepsi cantik dimata orang lain. Namun, sayangnya banyak yang terlalu fokus dalam memperbaiki tampilan fisik saja dan mengabaikan hal lainnya. Atas dasar memperbaiki fisik pula, banyak perempuan yang rela untuk melakukan program diet. Mulai dari diet mayo, diet OCD, dan jenis diet ketat lainnya. Sebuah studi menyebutkan bahwa seseorang yang melakukan diet yang terlalu ketat, secara kognitif mereka akan lebih sering berpikir tentang makanan, cenderung ingin makan lebih sering dan makan diluar kendali.

Dalam sebuah studi lebih lanjut dijelaskan bahwa diet karena ingin memenuhi standar kecantikan fisik turut memberikan kontribusi terhadap terjadinya masalah psikologis di kalangan remaja perempuan. Standar kecantikan telah mengubah seseorang dalam melihat citra tubuhnya (body image) menjadi negatif. Akibatnya, banyak perempuan yang menganggap diri mereka buruk hingga berpengaruh pada kepercayaan diri dan psikologinya. Beberapa permasalahan yang terjadi di kalangan perempuan dan remaja perempuan di Amerika akibat adanya standar kecantikan diantaranya gangguan depresi, kehilangan kepercayaan diri, gangguan makan hingga gangguan ketidakpuasan diri terhadap penampilan tubuh (Body Dysmorphic Disorder/BDD). Gangguan tersebut tersebut membuat seseorang terus merasa cemas dengan kekurangan fisik minor atau kekurangan imajiner dirinya. Seseorang dengan BDD dapat merasa tertekan sekaligus mengalami kegagalan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Salah satu ciri orang dengan BDD adalah selalu memperhatikan bentuk tubuh di depan cermin. Mereka juga akan menghabiskan banyak waktu di depan cermin untuk berdandan demi menutupi kekurangannya, tetapi tetap tidak akan pernah puas.

Baca juga: Direktori Psikologi: Body Dysmorphic Disorder di sini.

Di Amerika, sebuah studi menyatakan bahwa sebanyak 67% perempuan usia 25-45 tahun tercatat melakukan diet ekstrem dan 53% pelaku diet yang telah memiliki berat badan ideal, tapi masih menginginkan penurunan berat badan. Ditambah lagi, sebanyak setengah gadis remaja di Amerika tercatat obat penurun berat badan yang tidak aman, atau memilih melewatkan jam makan, berpuasa yang ekstrem, merokok, memuntahkan makanan dan minum obat pencahar. Berbagai usaha dilakukan untuk menampilkan tampilan tubuh yang menurut masyarakat adalah standar kecantikan hingga mengesampingkan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Kecantikan Tidak Hanya Tentang Penampilan Fisik

Kecantikan tidak lahir secara tunggal, akan tetapi secara keseluruhan, rangkaian atau paduan dari beberapa faktor, baik fisik, mental, finansial, atau spiritual. Dengan memaknai hal tersebut maka, kecantikan tidak seharusnya dipandang dari satu sisi saja. Kecantikan secara luas adalah persepsi yang menimbulkan rasa senang. Apabila kita terus membuat rasa senang sebagai hal eksternal maka (mungkin) kecantikan kita tergantung pada apa yang dipersepsikan orang lain terhadap diri kita. Apabila demikian, maka kecantikan akan muncul sebagai akibat persepsi orang lain terhadap kita dan bukan persepsi yang kita munculkan sebagai citra diri yang kuat. Padahal, justru dengan citra diri yang kuatlah kita akan mampu menimbulkan perasaan senang sehingga akhirnya terpancar keluar/orang lain. Maka dari itu, kita perlu mengubah pola pikir bahwa rasa senang dalam diri sendiri adalah hal yang pertama yang harus diupayakan. Rasa senang terhadap diri bisa dilakukan dengan menerima diri sendiri secara utuh dengan pandangan realistik terhadap diri dan potensi-potensi yang dimiliki. Dengan begitu, kita akan merasa puas dengan diri sendiri, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Kitapun tidak merasa insecure apabila memiliki kekurangan, karena penerimaan terhadap diri sendiri termasuk menerima kekurangan kita sendiri.

Baca juga: Self Acceptance: Menyusun Puzzle Kebahagiaan dengan Menjadi Diri Sendiri di sini.

***

Standar kecantikan yang tidak memanusiakan kita sebagai perempuan, sudah seharusnya kita tinggalkan. Kecantikan tidak seharusnya menyiksa. Kecantikan adalah tentang penerimaan diri kita seutuhnya. Kecantikan adalah tentang bagaimana persepsi kita terhadap diri sendiri. Lalu, mengapa harus peduli dengan persepsi orang lain atau bahkan masyarakat asing? Kecantikan sudah semestinya dilihat dalam spektrum yang lebih luas. Kecantikan tidak harus diidentikkan dengan kulit putih atau tubuh yang kurus. Kita telah diciptakan dengan proporsi yang sempurna, yang perlu kita lakukan adalah mengusahakan menjadi manusia terbaik berdasarkan versi kita masing-masing.


Artikel ini ditulis oleh Sherly Deftia A. Seorang mahasiswi kedokteran yang jatuh cinta pada ilmu kesehatan jiwa dan dunia tulis menulis.

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*