Rahasia Pengungkapan Diri di Media Sosial

“Media sosial adalah alat pemerataan yang pokok. Media sosial memberi suara dan tempat pada setiap orang yang ingin terlibat.”

– Amy Jo Martin

Saat ini media sosial merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Melalui media sosial, setiap orang dapat berhubungan dengan sesorang di tempat lain dengan pesan yang bersifat personal maupun dapat melibatkan oleh banyak orang. Media sosial juga banyak digunakan seseorang untuk mengekspresikan emosi tertentu yang dialaminya. Hal ini merupakan salah satu bentuk pengungkapan diri atau self-disclosure. Pengungkapan diri adalah komunikasi yang disengaja melalui perilaku verbal yang menjelaskan tentang pengalaman atau perasaan seseorang[1]. Tidak semua orang memiliki keterbukaan untuk berbagi kondisi emosi yang ia rasakan di media sosial. Setiap orang juga berbeda dalam mengekspresikan jenis emosi yang dirasakan. Apa yang sebenarnya membuat kita terbuka atas kondisi emosional tertentu di media sosial?

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada media sosial Facebook, terdapat dua penyebab perbedaan pengungkapan dan jenis emosi yang diungkapkan seseorang di media sosial[2], yaitu:

  1. Kerapatan Jaringan

Kerapatan jaringan merujuk pada kualitas hubungan dalam jaringan atau tingkat keterhubungan antaranggota jaringan. Hal ini dicontohkan dengan seberapa banyak komunikasi yang terjalin dengan teman yang terdapat dalam akun Facebook kita. Hubungan pertemanan yang ada dalam jaringan yang rapat biasanya adalah orang-orang yang dekat dengan seseorang, misalnya teman dekat, keluarga, rekan kerja, dan rekan sekolah. Hubungan yang dekat ini membuat seseorang lebih banyak berbagi emosi. Hal tersebut disebabkan oleh kebutuhan untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan yang sudah terjalin. Pengungkapan diri adalah salah satu pendorong kedekatan suatu hubungan. Selain itu, hubungan yang telah terjalin dekat biasanya menimbulkan kepercayaan satu sama lain sehingga seseorang merasa aman untun berbagi perasaannya.

Orang yang memiliki jaringan yang rapat tidak ragu untuk berbagi emosi yang positif maupun negatif karena kedua pengungkapan emosi tersebut menimbulkan dampak yang baik bagi dirinya. Berbagi emosi positif dapat meningkatkan kepuasan hidup, hubungan sosial, dan kesenangan. Di sisi lain, emosi negatif dapat mengurangi ketakutan, stres akibat trauma, depresi, melepaskan perasaan negatif yang ditekan, membentuk dukungan sosia, serta memberi alternatif lain dan nasihat dalam pemecahan masalah.

  1. Ukuran Jaringan

Ukuran jaringan adalah besarnya jaringan yang dimiliki seseorang dan merujuk pada kuantitas pertemanan yang terdapat dalam akun. Orang-orang yang ada di dalamnya tidak hanya orang-orang yang memang sudah dekat, tapi juga kenalan baru, teman lama yang sudah jarang berkomunikasi, bahan orang yang tidak dikenal. Ketika dalam lingkungan publik atau umum ini, kesan atau impresi terhadap seseorang merupakan hal yang biasanya diperhatikan. Seseorang biasanya akan lebih sedikit mengekspresikan emosi negatifnya dalam lingkungan yang luas karena hal tersebut dapat mengganggu kesan baik yang dimilikinya. Terdapat dua jenis mengatur kesan seseorang dalam media sosial, yaitu dengan menunjukkan diri dengan penampilan yang baik atau  menyenangkan. Jenis yang lain adalah melindungi dirinya dari hal-hal yang dapat menyebabkan penolakan sosial dengan cara menjauhkan dirinya dari tindakan yang negatif dan hanya menampilkan gambaran yang netral atau aman.

Dalam penelitian ini disebutkan bahwa kepuasan hidup bisa menurun seiring dengan peningkatan jumlah jaringan karena tekanan sosial yang lebih besar, stres karena hubungan sosial, serta kebutuhan untuk menempatkan diri supaya dapat memenuhi harapan orang lain.

Dalam penelitian ini disebutkan bahwa kemungkinan terdapat perbedaan pola pengungkapan diri secara emosional pada setiap media sosial. Instagram memungkinakan jaringan yang lebih luas, Path memungkinkan jaringan yang lebih rapat, dan sebagainya. Selain itu, mungkin saja ada perbedaan yang dialami setiap orang yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan tertentu, misalnya budaya, usia, norma sosial, dan dan sebagainya. Apakah Anda mengalami hal yang sama atau setuju dengan penelitian ini?


Sumber Data Tulisan

 

 

Referensi tulisan:

[1]Bazarova, N. N. & Choi, Y. H. (2014). Self-disclosure in social media: Extending the functional approach to disclosure motivations and characteristics on social network sites. Journal of Communication.

[2]Lin, H., Tov, W., Qiu, L. (2014). Emotional disclosure on social networking sites: The role of networ structure and psychological needa. Computers in Human Behavior, 41, 342-350. Elsevier Ltd.

Featured Image Credit: http://www.richslatcher.com/photos/iStock_000001039983XSmall_disclosure.jpg

Quote source: http://www.brainyquote.com/quotes/keywords/social_media.html

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*