Persona: Interpretasi Diri yang Ideal untuk Pemenuhan Ekspektasi Sosial

Sebagai manusia yang hidup di dalam masyarakat, seringkali kita dihadapkan dengan berbagai norma dan aturan yang tidak jarang menimbulkan sebuah ekspektasi publik terhadap diri kita. Tekanan yang seakan dibebankan publik kepada kita, tidak jarang menuntuk kita untuk cepat merespon dan menyesuaikan diri. Salah satu mekanisme yang kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menampilkan sebuah persona sebagai representasi diri kita. Apa sebenarnya persona itu?

***

Persona merupakan bentuk dari adaptasi evolusioner di mana setiap manusia memiliki kecenderungan untuk memantau ataupun mengontrol perilaku dan citra mereka di mata publik. Secara harfiah, kata persona dalam bahasa Latin berarti “topeng”. Topeng yang kita kenakan ini akan berbeda mengikuti situasi dan kondisinya. Menurut filosofi Jepang, kita memiliki 3 wajah atau topeng. Wajah pertama digunakan dalam menghadapi dunia, biasanya topeng wajah ini akan berusaha untuk mewujudkan sisi positif dalam diri. Wajah kedua ditampakkan kepada orang-orang terdekat seperti keluarga dan sahabat. Sementara, wajah ketiga ditunjukkan hanya kepada diri sendiri. Tidak ada orang lain yang mengetahui wajah kita yang ketiga ini selain diri kita sendiri.

Seberapa Penting Sebenarnya Persona Bagi Kita?

  1. Branding diri

Untuk bisa terus bertahan di tempat kita, seringkali kita membutuhkan persona. Bukan hanya untuk memberikan kesan pertama yang baik, tetapi persona juga untuk beradaptasi dengan lingkungan. Hal ini dikarenakan persona adalah aspek yang fundamental dari proses interpersonal. Karena itu, beberapa dari kita berusaha untuk mengelola impresi diri yang baik agar bisa diterima di dalam kelompoknya.

  1. Defense mechanism

Seringkali kita harus dirisaukan dengan judgment atau penilaian publik tentang diri kita. Hal ini mungkin membuat beberapa dari kita menjadi takut untuk menampilkan true-self atau diri kita yang sebenarnya pada dunia. Ketakutan ini bernama imposter syndrome dan persona menjadi penting untuk orang-orang dengan gangguan ini sebagai mekanisme pertahanan diri mereka.

  1. Self-fulfilling prophecy

Persona merupakan perwujudan diri yang ideal—baik yang ideal menurut kacamata kita maupun menurut kacamata orang lain. Ada beberapa pro dan kontra terkait apakah persona bisa dikatakan sebagai manifestasi diri yang utuh. Akan tetapi, jika kita melihat dari teori archetype Carl Jung, maka persona ini bisa diinterpretasikan sebagai diri yang utuh karena sifat persona yang tumpang tindih dengan dua sifat lain pembentuk “the self” atau diri. Apabila masih ada kontra terkait dengan teori Jung ini, maka jawabannya adalah persona bisa jadi diinternalisasikan dan benar-benar menjadi bagian dari identitas diri. Jika memang ada kepercayaan yang kuat untuk mewujudkan ideal self ini, maka bukan tidak mungkin kita mewujudkan ideal self dalam persona ini ke dalam true self kita.

***

Persona atau topeng memang sering dipersepsikan sebagai sebuah kebohongan yang disajikan demi mendapatkan penerimaan publik. Akan tetapi, mekanisme persona yang dimiliki oleh semua orang ini juga bisa diintepretasikan sebagai bentuk kesadaran diri atau self-awareness akan potensi diri dan lingkungan sekitar. Mengelola impresi diri untuk dipresentasikan kepada publik tidak selalu buruk. Menampilkan diri yang sebenarnya pada dunia juga bukan berarti masalah yang besar. Oleh karena itu, penerimaan diri tetap penting untuk dilakukan meskipun kita merepresentasikan diri melalui persona.


Sumber gambar : www.unsplash.com

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*