Push Parenting: Tentang Tuntutan dan Ekspektasi Orang Tua terhadap Anak-Anaknya

Pada dasarnya, setiap manusia terlahir dengan bakatnya masing-masing. Sekalipun terlahir dari orang tua yang sama, bakat masing-masing anak belum tentu akan sama. Mereka adalah manusia merdeka yang unik. Setiap anak terlahir untuk menjadi manusia yang akan memperjuangkan dirinya melalui bakat dan caranya masing-masing. Dalam proses mengembangkan bakatnya, peran orang tua memang sangat menentukan. Namun, tidak jarang orang tua lupa untuk mengendalikan harapan dan ekspektasi mereka terhadap anak-anaknya.

***

Bagi setiap orang tua, anak merupakan harta yang paling berharga. Paradigma tersebut seringkali membuat para orang tua sedikit melambungkan harapan dan ekspektasi mereka pada anak-anaknya. Banyak dari orang tua sekarang ini percaya bahwa kesuksesan anak dilihat dari seberapa banyak materi yang ia kumpulkan pada saat dewasa nanti. Untuk itu, tidak jarang para orang tua melakukan apapun demi menjadikan sang anak manusia yang “sukses”. Bahkan, tidak jarang orang tua menerapkan aturan super ketat, menyekolahkan anaknya sejak usia dini, memberikan les dan tambahan pelajaran yang sebenarnya tidak diinginkan oleh anak. Banyak dari mereka, para orang tua tidak menyadari cara yang mereka lakukan justru membuat sang anak merasa tertekan.

Menurut Baumrind, seorang ahli psikologi perkembangan yang mengembangkan teori gaya pengasuhan orang tua, setidaknya ada empat gaya pengasuhan, yaitu authoritarian, authoritative, neglectful, dan indulgent. Selain empat gaya pengasuhan itu, ada satu lagi gaya pengasuhan yang jarang dibahas dalam berbagai teori tetapi tanpa disadari sering dilakukan oleh orangtua, yaitu push parenting. Push parenting, atau gaya pengasuhan yang terlalu menuntut.

Para orangtua yang menerapkan gaya pengasuhan push parenting berdalih bahwa mereka terpaksa menerapkan gaya pengasuhan tersebut. Mereka merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang berlebih akan masa depan anak mereka jika tidak dibekali sejak kecil. Para orangtua juga tidak ingin anak mereka bernasib sama dengan mereka ketika mereka masih anak-anak. Bahkan mereka berusaha sekuat tenaga dan berbagai cara untuk menyekolahkan anaknya di sekolah unggulan. Selain itu, pengaruh media yang sering menampilkan anak-anak berprestasi membuat para orangtua ingin anaknya memiliki prestasi yang sama, bahkan lebih2. Alasan-alasan itu lah yang menjadi dalih orangtua untuk menuntut anaknya sesuai dengan keinginan mereka, bukan sang anak inginkan.

Dampak Push Parenting terhadap Perilaku Anak

Push parenting, sejatinya merupakan salah satu bentuk dari pengasuhan authoritarian karena orangtua hanya mendukung keinginan anak yang sesuai dengan keinginan mereka. Mereka juga melakukan pengawasan yang super ketat agar keinginan mereka yang ‘dititipkan’ ke sang anak dapat tercapai. Namun, dalam push parenting anak tidak diberikan kebebasan untuk menentukan kompetensi yang akan dimiliki. Selain itu, tuntutan yang diberikan ke sang anak tersebut pun dapat bersifat ekstrem. Hal tersebut cenderung menghambat tingkah laku sosial dan masalah pendidikan maupun keseharian anak mereka. Bahkan tuntutan yang semakin tinggi membuat anak akan merasa takut, panik, dan putus asa jika mengalami kegagalan dan mengecewakan orangtua.

Dampak lebih lanjut dari diterapkannya push parenting itu dapat membuat sang anak stres, mudah sakit, dan berperilaku tidak semestinya. Anak akan merasa stres ketika orangtua terus memaksa dan menekannya untuk melakukan sesuatu tanpa henti. Dampaknya akan muncul gejala-gejala fisik dari stres yang anak tersebut alami, seperti sakit kepala atau sakit perut. Selain itu, perasaan tertekan yang anak rasakan akibat push parenting dapat membuat perilakunya berubah. Anak menjadi mudah marah, membangkang, dan sulit untuk diatur.

***

Menjalani peran sebagai orang tua tentu tidaklah mudah. Dibutuhkan proses dan pembelajaran seumur hidup untuk menjadi orang tua yang dibutuhkan oleh anak-anaknya. Bagi kita dan para orang tua diluar sana, ada baiknya untuk berhenti sejenak dalam rangka melihat kembali pola pengasuhan kita terhadap anak-anak. Apakah kita secara tidak sadar menerapkan push parenting? Jika benar, cobalah untuk melepaskan segala harapan dan ekspektasi kita pada anak. Jalani peran kita sebagai orang tua yang mendukungnya dengan welas asih dan biarkan anak berkembang untuk menemukan jalannya masing-masing. Jangan renggut masa kanak-kanaknya dengan tumpukan harapan kita, sebab masa kanak-kanak adalah masa bermain dan membangun hubungan interpersonal dengan teman sebayanya, bukan hanya untuk belajar tanpa henti.


Sumber gambar: www.unsplash.com

Let others know the importance of mental health !
Total
29
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*