Saat Psikopat Jatuh Cinta

Tidak ada yang ingin dilahirkan menjadi psikopat.

Abnormalitas kadar hormon, disfungsi area otak, penolakan di masa lalu, dan kekerasan yang pernah dialamilah yang berkontribusi meningkatkan risiko seseorang menjadi berkepribadian psikopat.

Di balik stigma negatif masyarakat terhadap seseorang dengan kecenderungan psikopat, ada perasaan tersembunyi yang hadir dalam diri mereka.

Sseperti manusia pada umumnya, secara kodrat seseorang dengan kecenderungan psikopat juga memiliki perasaan. Lalu, bagaimana sesungguhnya orang dengan kecenderungan psikopat meletakkan perasaannya?

Perilaku Seseorang dengan Kecenderungan Psikopat yang Tersirat

Selama ini, sosok psikopat erat dikaitkan dengan pelaku kriminal dengan tingkat kasus kejahatan ekstrem dan sadis. Psikopat merupakan sebuah kecenderungan perilaku. Tidak hanya pembunuh sadis atau kriminal yang tidak manusiawi yang bisa dikatakan “psikopat”.

Orang dengan kecenderungan psikopat berperilaku penuh kontrol terhadap orang lain. Mereka sulit untuk peduli dengan orang lain, sangat mementingkan kebutuhan diri sendiri, tidak menyesal saat menyakiti hati orang lain, dan seringkali bersikap arogan. Meskipun secara permukaan seorang dengan kecenderungan psikopat terlihat menawan, sebenarnya ia sedang bersembunyi di balik dirinya yang asli.

Sakitnya masa lalu, buruknya pengalaman masa kecil, dan trauma yang begitu dalam yang dialami oleh psikopat jika ditekan ke alam bawah sadar dapat muncul dalam bentuk yang negatif. Layaknya seorang manusia yang diberkahi akal dan hati, psikopat pun tetap memiliki keduanya.

Hubungan Romantis Orang dengan Kecenderungan Psikopat

Seseorang dengan kecenderungan psikopat tetap mampu merasakan duka, kehilangan, bahkan cinta. Ia dapat dengan mudah menarik perhatian lawan jenis karena ia memiliki kecenderungan untuk memanipulasi. Banyak orang dengan kecenderungan psikopat yang justru popular di berbagai kalangan dan bisa beradaptasi dengan lingkungan. Mereka mampu berperilaku demikian karena mereka tidak menunjukkan diri yang asli. Sebaliknya, jika mereka menunjukkan siapa mereka sebenarnya, mereka takut tidak diterima dan tidak disukai oleh orang-orang. Termasuk dalam hal ketertarikan dengan lawan jenis.

Seseorang dengan kecenderungan psikopat memiliki kelemahan dalam membangun dan mempertahankan hubungan romantis jangka panjang dengan orang lain. Ketika seseorang dengan kecenderungan psikopat mencintai orang lain, ia mengalami kesulitan dalam membangun kedekatan yang intim.

Penyebabnya adalah karena adanya kecenderungan untuk berperilaku agresif, tidak setia, bahkan sampai melakukan kekerasan baik secara fisik, emosional, maupun seksual. Ada hasrat untuk mendominasi, menipu, dan merendahkan lawan jenis tanpa adanya rasa bersalah. Akibatnya secara jangka panjang, muncul ketidaknyamanan sampai ketidakberhargaan yang dirasakan oleh pasangannya.

Cara Orang dengan Kecenderungan Psikopat Mencintai

Seseorang dengan kecenderungan psikopat memiliki kemampuan merasakan jatuh cinta. Sayangnya, bentuk cinta mereka terhadap orang lain dipersepsi “berbeda” dan cenderung disfungsional. Secara psikologis, seorang dengan kecenderungan psikopat lebih memfokuskan diri terhadap kepuasan dirinya sendiri. Padahal, dalam setiap hubungan antar manusia, dibutuhkan pemahaman dari kedua belah pihak untuk dapat saling bertukar empati. Hal tersebut disebabkan oleh keadaan fungsi otak yang terganggu dalam hal self-processing. Ia kesulitan memberi makna bahwa hubungan romantis sejatinya terdiri atas dua orang yang sama-sama berperan penting, bukan hanya dirinya saja.

Terdapat tiga siklus yang dialami oleh psikopat ketika ia mencintai seseorang: idealize, devalue, discard.

“Tahap 1 Idealize: Akulah yang Paling Baik Untukmu”

Hubungan yang berjalan di awal-awal akan terasa begitu menyenangkan. Seorang psikopat akan memberikan versi cinta terbaik dari dirinya: memberi sanjungan, mencurahkan perhatian, dan memberikan segalanya yang dibutuhkan oleh pasangan. Ia akan menciptakan kesan bahwa dia adalah sosok yang sempurna. Inilah yang disebut dengan kondisi Love Bombing, yaitu muncul euforia cinta yang besar hingga membuat diri sendiri yakin bahwa seorang psikopat yang mencintainya itu adalah satu-satunya yang terbaik. Kondisi ini justru menjadi tanda awal dari abusive relationship.

“Tahap 2 Devalue: Aku Mulai Bosan dan Kamulah yang Salah”

Tidak seperti pada tahap satu dengan intensitas perhatian yang berlebih, pada tahap ini seorang psikopat mulai mengubah taktiknya. Seorang psikopat akan mulai memberikan atensi dalam dosis yang sedang, bahkan mulai menurunkan kadar perasaannya terhadap pasangan. Seiring berjalannya waktu, mulai timbul perlakuan-perlakuan negatif dari seorang psikopat, tetapi pasangannya tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha keras untuk menerima atas nama toleransi. Ketika pasangan sudah mulai merasa renggang, seorang psikopat ini justru akan menyalahkan pasangannya atas ketidakharmonisan hubungan yang mulai terjadi. Hingga pada akhirnya, yang tersisa dari sebuah hubungan romantis itu adalah ketidakberdayaan dan kehilangan nilai diri dari pasangan.

“Tahap 3 Discard: Kamu Tidak Lagi Berharga Untukku”

Pada tahap ini, seorang psikopat telah berhasil membuat pasangannya tidak berharga dan merasa bersalah. Hal yang membuat demikian adalah memori indah yang sukses diciptakan seorang psikopat pada saat hubungan mereka berada di tahap Idealize telah menjerumuskan pasangannya untuk terjebak pada kenangan di awal hubungan. Akhir dari hubungan ini bisa jadi berupa kekerasan fisik dan emosional yang berpengaruh terhadap psikis pasangan. Sementara itu, seorang psikopat akan lari dari tanggung jawab dan meninggalkan pasangannya dalam keadaan trauma mendalam.

Seseorang dengan kecenderungan kepribadian psikopat sebenarnya sama dengan manusia pada umumnya. Mereka tetap bisa merasakan sedih, senang, cinta. Mereka mampu bergaul, bersosialisasi, bahkan memimpin suatu organisasi. Hanya saja, mereka memiliki kecenderungan kepribadian psikopat yang mendominasi. Kecenderungan itulah yang menurunkan kemampuan mereka untuk merasakan apa yang orang lain rasakan.

Oleh karena itu, kita tidak bisa menilai seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak dominan. Sebab setiap orang memiliki keutuhan diri yang terdiri atas kebaikan dan keburukan.