Relationship Goals: Ketidaksempurnaan di Dalam Kesempurnaan yang Ditampilkan

Kalimat seperti “Wah, kalian relationship goals banget deh” mudah kita temui di kolom komentar seseorang yang mengunggah foto bersama pasangannya. Komentar tersebut menunjukkan anggapan sebagian orang bahwa relationship goals dapat diukur dari kemesraan yang diunggah seseorang ke media sosial. Namun kenyataannya, pasangan yang mengunggah kebersamaannya di media sosial secara berlebihan tidak selamanya memiliki hubungan yang sempurna. Ternyata, ada beberapa ketidaksempurnaan yang tertutupi oleh kesempurnaan foto yang diunggah.

Memahami Relationship Goals

Biasanya, foto yang dianggap sebagai relationship goals adalah foto pasangan yang menggambarkan hubungan yang dianggap ideal.  Foto tersebut akan menimbulkan harapan pada diri orang yang melihat agar suatu saat dapat memiliki hubungan yang sama idealnya. Misalnya, foto-foto saat mereka memakai baju yang serasi atau berpelukan. Tidak hanya itu, foto dengan keterangan yang menggambarkan keunggulan pasangan dan pencapaian yang telah diraih juga seringkali dianggap sebagai relationship goals. Singkatnya, foto-foto yang dianggap relationship goals biasanya selalu “sempurna”.

Apakah Hubungan Mereka Memang Sempurna?

Aktivitas mengunggah foto profil berdua memang dapat menunjukkan kualitas hubungan pernikahan yang tinggi. Kecenderungan pasangan menikah untuk mengunggah konten romantis akan meningkat ketika mereka sedang merasa puas dengan hubungannya. Begitu pula ketika seseorang sedang merasa lebih dekat dengan suami atau istrinya, maka mereka akan lebih sering mengunggah foto bersama pasangannya. Sehingga, semakin sering pasangan menikah mengunggah konten romantis maka terlihat pula bahwa kualitas hubungan mereka memang tinggi.

Tidak hanya pasangan menikah, individu juga merasakan kepuasan hubungan pacaran yang lebih tinggi jika pasangannya memperlihatkan hubungan mereka. Baik unggahan berupa status romantis maupun pemasangan foto berdua sama-sama memberikan kepuasan hubungan yang lebih tinggi. Pengakuan status hubungan di media sosial juga dapat memperkuat komitmen dan memperkuat kemungkinan hubungan akan bertahan setelah 6 bulan. Semakin banyak individu menuliskan, ketika ia menjalin hubungan, mengunggah foto bersama, dan menuliskan sesuatu di halaman media sosial pasangannya, maka semakin kuat komitmen mereka.

Akan tetapi, aktivitas mengunggah foto bersama pasangan tidak selamanya menunjukkan kesempurnaan hubungan mereka. Kegiatan mengunggah konten romantis secara berlebihan bisa jadi justru mengindikasikan adanya berbagai masalah.

Sarana Menyombongkan Diri

Pada remaja, unggahan romantis berlebihan merupakan sarana sesumbar atau menyombongkan diri. Unggahan romantis untuk menyombongkan diri akan meningkatkan harga diri pengunggahnya. Harga diri yang meningkat juga akan membuat remaja lebih percaya diri untuk kembali mengunggah konten romantis. Hal ini membuat terjadinya siklus antara aktivitas mengunggah konten romantis, peningkatan harga diri, peningkatan kepercayaan diri untuk mengunggah, dan kembali mengunggah konten romantis. Siklus tersebut yang kemudian membuat remaja banyak mengunggah konten romantis secara berlebihan.

Perasaan Tidak Bisa Dicintai dan Takut Diabaikan

Masalah lainnya di balik unggahan romantis di media sosial adalah ketika seseorang memiliki perasaan tidak dapat dicintai dan takut diabaikan. Perasaan tersebut membuat individu berpikiran bahwa hubungannya memiliki kualitas yang buruk. Pemikiran itu membuat individu menginginkan hubungan romantisnya lebih terlihat di media sosial. Untuk membuat dirinya merasa lebih baik, individu akan lebih sering mengunggah konten romantis.

Rasa Tidak Aman terhadap Perasaan Pasangan

Ketika seseorang merasa tidak aman dengan perasaan pasangannya, ia akan lebih banyak mengunggah konten romantis. Unggahan tersebut dibuat untuk memberikan gambaran bahwa hubungan yang dijalaninya baik-baik saja di hadapan teman-temannya. Pengguna media sosial menuntut profil seseorang untuk terlihat natural tanpa polesan. Dan seringkali tuntutan tersebut justru membuat individu memalsukan apa yang diunggah demi terlihat natural. Sama seperti hubungan romantis yang ditampilkan ke media sosial. Demi terlihat baik-baik saja, seseorang akan mengunggah konten romantis di saat ia merasa tidak aman dengan perasaan pasangannya.

Kejenuhan dalam Hubungan

Unggahan romantis juga dapat mengindikasikan kejenuhan yang dialami oleh seseorang saat menjalani hubungan. Ketika seseorang mengunggah konten romantis ke media sosial, ia menyadari unggahannya akan dilihat semua orang, termasuk pasangannya. Kesadaran bahwa ada orang lain yang melihat keromantisan yang diunggah tersebut dapat dianggap sebagai cara mencari perhatian pasangan. Unggahan yang dilihat semua orang akan dianggap lebih romantis dibandingkan ungkapan yang diungkapkan berdua. Perasaan yang muncul setelah melihat unggahan inilah yang dianggap dapat melindungi hubungan dari kejenuhan.

Unggahan romantis di media sosial secara berlebihan juga dapat membuat orang lain yang menyaksikan merasa tidak nyaman. Tidak sedikit orang yang merasa tidak peduli tentang hubungan romantis orang lain dan malah merasa terganggu dengan unggahan tersebut. Penggunaan media sosial secara berlebihan juga memiliki banyak dampak negatif untuk kesehatan mental dan keberlangsungan hubungan romantis itu sendiri.

Konten romantis yang kita temui di media sosial tidak secara pasti menunjukkan kesempurnaan hubungan pengunggah. Namun, tidak selamanya pula menunjukkan bahwa hubungan pengunggah bermasalah. Selama unggahan tersebut masih di dalam batas wajar dan tidak berlebihan, maka mengunggah konten romantis bukanlah sebuah kesalahan. Tapi kita juga perlu mengingat bahwa unggahan yang seringkali diberi label “Relationship Goals” bukanlah hubungan yang sempurna. Kita perlu kembali menjaga ekspektasi kita mengenai bagaimana hubungan romantis yang ideal agar tetap realistis.

Let others know the importance of mental health !
Total
2
Shares