Perempuan, Menopause dan Depresi

Menjadi seorang perempuan sungguhlah unik. Sepanjang hidupnya perempuan tidak bisa lepas dari perubahan fase biologis. Mulai dari anak kecil, tumbuh sebagai remaja dengan ditemani fase menstruasi, hingga terus bertumbuh menjadi dewasa sampai tiba di fase menopause. Seorang perempuan dinyatakan telah mengalami menopause setelah mereka tidak mengalami siklus menstruasi selama 12 bulan. Menopause biasanya terjadi pada usia 40 tahun atau 50 tahun ke atas. Di Indonesia, perempuan mengalami menopause rata-rata pada usia 51 tahun.

Apa itu Menopause?

Menopause adalah sebuah proses alami yang terjadi pada perempuan yang menandai akhir dari fase menstruasi. Pada saat menopause, akan terjadi banyak perubahan dalam tubuh, terutama penurunan hormon gonadal (hormon estrogen, progesterone, testosterone). Perubahan fisiologis tersebut pada akhirnya akan menyebabkan munculnya berbagai gejala pada tubuh. Gejala yang muncul pada perempuan yang mengalami menopause dapat bervariasi, namun gejala yang paling umum ditemukan berupa berkeringat di malam hari, tubuh terasa panas secara tiba-tiba (hot flush), gangguan tidur, kulit kering, gangguan saat melakukan hubungan seksual, perubahan suasana hati (mood) yang buruk, mudah tersinggung, ansietas (kecemasan) dan bahkan tidak tertarik lagi dengan kegiatan yang biasanya menarik bagi mereka. Tak jarang, gejala-gejala tersebut muncul beberapa saat sebelum perempuan mengalami menopause atau disebut sebagai fase perimenopause.

Menopause dan Depresi

Gejala  berupa perubahaan suasana hati menjadi buruk, ansietas, hilangnya minat dalam melakukan kegiatan yang disukai dan mudah tersinggung muncul karena produksi hormon estrogen yang menurun pada tubuh perempuan menopause. Hormon estrogen berperan penting dalam memodulasi suasana hati (mood) dan regulasi kognitif. Hormon estrogen memiliki pengaruh terhadap sistem neurotransmitter di otak. Penurunan kadar hormon estrogen dalam tubuh dapat menyebabkan terjadinya penurunan kadar serotonin, norepinerfin serta pusat dopamin di sistem limbik pada sistem saraf pusat. Hal ini pada akhirnya dapat menyebabkan munculnya depresi pada perempuan yang mengalami menopause. Penurunan hormon estrogen disertai dengan beberapa kejadian tidak nyaman yang terjadi pada perempuan menopause, turut menyebabkan terjadinya perubahan suasana hati dan ansietas pada perempuan menopause. Hal tersebut menyebabkan perempuan yang mengalami menopause memiliki risiko dua kali lebih besar untuk mengalami depresi (depressive disorder) dibanding dengan perempuan pada fase premenopause. Freeman menyebutkan bahwa perempuan dengan riwayat depresi sebelumnya memiliki risiko 8 kali lebih besar akan mengalami depresi pada fase menopause dibanding perempuan tanpa riwayat depresi sebelumnya.

Gejala menopause berupa hot flush dan keringat malam hari juga berpengaruh terhadap munculnya depresi. Ketika perempuan mengalami hot flush ia akan merasa tidak nyaman, lalu menyikapi fase menopause sebagai hal yang buruk. Hal ini diperburuk dengan munculnya tanda pada fisik berupa kulit kering dan gangguan dalam berhubungan seksual. Pada akhirnya, perempuan menopause merasa takut seakan-akan telah masuk pada proses penuaan dan fase akhir dari penampilan mereka.

Terdapat beberapa faktor lain yang turut disebutkan sebagai penyebab munculnya depresi pada perempuan menopause, seperti tingkat pendidikan, kualitas hubungan dengan suami (pasangan), jumlah pemasukan setiap bulan, dan status pekerjaan. Perempuan menopause dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah cenderung memiliki tingkat depresi yang tinggi dibanding dengan perempuan menopause dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Perempuan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi memiliki pengetahuan terkait menopause lebih baik, sehingga mereka dapat menyikapi terjadinya menopause dengan baik pula. Sementara itu, perempuan dengan kualitas hubungan yang baik cenderung memiliki tingkat depresi yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak memiliki pasangan atau hubungan yang baik dengan pasangan. Hal ini dikarenakan hubungan yang baik membuat perempuan dengan menopause mendapatkan dukungan secara utuh dalam menghadapi fase menopausenya.

Poorandokht dalam penelitiannya yang dilakukan di Ahvaz, Iran, menemukan bahwa 59.8% dari 1280 responden perempuan menopause mengalami depresi. 39.8% mengalami depresi tingkat rendah, 16% mengalami depresi tingkat sedang, dan 4% lainnya mengalami depresi berat. Pada penelitian yang dilakukan di desa Peguyangan Kaja, Denpasar, Bali tahun 2016, diketahui bahwa 29% dari 100 orang perempuan menopause yang menjadi responden mengalami gejala depresi. Jumlah tersebut terbilang cukup besar dan memerlukan perhatian lebih dari berbagai pihak terkait.

Merangkul Perempuan Menopause

Dewasa ini, diketahui bahwa terjadi peningkatan angka harapan hidup di Indonesia. Hal ini juga akan menyebabkan semakin meningkatnya jumlah perempuan yang akan mencapai fase menopause. Depresi yang terjadi pada perempuan menopause jika tidak disikapi dengan baik dapat menyebabkan disabilitas, masalah dalam interpersonal, peran sosial, karir serta meningkatnya jumlah pengeluaran yang digunakan untuk sistem Kesehatan. Akibat terburuk yang dapat terjadi ialah muncul keinginan untuk bunuh diri.

Dalam upaya mencegah dan mengurangi angka depresi yang terjadi pada perempuan menopause, diperlukan pemberian edukasi pada perempuan tentang fase menopause, pengetahuan tentang depresi dan cara menjaga gaya hidup agar tetap sehat meski telah memasuki fase menopause. Diharapkan dengan pemberian edukasi ini, angka kejadian depresi pada perempuan menopause dapat berkurang.

Beberapa alternatif saran yang dapat dilakukan perempuan menopause untuk menjaga vitalitas tubuhnya adalah tidur yang cukup, olahraga teratur (minimal 30 menit setiap hari), melakukan relaksasi (yoga, tai chi, meditasi, massage), berhenti merokok dan mencari support group atau komunitas sesama perempuan yang sedang mengalami fase menopause sebagai pendukung.

***

Menopause adalah sebuah fase yang tidak bisa dihindari oleh perempuan. Untuk perempuan yang sedang menghadapi menopause atau pada siapapun yang sedang hidup bersama dengan perempuan menopause, temani dan rangkulah dengan hangat dalam proses melalui fase menopause ini. Melakukan hal sederhana seperti menanyakan perasaan dan kabar mereka. Kita berlatih untuk tidak menyikapi menopause sebagai hal yang sepele, melainkan menyikapi dengan baik dan penuh perhatian terkait menopause itu sendiri. Dengan mengenali bahwa ada risiko-risiko terjadinya kondisi yang lebih buruk, seperti depresi, kita dapat lebih menyadari betapa pentingnya dukungan pada perempuan yang sedang mengalami menopause.


Artikel ini adalah sumbang tulisan dari Sherly Deftia A. Ia mendedikasikan tulisan ini untuk perempuan-perempuan menopause di seluruh Indonesia dengan harapan bisa mengedukasi mereka tentang menopause. Sherly dapat dihubungi melalui email [email protected]


Sumber gambar: www.unsplash.com

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*