Personality Stereotype: Seberapa Penting Penggolongan Introver dan Ekstrover?

Introver dan ekstrover adalah salah satu contoh dari bentuk personality stereotype. Tidak bisa dipungkiri bahwa personality stereotype banyak sekali mengundang miskonsepsi di kalangan masyarakat. Adanya romantisisasi dari media, membuat stereotype ini semakin mudah untuk berkembang menjadi stigmatisasi.

Menurut penelitian Dr. David Rockey dari Neuro Leadership Institude, stereotype ini memang akan selalu ada sebagai respon biologis dari otak manusia. Contoh sederhana yang bisa menggambarkannya adalah saat kita mendengarkan sebuah lagu. Kali pertama mendengarkannya, pemikiran yang mungkin muncul adalah lagu ini cukup bagus. Berbeda ketika kita sudah berulang kali mendengarkannya. Kita menjadi sangat menyukai lagu tersebut karena pattern-nya yang sudah berhasil kita tangkap. Hal ini menjelaskan bahwa otak manusia menyukai sesuatu yang tidak ambigu, predictable, dan memiliki pattern. Dengan kata lain, stereotype pada personalityekskusifnya pada introver dan ekstrovermembuat semula yang bersifat ambigu, menjadi suatu hal yang bersifat predictable.

Di satu sisi, penggolongan introver dan ekstrover sangat rentan dengan stigmatisasi. Di sisi lain, penggolongan introver dan ekstrover ini membuat semuanya menjadi lebih predictable. Berdasarkan dua poin tersebut, mari kita ulas lebih dalam lagi terkait seberapa penting penggolongan introver dan ekstrover.

  1.     Introver dan Ekstrover Adalah Sebuah Spektrum

Dalam The Big Five Personality Traits, intensitas sifat introver dan ekstrover seseorang dibandingkan dengan populasi umum. Hasilnya, menunjukkan adanya distribusi normal atau yang biasa kita sebut dengan kurva lonceng (bell curve). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari kita justru berada di tengah-tengah atau yang diklasifikasikan oleh Carl Jung sebagai ambiver.

Penjelasan di atas, cukup menggambarkan bahwa sebenarnya sebagian besar dari kita tidak ada yang berada pada titik tertinggi dari trait kepribadian introver maupun ekstrover. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang menyatakan bahwa kita memiliki kontrol penuh atas kepribadian kita. Kita dapat memilih sifat-sifat (trait) apa yang kita ingin tumbuhkan dalam diri kita. Maka dari itu, introver dan ekstrover lebih tepat dikatakan sebagai sebuah spektrum personality.

Merujuk pada penjelasan di atas, maka penggolongan introver dan ekstrover ini apabila diimplementasikan secara kaku akan sedikit berbahaya. Hal ini karena individu justru rentan terhadap proses internalisasi stigma sebagai wujud self-fulfilling prophecy. Perlu diingat bahwa internalisasi stigma ini, jelas akan menghambat pengembangan potensi seseorang.

  1.     Munculnya Narasi Introverted Personality Disorder Akibat Personality Stereotype

International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (ICD-9 CM) dengan dukungan dari American Psychological Association (APA) pada tahun 2010 menyatakan bahwa mereka mempertimbangkan introvertion sebagai faktor yang berkontribusi dalam mendiagnosis gangguan kepribadian tertentu dalam DSM-5 edisi yang selanjutnya. Sebenarnya, kontroversi ini diangkat dari insiden yang muncul lebih dari 30 tahun yang lalu, di mana American Psychiatric Association mengusulkan untuk menambahkan “Introverted Personality Disorder” dalam DSM atau Diagnostic and Statistical Manual. Saat itu, dibutuhkan banyak kampanye juga surat kemarahan dari kalangan profesional untuk menghalangi jalan persetujuan usulannya. Fenomena yang berulang ini, sangat cukup untuk menggambarkan bahwa stereotype negatif atau stigma pada kepribadian introver masih ada dan sudah melekat sejak dulu.

***

Introver dan ekstrover sejatinya bukan tentang penggolongan kepribadian yang bersifat kaku. Keduanya merupakan spektrum kepribadian yang dinamis. Jadi, bukan berarti seorang introver akan selalu identik dengan seorang yang tidak banyak bicara dan lebih menyukai kesendirian saja. Namun, lebih dari itu seorang introver juga bisa memiliki spektrum ekstrover yang senang berbicara dan menghabiskan banyak waktu dalam kelompok pada kondisi tertentu. Sudah saatnya bagi kita untuk tidak melekatkan stigma-stigma tertentu pada diri seseorang. Apakah dia seorang introver atau ekstrover, ternyata label hasil penggolongan itu tidak terlalu penting. Justru dengan penggolongan tersebut, kita lantas lekat dengan romantisisasi dan stigmatisasi.


Sumber gambar : www.unsplash.com

Let others know the importance of mental health !