Posesif: Tentang Caraku Mencintaimu

“Aku hanya keluar kota untuk urusan pekerjaan. Kenapa sih harus melarang?”

“Tapi nanti kamu jauh dari aku. Aku nggak tau di sana kamu ngapain aja, sama siapa. Kalo ada apa – apa gimana?”

Seberapa sering kamu mendengar atau mungkin sekarang sedang terjebak dalam drama yang sama seperti itu?

Bagi mereka yang sedang terjebak dalam sebuah hubungan yang posesif, perasaan terkekang, tidak bebas memilih apa yang ingin dipilih, dan ingin keluar dari hubungan tersebut mungkin sering menghampiri. Meskipun tahu bahwa ia merasa tidak nyaman dengan hubungan tersebut, namun kenyataannya mengakhiri hubungan itu terkadang tidak mudah.

Cinta seharusnya sebuah ekspresi. Sesuatu yang membebaskan. Semua menjadi rumit ketika cintamu ternyata mengurung perasaan dan ruang gerakmu

Memiliki pasangan yang posesif terkadang membuat kita merasa dipedulikan dan dikekang dalam waktu yang sama. Mereka yang posesif seakan mendirikan tembok batas untuk semua ruang gerakmu. Tidak ada lagi pergi tanpa pamit. Tidak ada lagi lupa memberi kabar akan bertemu siapa. Tidak ada lagi kebebasan berteman dengan siapapun, karena biasanya pasangan akan protes, ketika kita berteman dengan yang tidak ia sukai.

Mengapa serumit ini? Ada apa sebenarnya dengan orang posesif? Mengapa ia begitu menginginkan kekuasaan atas hidup orang lain?

Berawal dari Perasaan Insecure

Perasaan insecure, yang biasanya berakar dari pengalaman masa lalu, bisa berdampak membuat seseorang menjadi posesif ketika ia dewasa. Anak yang tumbuh dikelilingi oleh perasaan insecure akan kasih sayang orang tua, dapat membawa perasaan insecure itu terus dalam hidupnya hingga dewasa. Ia terus merasakan ketidakpastian dan kekosongan dalam hidupnya. Hal itu membuat ia akhirnya menutupi melalui pasangannya. Dengan cara posesif, seseorag akan membuat pasangannya menuruti keinginannya, karena hal itu dapat mengubur ketidakpastian dan kekosongan dari hatinya.

Menurut Rumondror sebagai pemerhati, sekaligus peneliti mengenai psikologi klinis dewasa, sikap posesif seseorang bisa muncul dari spekulasi rasa cemas, yang ditandai dengan perasaan cemburu. Misal, ketika melihat pasangan bermesraan dengan orang lain, perasan cemburu akan muncul. Dalam kasus orang posesif, belum sampai hal tersebut terjadi, ia berspekulasi bahwa pasangannya akan melakukan hal yang dianggapnya buruk. Dari situlah, timbul sikap membatasi pasangan. Hal ini dilakukan agar ia dapat mengontrol rasa cemas dan tidak perlu agresif, yang bisa jadi menghasilkan kekerasan fisik atau verbal, yang dilampiaskan pada pasangannya saat itu.

Memahami Mereka yang Posesif

Berhadapan dengan orang yang posesif, bukanlah hal yang mudah, apalagi ada perasaan kesal dalam diri, sebab perlakuaannya. Oleh sebab itu, sebelum memulai semua upaya, perlu bagi kita berdamai dengan diri sendiri, melalui sikap memaafkan pasangan. Memaafkan dilakukan, bukan untuk mewajarkan perilakunya, namun supaya komunikasi yang coba dibangun, dapat berjalan dengan atmosfer yang baik dan pikiran terbuka. Di sisi lain, komunikasi merupakan kunci utama dalam menjaga sebuah hubungan.

Berdialog membantu kita dan pasangan saling membicarakan keinginan diri masing – masing, sehingga hal itu dapat membuka jalan bagi pasangan, agar terbuka mengenai apa yang ia rasakan dan alami di masa lalu, yang bisa jadi mencekam. Jika berjalan lancar, dialog tersebut bisa menghasilkan alternatif penyelesaian masalah. Sebab perlu kita pahami, memiliki sikap posesif, bukanlah pilihan pasangan, melainkan ada masa lalu yang menanamkan benih penyebab ia bertindak seperti itu.

Jika dirasa sudah begitu lama, kamu membantu pasanganmu memahami ketakutan yang menyebabkan ia bertindak posesif, namun tidak jua menemukan hasil, maka penting bagimu untuk menetapkan waktu, kapan harus meninggalkan hubungan tidak sehat ini. Di sisi lain, hal itu kamu lakukan, sebab ada kesadaran, bahwa pasangan posesifmu mungkin perlu belajar dari pengalaman lain yang bisa jadi efektif membantunya. Selain itu, keputusan tersebut juga membantu agar saling move on melakukan kebaikan yang lain, menuju kehidupan yang jauh lebih positive.

Pahamilah bahwa orang posesif  telah tertelan oleh rasa kosong dan luka dalam hati, dari masa lalu yang tak pernah ia inginkan