Rasisme: Sebuah Luka Dibalik Perbedaan

 

Ada 7 milyar lebih manusia dan ratusan etnis yang berbeda di dunia ini, tetapi nampaknya kita masih saja gagal dalam menerima perbedaan sebagai anugerah dan keindahan yang sejati. Tinggal di negara multikultural juga tidak membuat isu rasisme kemudian tenggelam. Ribut-ribut soal rasisme akhir-akhir ini telah mencerminkan perilaku kita yang anti terhadap kebhinekaan. Kita terlalu nyaman untuk hidup dalam tempurung dan pandangan kita masing-masing tanpa berusaha untuk membuka mata, hati dan pikiran kita terhadap perbedaan itu sendiri.

***

Rasisme adalah sebuah sistem yang telah terorganisir dalam masyarakat,  menyebabkan adanya ketidaksetaraan dan ketidakadilan dalam kekuasaan, sumber daya, kapasitas dan peluang antar kelompok ras atau etnis. Rasisme dapat termanifestasi dalam kepercayaan, stereotip, prasangka atau diskriminasi. Hal Ini meliputi pengancaman dan penghinaan secara terbuka hingga fenomena yang tertanam dalam sistem dan struktur sosial. Dengan kata lain, rasisme merupakan prasangka terhadap sekelompok orang tertentu berdasarkan perbedaan persepsi, yang terkadang dianggap ekstrem. Rasisme atau rasialisme juga merupakan paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul.

Adanya perilaku yang dilatarbelakangi oleh paham ini ternyata berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental. Selain itu, rasisme dinilai berpengaruh terhadap adanya kesenjangan sosial di masyarakat. Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa dampak dari perilaku rasial yang kita lakukan bisa mengakar kuat hingga membentuk satu persepsi tertentu yang sulit untuk dilepaskan. Padahal, adanya perlakuan yang timpang akibat rasisme tersebut bukan hanya membawa sebuah jarak antar ras atau etnis, tapi juga luka bagi individu yang menjadi korban ketimpangan. Merasa dibedakan, direndahkan, dikucilkan, hingga membentuk sebuah asumsi dan juga perasaan tidak diterima, rendah diri, sampai menarik diri dari lingkungan sosialnya. Bukan tidak mungkin bersumber dari perasaan-perasaan tersebut, maka timbul hambatan-hambatan yang bisa membuat mereka gagal untuk berkembang menjadi versi terbaik dari diri mereka.

Toleransi Adalah Gerbang Penerimaan Pada Sebuah Perbedaan

Paradigma bahwa sebuah perbedaan tidak seharusnya ada. Atau pandangan bahwa segalanya memang sebaiknya sama itulah tanda bahwa kita sebaiknya kembali menyapa diri sendiri. Apa yang salah dengan diri kita? Ada yang salah dengan cara kita memandang dunia. Hidup di dunia yang ditinggali lebih dari ratusan ras dan etnis sudah seharusnya melahirkan pemahaman bahwa perbedaan adalah sesuatu yang mutlak. Tidak terhindarkan. Jadi, bukan tentang bagaimana membuat dunia sama dan seragam. Namun, tentang bagaimana kita melihat toleransi adalah sebuah anugerah Tuhan untuk kita saling bertoleransi. Mengapa? Karena bahkan dengan adanya perbedaan tersebut, setiap orang berhak memperoleh penerimaan dan juga kebahagiaannya. Hal inilah yang mendasari adanya interaksi yang sehat antar sesama. Keyakinan bahwa penerimaan diri adalah akar dari penerimaan hidup, lingkungan, makhluk dan alam semesta, maka sudah seharusnya manusia bersikap welas asih dalam menjalani kehidupannya. Karena pada dasarnya kita semua menginginkan adanya harmonisasi pada setiap apa yang kita jalani, termasuk dalam interaksi dengan sesama. Seperti yang telah digambarkan dalam formula kebahagiaan yaitu formula PERMA, salah satu hal yang bisa mendatangkan kebahagiaan adalah relationship atau adanya hubungan antara individu. Dari harmonisasi inilah kita bisa menciptakan lingkungan yang positif dan juga merangkul perbedaan itu sendiri.

***

Maka, terimalah perbedaan itu seperti ketika kita menerima diri kita sendiri. Menerima diri sebagai manusia yang memiliki kekurangan, kelebihan dan keunikannya masing-masing. Menerima dan bersikap welas asih adalah sebuah bentuk toleransi kita kepada sesama manusia yang saling membutuhkan. Tidak ada rasisme dalam kehidupan bertoleransi kita. Rasisme hanya akan hadir ketika siapapun tidak bisa menerima dirinya dan anugerah sejati yaitu perbedaan itu sendiri.

“We may have different religions, different languages, different colored skin, but we all belong one human race.” – Kofi Annan


Sumber gambar: www.unsplash.com

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*