Pernah Menyangkal Perasaan Anda Sendiri? Ini Teorinya!

“Kau bisa belajar banyak dari masalah ketika kau tidak sibuk menghindarinya.” – Anonim

Manusia adalah spesies dengan kemampuan adaptasi paling baik di antara makhluk hidup lainnya. Kita selalu punya cara untuk dapat mengatasi masalah dan bertahan hidup. Misalnya saja suku Eskimo yang tinggal di Kutub Utara. Tempat tinggal mereka memiliki suhu yang sangat dingin hingga, normalnya, manusia tidak dapat hidup di sana. Namun mereka berhasil bertahan dengan menggunakan pakaian hangat yang tebal sehingga dapat melanjutkan kehidupan di sana.

Tidak hanya pada hal-hal yang bersifat konkret saja, kemampuan adaptasi (kemampuan bertahan hidup) manusia juga ada pada hal-hal yang sifatnya batiniah atau psikologis. Misalnya ketika seseorang dihadapkan pada suatu kondisi yang dapat menimbulkan perasaan dan pikiran tidak nyaman, maka ia akan cenderung menghindari atau menghadapi kondisi tersebut. Dalam ilmu psikologi, ini dikenal dengan defense mechanism (mekanisme pertahanan diri).

Defense mechanism memiliki berbagai macam bentuk. Salah satu bentuk yang paling primitif ialah denial (penyangkalan) yang akan kita bahas pada artikel ini. Yuk simak!

Apa, sih, Penyangkalan Itu?

 Gampangnya, penyangkalan adalah penolakan terhadap suatu kejadian yang sudah terjadi. Seorang individu yang melakukan penyangkalan akan bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa hingga orang lain memandang sikapnya sebagai suatu hal yang aneh atau tidak wajar.1

Seseorang biasanya akan melakukan penyangkalan ketika ia berhadapan pada suatu kondisi yang terlalu sulit untuk dihadapi atau diterima.2 Kemudian, ia memilih untuk menolaknya sama sekali agar ia terhindar dari perasaan takut, cemas, kecewa, maupun perasaan negatif lain yang akan mengganggu jiwa dan pikirannya.

Penyangkalan Ada di Kehidupan Sehari-hari

Seorang bapak berusia paruh baya merupakan seorang perokok berat. Istri dan anak-anaknya selalu membujuknya untuk berhenti merokok dan memperingatkannya akan bahaya rokok. Ia juga sudah sering melihat iklan layanan masyarakat mengenai penyakit-penyakit yang timbul akibat merokok. Bahkan setiap akan mengambil rokok, ia membaca peringatan yang ada di kotak bungkusannya. Meskipun begitu, ia tidak mengindahkan peringatan yang ada dan tetap lanjut merokok, seakan ia tidak mengetahui akan bahayanya.

Kita Lihat Contoh Lainnya

Seorang wanita telah menikahi seorang lelaki selama lebih dari 40 tahun. Suatu hari, ketika mereka sedang bersantai di rumah, tiba-tiba sang suami mengalami kesulitan bernapas dan kesulitan berbicara. Wanita tersebut segera membawanya ke rumah sakit dan mengetahui bahwa suaminya mengalami stroke dan telah mengalami kematian otak (brain dead).

Meskipun begitu, sang istri tetap mendampingi suaminya di samping tempat tidurnya. Memegangi tangannya dan mengajaknya berbicara, meskipun dokter sudah mengatakan bahwa suaminya tidak bisa mendengarnya. Ia juga tetap yakin bahwa suaminya akan sembuh, meskipun dokter sudah mengatakan bahwa suaminya tidak bisa disembuhkan.

Bagi wanita tersebut, mendengar bahwa lelaki yang sudah menemaninya selama 40 tahun akan meninggal adalah suatu hal yang terlalu berat untuk bisa diterima. Ia sulit mempercayai kata-kata yang disebutkan oleh dokter. Karena itu, ia tidak mau menerimanya dan memilih untuk terus yakin bahwa suaminya bisa mendengar ucapannya, bisa sehat kembali seperti sedia kala. Sikap yang ia tunjukkan inilah yang disebut dengan penyangkalan.

Penyangkalan adalah Bentuk Mekanisme Pertahanan Diri yang Paling Primitif3

Penyangkalan disebut demikian karena sudah terbentuk saat perkembangan awal masa kanak-kanak. Semakin primitif sebuah mekanisme pertahanan diri, maka semakin efektif untuk pertahanan emosional jangka pendek, namun semakin tidak bertahan lama.

Seperti contoh di atas, wanita tersebut mampu ‘mengobati’ perasaannya dengan segera dengan melakukan penyangkalan. Namun, mau tidak mau, cepat atau lambat, ia akan segera menyadari kondisi nyata yang sedang ia hadapi. Lalu, ia tidak bisa lagi ‘mengobati’ perasaannya dengan melakukan penyangkalan dan harus menerimanya dengan ikhlas dan tabah.

Hampir semua orang pernah melakukan penyangkalan ketika menghadapi kondisi yang tidak disukai. Itu wajar saja, karena itu adalah sistem mekanisme pertahanan diri yang alami dan terjadi di bawah alam sadar kita. Meskipun begitu, kita harus menghadapi dan menerima kondisi apapun yang menghadapi kita. Yakinlah, meskipun awalnya sulit, hati kita akan menjadi lebih tenang dan dapat terus melangkah maju.


Sumber data tulisan

1 http://changingminds.org/explanations/behaviors/coping/denial.htm

2 http://www.simplypsychology.org/defense-mechanisms.html

3 https://psychcentral.com/lib/15-common-defense-mechanisms/

 

Sumber gambar: https://www.debttherapyscotland.co.uk/blog/25012015/Are-You-Suffering-From-Debt-Denial

Let others know the importance of mental health !
Total
1
Shares