Saat Amarah Mengalahkan Logika, Apa yang Terjadi dalam Otak Kita?

Selama ini kita kerap berpendapat bahwa rasionalitas dan emosionalitas adalah dua hal yang bertolak belakang. Begitu juga dalam proses pengambilan keputusan. Anggapan bahwa pengambilan keputusan yang rasional tidak disertai oleh proses emosi adalah hal yang kurang tepat.  Karena sesungguhnya, pengambilan keputusan kita tidaklah benar-benar 100% rasional dan hanya mengandalkan logika saja. Emosi adalah hal penting dalam proses memilih dan mengambil keputusan.

Manusia Punya Otak Emosional dan Otak Rasional

Kita memiliki lobus frontal yang berperan dalam pengaturan proses berpikir dan pemecahan masalah. Sedangkan kita juga memiliki bagian otak yang dinamakan sistem limbik yang berperan untuk menghasilkan emosi dan motivasi. Pengambilan keputusan yang efektif tidak akan berhasil dilakukan bila sistem limbik ini tidak bekerja. Kita tidak akan bisa memilih apabila sama sekali tidak ada emosi dan motivasi.

Pengambilan keputusan oleh otak rasional berlangsung lebih lambat dan membutuhkan proses yang tidak otomatis. Sedangkan pengambilan keputusan yang didominasi oleh otak emosional berlangsung cepat. Hal ini sangat menguntungkan ketika seseorang dalam kondisi mendesak. Contohnya keadaan ketika kita sedang berhadapan dengan binatang buas. Jika kita serahkan kepada otak rasional yang penuh pertimbangan, kita akan segera dilahap habis oleh binatang itu.

Evolusi Otak Emosional dan Otak Rasional

Dalam proses bagaimana otak tumbuh, otak emosional sudah ada jauh sebelum otak rasional. Dari akar otak yang paling primitif, yaitu batang otak, terbentuklah suatu pusat emosi. Yang mana suatu pusat emosi itu memiliki peran dasar berupa indra penciuman yang sering disebut sebagai lobus olfaktori. Dari lobus olfaktori ini berkembanglah kemampuan seseorang dalam memilah bau dan mengirimkan pesan-pesan reflektif ke seluruh sistem saraf yang membuat kita mampu untuk menggigit, meludah, mendekati, atau berlari.

Selain itu, batang otak yang membentuk pusat emosi juga memunculkan lapisan-lapisan baru. Lapisan-lapisan baru itu  yang mengelilingi dan membatasi batang otak seperti sebuah cincin. Lapisan yang seperti sebuah cincin itu sering disebut sebagai sistem limbik yang memiliki kegunaan dasar berupa motivasi, emosi, belajar dan memori.

Kolaborasi antara lobus olfaktori dan sistem limbik membuat seseorang mampu mengenali bebauan, membedakan bebauan, dan membandingkan bebauan yang ada sekarang dan dimasa lalu. Proses kolaborasi inilah yang secara harfiah disebut sebagai “otak hidung”, yaitu dasar yang belum sempurna dari neokorteks, yakni otak rasional.

Fenomena Sosial tentang “Pembajakan Emosi”

Baru-baru ini, dunia internet sedang dikejutkan oleh video dan pemberitaan tentang seorang pria yang mengamuk kepada seorang aparat polisi yang menilangnya. Yang menarik adalah, pria tersebut tega menghancurkan motor (dengan cara yang beringas) yang ditilang di depan aparat polisi dan khalayak umum. Menariknya lagi, motor tersebut bukanlah miliknya sendiri. Motor tersebut adalah kepunyaan sang kekasih yang diboncengnya saat kejadian penilangan terjadi.

Menjadi sebuah ulasan menarik ketika pria itu seolah dibutakan oleh emosinya dan menenggelamkan rasionalitas. Dalam video singkat itu, kesan marah besar, kesal hati, mengamuk, dan kurang kontrol menjadi komentar yang umum disematkan bagi pria tersebut. Poin penting dalam kasus itu ketika rasionalitas pria itu mulai merambat naik ke permukaan, pria itu meminta maaf dan merasa menyesal atas perbuatannya.

Secara sadar ataupun tidak sadar hal ini juga seringkali terjadi pada diri seseorang termasuk dalam diri penulis meskipun dalam skala yang tidak sebesar kejadian viral itu. Ketika kita kembali merenungkan dan meninjau kembali peristiwa amarah kita yang terakhir kali, kita rasa hal tersebut tampaknya tidak perlu dilakukan atau tidak satu-satunya jalan keluar yang harus dilakukan. Bagi orang awam biasa disebut dengan lupa diri. Namun bagi Daniel Goleman disebut sebagai pembajakan emosi.

Bagaimana Proses Pembajakan Emosi?

Dalam anatominya, bagian otak yang paling bertanggung jawab atas pembajakan itu ialah amigdala, sebuah pusat di sistem limbik di dalam otak kita. Joseph LeDoux, seorang ahli saraf di Center for Neural Science di New York University, adalah orang pertama yang menemukan peran kunci amigdala dalam otak emosional. Ia mengungkapkan bahwa arsitektur otak memberi tempat istimewa bagi amigdala sebagai penjaga emosi, penjaga yang mampu membajak otak.

Selain sebagai aktor utama dalam otak emosional, amigdala juga berperan sebagai gudang ingatan emosional. Bagi beberapa ahli saraf, hipokampus adalah bagian yang berperan dalam hal ingatan emosional itu. Namun bagi LeDoux, hipokampus hanyalah berperan untuk mengenali sebuah benda sedangkan amigdala yang memberikan memori terhadap benda tersebut. Misalnya, ketika Anda melihat foto mantan, hipokampus bekerja untuk mengenali bahwa itu adalah foto mantan Anda. Sedangkan bagian yang mengingatkan bahwa wajah itu telah memberikan rasa cinta dan rasa sakit dalam waktu yang sama adalah peran dari amigdala.

Amigdala memindai pengalaman dan membandingkan antara apa yang sedang terjadi sekarang dan yang terjadi di masa lampau. Oleh sebab itu, seringkali kita dibingungkan dengan ledakan emosi yang kita miliki, yang mana terkadang kita juga belum memiliki pembendaharaan kata untuk memahami peristiwa-peristiwa tersebut.

LeDoux telah membuktikan jika ketika suatu stimulus diterima oleh indra maka stimulus akan disampaikan ke talamus (bagian otak penerima informasi), kemudian talamus membagi informasi stimulus tersebut dalam dua cabang. Salah satu cabang membawa sebuah informasi mentah atau penuh akan ingatan emosional, sedangkan cabang yang lain membawa informasi lengkap yang sangat terperinci. Informasi mentah itu dikirim melewati sebuah sirkuit rahasia menuju amigdala sedangkan informasi terperinci disampaikan ke neokorteks.

Dalam percabangan ini, memungkinkan amigdala mulai memberi respon lebih awal sebelum neokorteks. Seperti sebuah kendaraan yang mengangkut beban berat, respon neokorteks sedikit lambat karena harus melewati berbagai pertimbangan yang melibatkan bagian-bagian otak lainnya. Pada saat itulah, apabila amigdala atau informasi mentah telah membajak kita, seolah tidak melibatkan neokorteks dalam memberi respon, kita akan menghasilkan perilaku sebelum otak sepenuhnya memahami apa yang kita lakukan.

Sebuah Amarah

Amarah agaknya yang paling susah diajak berkompromi.  Dolf Zillman ahli psikologi di University of Alabama menemukan bahwa pemicu amarah adalah perasaan terancam akan bahaya. Ancaman tersebut dapat dipicu bukan saja oleh ancaman fisik langsung melainkan juga oleh ancaman simbolis seperti berkaitan dengan harga diri, diperlakukan tidak adil, dicaci-maki atau diremehkan. Ancaman-ancaman itulah yang menjadi pemicu awal bagi amigdala untuk membangkitkan energi, yang lonjakan energinya memberikan alarm tubuh untuk bertempur atau kabur (fight or flight). Barangkali inilah yang menjadi sumber utama letupan amarah yang sering terjadi pada diri kita.

Akan tetapi, sirkuit emosi dalam otak kita tidak hanya terletak pada itu. Neokorteks juga memiliki peran akan emosi yang ada pada diri seseorang. Meskipun harus melewati proses berpikir yang penuh pertimbangan, seperti ketika kita menderita kehilangan lalu menjadi sedih, merasa bahagia setelah merebut kemenangan, atau merenenungkan ucapan teman kemudian merasa sakit hati. Neokorteks-lah yang sering menawarkan amarah yang lebih terukur atau menurut Benjamin Franklin dianggap sebagai amarah yang mempunyai alasan yang benar.

Meskipun demikian, tidak sedikit seseorang yang memiliki perspektif jika luapan amarah merupakan sesuatu yang lebih baik daripada memendamnya. Seperti pendapat para psikodinamika bahwa jika kita tidak mengungkapkan amarah, maka ia akan lewat cara lain yang lebih destruktif, seperti serangan jantung. Apakah benar demikian?

Martin Seligman memaparkan dalam bukunya sebuah penelitian pada 255 mahasiwa kedokteran yang menjalani serangkaian tes kepribadian untuk mengukur sikap permusuhan. Dua puluh lima tahun kemudian, mereka yang paling pemarah mendapat serangan jantung lebih banyak lima kali lipat daripada yang tidak pemarah. Kajian lain menemukan jika para pria yang paling beresiko terkena serangan jantung adalah mereka yang bersuara lebih meledak-ledak, lebih mudah jengkel, dan lebih mudah menumpahkan kemarahan.

Keselarasan Emosi dan Nalar

Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence memberitahukan bahwa di dalam otak kita, sakelar peredam ledakan amigdala itu terletak di ujung lain sirkuit penting neokorteks, yaitu di lobus-lobus prefrontal. Lazimnya, wilayah prefrontal mengatur reaksi emosional kita sejak awal. Di sanalah tempat dimana informasi dikoordinasikan lalu direncanakan dan diorganisasikan untuk menuju suatu sasaran, termasuk sasaran emosional. Namun sayangnya kita sering tidak tertarik proses panjang yang neokorteks tawarkan. Kita lebih memilihh amigdala yang mengambil alih kendali apa yang kita kerjakan sewaktu neokorteks masih dalam proses menyusun suatu keputusan. Ringkasnya kita selalu terburu-buru.

Arti dalam sebuah buru-buru bukan berarti kita harus memikirkan apa yang membuat kita marah. Diane Tice, seorang ahli psikologi pada Case Western Research University mengatakan jika semakin lama kita berpikir tentang apa yang membuat kita marah, maka akan semakin banyak alasan kuat atas pembenaran bahwa diri kita memang seharusnya marah. Tetapi, memikirkan segala sesuatunya dengan titik pandang yang berbeda akan dikit demi sedikit memadamkan api kemarahan.

Ungkapan Tice ini dibuktikan lewat percobaan yang dilakukan oleh Dolf Zillman. Zillman melakukan percobaan dengan meminta asistennya memaki-maki dan memanas-manasi para sukarelawan. Para sukarelawan dibagi menjadi dua kelompok, satu tidak diberi kesempatan berpikir sedangkan yang lainnya diberikan kesempatan berpikir. Pada sukarelawan yang tidak diberikan waktu untuk memikirkannya, mengatakan bahwa balas dendam adalah rasa puas yang ingin didapatkannya. Sedangkan sukarelawan yang lain diberikan kesempatan berpikir, yang berupa penjelasan salah satu asisten lain jika asisten (yang memaki-maki) itu sedang mengalami tekanan yang hebat dan sedang gelisah karena akan menghadapi  ujian akhir, lebih memiliki empati dan mengungkapkan belas kasihan atas keadaannya.

Oleh karena itu, apabila pria yang menghancurkan motor kekasihnya tersebut tidak berdiri dipikiran bahwa aparat merugikannya dan lebih memilih berdiri dipikiran yang mengatakan bahwa aparat tersebut bertugas untuk menertibkan lalu lintas guna keselamatan dirinya dan orang lain, sangat mungkin jika ia tidak meluapkan amarah yang akhirnya ia sesali sendiri.

Amarah itu tak pernah tanpa alasan, tetapi jarang yang alasannya benar” Benjamin Franklin.

 

Sumber

Emotional Intelligence, 1995. Daniel Goleman

Authentic Happines: Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential For Lasting Fulfillment. Karya: Martin E.P. Seligman, Ph.D. Tahun 2002.

Emotion and the Limbic System Concept, Concept in Neuroscience, 2, 1992. Joseph LeDoux

Emotional Memory System in the Brain, Behavioral Brain Research, 58, 1993. Joseph LeDoux

Controlling Anger: Self-Induce Emotion Change, Diane Tice dan Roy F. Baumeister.

Mental Control of Angry Aggression, Dolf Zillman.

 

Artikel ini adalah sumbang tulisan dari Dimas Huda Mahendra, seorang Ilmuwan Psikologi asal Surakarta yang sangat tertarik dengan Psikologi Positif, Psikoterapi, dan Konseling. Dimas dapat dihubungi di akun Instagram: Instagram.com/dimshm

Let others know the importance of mental health !