Puasa dalam Kacamata Psikologis

Puasa tidak lagi hanya dilihat sebagai ibadah, tetapi telah menjadi topik menarik bagi penelitian. Ketertarikan peneliti terhadap puasa dapat dilihat dari banyaknya publikasi ilmiah yang telah diterbitkan. Tidak hanya itu, penelitian pun akhirnya membagi puasa menjadi beberapa macam, yang tidak terbatas pada puasa sebagai ritual ibadah saja.

Macam-Macam Puasa

Ada yang berpendapat bahwa puasa (fasting) umumnya dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu alternate days fasting, calorie reduction fasting dan therapeutic fasting. Alternate days fasting adalah puasa dengan selingan waktu setiap satu hari. Berpuasa dilakukan dengan tidak mengonsumsi makanan pada jangka waktu tertentu. Sementara calorie reduction fasting dilakukan dengan membatasi asupan kalori harian hingga 40% setiap harinya dalam jangka waktu yang lama. Terakhir, therapeutic fasting adalah puasa yang bersifat terapeutik dengan membatasi asupan harian makanan hingga di bawah 500 kalori per hari untuk jangka waktu tertentu.

Sementara itu, penelitian lain membagi puasa menjadi lima macam yaitu, complete alternate-days fasting, modified resting regiments, time-restricted feeding, religious fasting, dan Ramadan fasting.

Complete alternate days sama halnya dengan alternate days fasting yang telah disebutkan sebelumnya. Sementara modified resting regiments adalah puasa yang membolehkan konsumsi sumber energi sebesar 20-25%. Puasa ini membatasi konsumsi sumber energi berat selama dua hari tidak berturut-turut per minggunya dan membolehkan konsumsi energi selama lima hari lainnya. Kemudian, time-restricted feeding adalah puasa yang membolehkan menerima asupan energi dalam rentang waktu tertentu dan mendorong seseorang berpuasa secara teratur dengan jangka waktu lebih panjang. Religious fasting adalah puasa yang dilakukan untuk tujuan agama atau spiritual. Terakhir, Ramadan fasting adalah puasa yang dilakukan selama bulan Ramadan dengan mengonsumsi makanan sebelum matahari terbit dan setelah matahari terbenam.

Puasa dan Kesehatan

Penelitian-penelitian yang dilakukan menemukan, berpuasa dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Berikut beberapa pengaruh yang dirasakan dari puasa terhadap kesehatan mental:

Mengurangi Depresi

Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa berpuasa dapat mengurangi depresi dan keinginan seseorang untuk melakukan bunuh diri. Orang yang berpuasa terbukti dapat menurunkan depresi yang ada melalui kontrol diri yang kuat. Kontrol diri yang kuat ini timbul karena dorongan untuk merasakan kesulitan fisik dan emosi. Kemudian, dorongan itu menumbuhkan rasa penguasaan diri yang kuat. Kesadaran untuk menguasai diri sendiri inilah yang dapat mengurangi resiko depresi

Mencegah Penyakit Kronis

Puasa tidak hanya praktik yang dilakukan oleh sebagian golongan manusia saja. Banyak ahli-ahli kesehatan yang menggunakan puasa sebagai upaya pencegahan penyakit kronis. Ada studi yang membuktikan bahwa berpuasa yang membatasi asupan gizi 200-500 kkal per hari dengan waktu 7-21 hari berkhasiat dalam pengobatan penyakit rematik, sindrom nyeri kronis, hipertensi, dan gangguan metabolisme. Pada dasarnya, puasa ini juga merupakan sebuah upaya untuk mengatur pola hidup sehat.

Mengatur Mood

Berpuasa dapat mengatur mood seseorang sedikit-demi sedikit. Ketika seseorang lapar, tubuhnya akan melepaskan bahan kimia untuk membantu melindungi otak dari efek negatif. Bahan kimia ini dapat membuat seseorang dalam suasana hati yang baik. Apabila puasa ini dijadikan rutinitas untuk terapi, efeknya akan menjadi lebih baik.

Selama minggu pertama berpuasa, tubuh mulai beradaptasi dengan kelaparan dengan melepaskan hormon-hormon tertentu yang bertugas mengatur respons daya tahan tubuh dan metabolisme. Hormon yang ada dalam tubuh manusia kemudian dilepaskan selama respons melawan rasa lapar itu. Setelah beberapa saat, tubuh seseorang akan bisa merespons stres dan mood yang buruk ini melalui perasaan dan perlindungan diri dari pikiran negatif.

Meningkatkan Self-esteem

Bagi orang yang menjalankan puasa sebagai ritual keagamaan, puasa dapat meningkatkan harga dirinya. Seseorang yang berpuasa menurut agamanya masing-masing tersebut akan dipandang sebagai orang yang taat oleh sesamanya. Pandangan umum orang-orang di komunitas agamanya itulah yang dapat menyebabkan peningkatkan harga diri. Sebab, orang yang tidak berpuasa di waktu tertentu pada masing-masing agamanya akan dinilai tidak menjalankan ritual agama.

***

Hingga saat ini, puasa nampaknya diklaim hanya sebatas ritual peribadatan golongan tertentu saja.  Padahal, berpuasa bisa dilakukan siapa saja dengan berbagai macam alasan, seperti kesehatan. Praktik puasa ini banyak menarik minat peneliti untuk memahaminya secara mendalam. Tidak sedikit penelitian yang dilakukan pun menunjukkan bahwa pengaruh puasa terhadap kesehatan fisik maupun mental seseorang benar adanya. Dengan demikian, makna puasa bisa diperluas tidak hanya pada koridor ritual keagamaan, tetapi menjadi sesuatu yang dilakukan oleh pihak lebih luas demi kebaikan dirinya.

Let others know the importance of mental health !
Total
4
Shares