Pesona Kekerasan: Dorongan Penegasan Diri

Apa yang muncul dalam pikiran kalian ketika mendengar kekerasan dan melihatnya terjadi di hadapan kalian? Reaksi yang biasanya muncul adalah sikap anti kekerasan, rasa tidak suka, usaha untuk menghilangkan kekerasan, dan berbagai reaksi lain yang muncul sebagai bentuk negasi bagi adanya kekerasan. Reaksi-reaksi tersebut timbul sebagai bentuk kejijikan terhadap kekerasan dan reaksi ini – dalam peranan jumlah dan norma – adalah reaksi yang wajar ada.

Tanpa kita sadari, sesungguhnya dinamika kehidupan di sekitar kita begitu dekat dan senantiasa diwarnai oleh berbagai bentuk kekerasan. Ungkapan bad news is good news sebenarnya sudah bisa mewakili kenyataan bahwa setiap hari kita selalu disuguhi sajian-sajian tentang kekerasan. Tidak heran bila banyak portal berita dipenuhi dengan cerita-cerita tentang kejahatan, kasus kekerasan, bencana, atau bentuk-bentuk penderitaan yang lain. Lini masa media sosial yang kita miliki juga kerap dihiasi dengan berbagai elemen kekerasan.

Dengan mudah kita bisa menemukan banyak sekali ujaran kebencian yang disebarkan baik melalui status atau sekadar komentar pada sebuah unggahan. Deretan film action yang menonjolkan aksi-aksi kekerasan juga menjadi salah satu tontonan favorit bagi sebagian orang. Kekerasan kemudian tidak hanya sekadar ada di sekitar manusia, namun juga menjadi bagian kehidupan yang dinikmati. Kemudian layaklah kita bertanya lagi, apakah aku sebenarnya menyukai kekerasan?

Agresi: Dorongan Merusak dan Menyakiti

Persoalan mengenai pesona kekerasan menjadi penting ditanyakan ulang karena sesungguhnya, sejak awal kemunculan psikologi. Sigmund Freud telah mengenalkan konsep agresi sebagai dorongan kematian bekerja sebagai tekanan motivasional internal, yang kemudian mendorong munculnya perilaku tertentu dari seseorang.

Agresi berperan sebagai dorongan mati yang tujuannya merusak, mengembalikan organism kepada kondisi inorganik. Agresi menjadi dasar dari perilaku yang mengarah pada penghancuran diri. Agresi bersifat fleksibel dan muncul dalam rupa yang berbeda seperti menggoda, bergosip, membenci, mempermalukan orang lain, dan hal-hal lain yang terkait dengan bentuk-bentuk kekerasan.

Berdasarkan konsep Freud tersebut, kita dapat memahami bahwa sesungguhnya kekerasan adalah bagian dari dinamika pribadi manusia. Kekerasan sebagai representasi bentuk agresi hadir menjadi bagian dari ‘nafsu’ manusiawi yang menuntut untuk dipenuhi. Kemudian dapat dipahami bahwa dalam bentuknya yang paling dasar, kekerasan adalah representasi dari kepribadian manusia yang manusiawi. Kekerasan ada dan menjadi jalur pemenuhan kepuasan terhadap dorongan agresi.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bila kekerasan sesungguhnya alami ada dalam diri manusia sebagai bagian dari dinamika kepribadian, mengapa reaksi yang wajar muncul ketika membicarakan kekerasan adalah sikap anti dan jijik? Freud sendiri menjelaskan bahwa adanya dorongan agresi dalam diri manusia mendorong munculnya tembok yang berguna untuk mengendalikan agresi. Tembok tersebut hadir dalam bentuk norma – dalam istilah Freud disebut superego – membuat seseorang untuk menekan dan mengendalikan pemuasan agresi.

Superego menjadi prinsip-prinsip moralistis dan idealis yang membatasi gerak dari dorongan-dorongan tersebut. Superego berkembang melalui pengalaman-pengalaman mendapatkan hukuman akibat perilaku yang sebaiknya tidak dilakukan dan melalui pengalaman-pengalaman mendapatkan imbalan atas perilaku yang baik dilakukan.

Pada aspek agresi, superego berperan sebagai suara hati yang ‘melarang’ kita untuk menyukai kekerasan. Superego merepresi dorongan dan keinginan yang kuat dari seseorang untuk menyakiti dan melukai orang lain.

Pesona Kekerasan dan Kepastian Diri

Keberadaan dorongan agresi dalam diri manusia sesungguhnya telah menjelaskan sebagian dari kemungkinan manusia yang menyukai kekerasan. Dorongan agresi memberi pemahaman bagaimana kekerasan bisa memesona bagi manusia. Sebuah kalimat dari Hannah Arendt, seorang filsuf perempuan korban kekerasan Nazi, kiranya dapat memperdalam makna pesona kekerasan bagi seorang manusia. Dalam bukunya The Human Condition, Arendt menulis bahwa daya dan kekuatan seorang manusia secara mendasar tampak pada pengalaman kekerasan. Daya kekuatan tersebut memberikan rasa kepastian-diri dan identitas.

Pendapat ini dibangun dari kenyataan bahwa kebebasan, kehormatan, harga diri, dan kesadaran diri diraih melalui pengorbanan cucuran darah. Perang dan perebutan kekuasaan menjadi saksi bahwa darah adalah syarat bagi pencapaian ketegasan diri. Peradaban kemudian mendomestifikasi praktik-praktik kekerasan tersebut menjadi sesuatu yang lebih jinak – beradab – dalam koridor rasionalitas. Kekerasan kemudian sifatnya tidak rasional lagi. Kekerasan hanya dianggap sebagai produk bar-bar yang belum rasional. Hal ini menyebabkan munculnya implikasi demikian: barangsiapa merasa jijik terhadap kekerasan, dia tidak lagi menyadari bahwa ia telah jauh diseret oleh proses domestifikasi melalui peradaban. Sedangkan orang yang terpesona pada kekerasan telah menyadari kembali hakikatnya sebagai makhluk alamiah.

Elias Canetti, seorang filsuf Bulgaria yang juga menjadi korban kekejaman Nazi, menyebut para pelaku kekerasan sebagai survivor yang berusaha mencapai kekuatan melalui penegasan diri. Akan tetapi, sesungguhnya di balik diri para survivor ini terdapat sebuah figur manusia yang bimbang, tidak mampu menentukan diri. Terjadi sebuah proses keji dalam batin setiap pelaku kekerasan yang menimbulkan kemegahan diri ketika melihat korbannya terkapar tidak berdaya. Di hadapan korban kekerasan, para pelaku mendapatkan kebebasan, kehormatan dan harga diri.

Seseorang yang melakukan kekerasan tidak lain adalah seseorang yang sedang berusaha mengimbangi defisit jiwanya dengan menjadikan orang lain sebagai korban kekerasan, sebagai objek belaka dari subjek dirinya yang membutuhkan penegasan. Menurut Canetti, bentuk kebebasan sebagai penentuan diri yang eksistensial mengalami metamorfosis menjadi menjadi bentuk kebebasan sebagai kesewenangan.

Pada titik ini kemudian semakin lengkap pemahaman mengapa seorang manusia sangat mungkin terpesona oleh kekerasan. Kekerasan pada titik ini menjadi sebuah kebutuhan yang ganjil bagi penegasan diri. Kekerasan hadir sebagai penyeimbang bagi defisit jiwa yang merasa kabur dan tidak mampu menentukan dirinya sendiri. Akan tetapi, hal ini tidak serta merta bernilai negatif. Keadaan di mana kekerasan menjadi modal bagi penegasan diri manusia adalah keadaan alamiah yang mendasari kehidupan manusia. Keadaan ini menjadi hakikat yang asali bagi eksistensi manusia sebagai makhluk alamiah.

Bila sudah demikian, sesungguhnya kita bisa bertanya lagi: Apakah kekerasan menjadi jalan satu-satunya bagi penegasan diri? Menurut saya tidak. Penegasan diri yang berasal dari kekerasan memang tidak bersifat semu dan sejatinya alamiah, tetapi sifatnya tidaklah mutlak. Ada cara penegasan diri lain yang sekiranya lebih bernilai baik yaitu melalui pengakuan atas kehadiran orang lain. Habermas, seorang filsuf Jerman, menyatakan bahwa manusia yang membebaskan dirinya melalui kekerasan belum belajar untuk mengambil alih perspektif orang lain untuk melihat dirinya sendiri. Ketika hal itu terjadi, maka seseorang sesungguhnya bisa melihat kebebasan yang tampak dalam dirinya tidak hadir sebagai kesewenangan yang memaksa orang lain, melainkan kebebasan yang terwujud melalui pengakuan timbal-balik.

Menurut saya penggunaan perspektif orang kedua untuk melihat diri dan kemudian mengakui dirinya sendiri menjadi sesuatu yang lebih bernilai baik dibanding keadaan alami kekerasan dalam upaya penegasan diri. Pengakuan dari orang lain tidak mensyaratkan adanya korban yang semata-mata menjadi objek bagi subjek yang bimbang. Melalui cara ini, seseorang secara sadar menegaskan dirinya dalam koridor pembangunan ketegasan diri bersama orang lain. Hal ini kemudian mengubah perspektif terhadap manusia lain, yang awalnya hanya sebagai objek bagi dorongan agresi kita atau potensi pelaku kekerasan yang menimpa kita menjadi rekan dalam penegasan diri dan penentuan kepastian diri.

 

Sumber

Feist, J. & Feist, G. J. (2009). Theories of personality, 7th ed. McGraw-Hill Education. Diterjemahkan oleh Handriatno. Teori Kepribadian, edisi 7. Jakarta: Salemba Empat.

Hardiman, F. B. (2005). Memahami negativitas diskursus tentang massa, terror, trauma. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

 

Let others know the importance of mental health !
Total
20
Shares