Resiliensi pada Penyintas Kekerasan Seksual: Upaya untuk Memeluk Luka dan Mengasihi Diri Sendiri

 

Perjalanan kehidupan manusia tidak luput dari pengalaman traumatis. Entah itu karena kehilangan seseorang yang dicintai, kegagalan dalam hidup ataupun karena perilaku tidak menyenangkan dari orang lain. Berbagai pengalaman tersebut dapat memunculkan luka batin yang mendalam bagi seseorang.

Salah satu pengalaman yang menimbulkan trauma bagi seseorang adalah pengalaman kekerasan seksual. Tentu tak ada orang yang menginginkan untuk mengalami hal tersebut. Kekerasan seksual merupakan segala tindakan yang mengarah ke ajakan/desakan seksual dan segala tindakan yang tidak diinginkan oleh penyintas serta pemaksaan dalam melakukan hubungan seksual dan aktivitas seksual lainnya yang dapat menyakiti penyintas.

Kekerasan seksual berdampak besar bagi penyintas, baik secara fisik maupun psikologis. , dampak yang ditimbulkan yaitu trauma genital, kehamilan tidak dinginkan (KTD), disfungsi seksual dan penyakit menular seksual (PMS). , dampak yang dapat ditimbulkan diantaranya yaitu depresi, kecemasan, gangguan stress pasca trauma (PTSD), fobia, ketakutan dalam melakukan hubungan seksual, ketakutan akan kehamilan akibat perkosaan, hingga keinginan untuk bunuh diri. Secara sosial, penyintas kekerasan seksual tidak lepas dari sematan stigma berupa pengucilan hingga penolakan.

Berbagai dampak yang dirasakan oleh penyintas kekerasan seksual tentu saja akan mempengaruhi kualitas hidupnya. Sebagian penyintas kesulitan dalam proses pemulihan trauma dan terus terpuruk pasca kejadian. Namun terdapat sebagian penyintas kekerasan seksual yang mampu beradaptasi dan memaknai pengalamannya. Keterampilan untuk beradaptasi dan memaknai suatu kejadian traumatis bisa disebut dengan resiliensi. Resiliensi merupakan proses dinamis yang berfokus pada pemulihan dan proses adaptasi positif terhadap keadaan yang sulit sehingga individu mampu mencapai keseimbangan fisik maupun mental.

Keterampilan resiliensi penting bagi penyintas kekerasan seksual karena menguatkan individu untuk kembali dan beradaptasi secara positif dari pengalaman tidak menyenangkan. Tentu kemampuan resilien ini bisa diibaratkan dengan otot. Apabila dilatih secara tekun, maka akan memberikan manfaat yang besar ketika menghadapi suatu peristiwa yang menyakitkan. Ada beberapa cara untuk dapat melatih otot relisiensi yang ada di dalam diri. Berikut ini beberapa cara melatih otot resiliensi:

Pengelolaan Emosi

Pengelolaan emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengambil alih kontrol atas emosi yang sedang dirasakan. Penyadaran akan setiap emosi yang hadir memberikan seseorang untuk dapat memberi jeda antara dirinya dan emosi yang sedang dirasakan. Berjeda sejenak dapat berguna supaya tidak terlalu larut dalam emosi dan dapat mengambil tindakan yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Diibaratkan emosi “sulit” seperti rasa benci, frustrasi, perasaan bersalah maupun amarah adalah suatu badai, kemampuan mengelola emosi membuat orang tersebut mampu menjaga ketenangan dalam dirinya dan berjalan beriringan dengan badai yang sedang terjadi.

Optimisme

Optimisme merupakan keyakinan pada diri seseorang dalam memandang suatu kejadian akan menghasilkan suatu kebermanfaatan bagi dirinya maupun orang lain. Rasa optimis membantu individu untuk dapat memiliki orientasi pada pemecahan masalah, cepat pulih dari rasa kecewa dan meningkatkan rasa harga diri. Tentu yang perlu diadaptasi bagi seseorang yang pernah mengalami kejadian traumatis adalah jenis optimis yang realis. Optimis yang realis berpandangan bahwa keadaan akan membaik, namun juga menyadari bahwa dirinya bertanggungjawab untuk mewujudkan keadaan yang diharapkan. Tidak semata-mata berharap bahwa keadaan yang diharapkan akan muncul begitu saja. Adanya rasa optimis, seseorang mampu mengakui realita “pahit” yang terjadi padanya, namun mengemasnya dengan pandangan bahwa keadaan akan membaik pada akhirnya.

Efikasi diri

Keyakinan yang dimiliki individu bahwa ia mampu memecahkan masalah yang dialami dan mencapai kesuksesan adalah bentuk dari efikasi diri. Keyakinan bahwa individu mampu memegang kendali atas reaksi terhadap kejadian traumatis dapat dijadikan pertahanan dari munculnya depresi maupun kecemasan dan meningkatkan ketahanan serta ketangguhan dalam menghadapi kejadian trauma. Membuat target capaian, melihat gambaran besar serta mengemas kembali setiap tantangan dengan perspektif yang optimis akan memupuk keyakinan diri dalam menyembuhkan luka.

Introspeksi Diri

Intorspeksi diri merujuk pada kemampuan individu untuk merefleksikan kejadian sebelumnya serta memahami penyebab dari permasalahan yang mereka hadapi. Kemampuan ini penting bagi penyintas kekerasan seksual agar mampu menganalisis dan memahami mengenai akar masalah dan penyebab dari kekerasan yang ia alami. Terkadang untuk mencapai pemahaman ini dibutuhkan bantuan dari seorang profesional yang dapat memberikan perspektif lain dalam membingkai kejadian trauma.

Self Compassion

Self compassion atau welas asih adalah kepekaan dalam mengakui adanya penderitaan dalam diri serta didukung oleh hasrat untuk meringankan penderitaan tersebut. Layaknya memperlakukan seorang teman atau orang yang disayang dengan penuh penerimaan dan kasih sayang ketika musibah datang, welas asih diwujudkan dengan bentuk yang serupa, namun kepada diri sendiri. Seseorang yang memiliki welas asih dapat dikatakan menghargai dan menerima aspek kemanusiaan dalam dirinya. Perjalanan dalam penyembuhan luka akan menemui kegagalan, rasa frustrasi maupun tidak selalu sesuai ekspektasi yang diharapkan, namun inilah realita dan dinamika kehidupan yang tak jarang dialami oleh banyak manusia. Saat diri tidak menyangkal realita ini, maka akan semakin merasakan manisnya welas asih yang sebenarnya sudah tertanam dalam diri.

***

Proses untuk bangkit dan beradaptasi tentu saja adalah proses yang berat serta melelahkan, secara fisik maupun mental. Perlu disadari bahwa meminta tolong kepada profesional merupakan suatu tindakan keberanian yang besar dan bukan sebagai bentuk kelemahan. Peristiwa yang sudah berlalu tentu tidak bisa diubah, namun makna dan cerita terhadap suatu kejadian traumatis adalah jangkauan yang dapat dikontrol dan dapat diubah oleh penyintas. Layaknya menyemai benih, proses pemulihan luka akibat kekerasan seksual adalah perjalanan yang panjang, namun dapat berujung pada merekahnya buah ketangguhan dan cinta tanpa syarat kepada diri sendiri.

 

 


Artikel ini adalah Sumbang Tulisan dari Risma Inayah. Risma adalah seorang mahasiswa psikologi yang sedang belajar memahami diri sendiri untuk memahami orang-orang di sekitarnya. Risma tertarik pada isu mengenai gender, perempuan dan resiliensi. Ia dapat dihubungi melalui  instagram @rismainayahh dan email di [email protected]


Sumber gambar: www.unsplash.com

Let others know the importance of mental health !