Sampai Kapan Kita Takut Mencintai?

Teruntuk kita yang (mungkin) sedang bersandiwara menutupi perasaan rindu. Ingin menyayangi sekali lagi, tetapi tidak bisa.

Teruntuk kita, yang sedang takut mencintai lagi karena merasa gagal menjadikan dia orang yang terakhir di hidup kita.

“Love when you are ready, not lonely.”

Bukan hati kita yang salah tempat untuk memberi kasih sayang. Bukan diri kita yang sepenuhnya salah. Hanya saja diri ini sedang bertumbuh memperbaiki diri untuk menemukan figur yang memang layak berproses bersama.

Rasa takut ketika akan memulai kembali mencintai sebenarnya berasal dari rasa takut dalam diri yang belum sepenuhnya sembuh. Takut untuk tidak diterima, takut untuk disalahkan, dan takut untuk disakiti kembali. Maka dari itulah, kita seringkali lebih memilih mengunci perasaan dalam-dalam dan mencoba memulihkannya terlebih dahulu.

Bukan Perkara Menghabiskan Waktu dengan Orang yang Salah

Saat berada pada titik jenuh tertentu, mungkin kita sempat berpikir mengapa kita pada akhirnya mengakhiri sebuah hubungan. Pada satu waktu, kita pernah merasa menyesal karena telah menghabiskan waktu dengan orang yang salah. Hubungan yang di awal-awal membuat orang lain ingin berada di posisi kita. Bukankah lebih baik berakhir jika setiap bersama yang ada hanya menyakiti diam-diam. Perbedaan prinsip, sudut pandang, sikap, dan nilai yang tidak bisa lagi dikompromikan.

Bukankah kita berhak bahagia dan lepas? Terkadang, kita terlalu terburu-buru menilai sebuah keputusan untuk berpisah. Berpisah tidak selalu berarti memutus hubungan kedua pihak, tetapi bisa jadi bentuk menyayangi diri sendiri. Nyatanya, kita hanya sedang membebaskan diri dari rasa sedih dan bersiap membuka diri untuk keadaan yang lebih baik. Berpisah bisa menjadi turning point dalam hidup.

Menerima Perpisahan Memang Sesulit Memaafkan dan Mencintai Diri Sendiri

Tidak mudah untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa kita baik-baik saja dengan masa lalu kita, sementara kenyataannya tidak. Tidak mudah menerima perpisahan meskipun setiap ada orang yang bertanya tentang hubungan kita, kita menjawab dengan lapang dada. Mengapa? Karena mencintai dan memaafkan diri kita seutuhnya adalah fase yang paling menantang di tengah-tengah usaha kita menerima. Self-love adalah hal yang paling kita butuhkan saat merasa takut menjalin hubungan dengan orang lain.

Diri ini juga butuh dipeluk, diperhatikan, disayangi, sebagaimana kita menaruh rasa sayang yang hebat pada seseorang. Beri waktu dan ruang untuk diri kita, agar bertambah kuat dengan caranya dan berproses dengan bijaksana. Suatu hari nanti, hati akan sembuh, rasa takut akan hilang perlahan, dan diri ini akan kembali mencintai.

“Pain is part of being human… suffering is optional.”

Berlari dari Rasa Kecewa Tidak Pernah Menyembuhkan

Kita semua pernah berada di titik terlemah saat merasa hanya ingin berlari dari rasa sakit. Kita ingin dia juga merasa kehilangan sebesar kita kehilangan dia. Kita ingin dipercaya dan diinginkan lagi seperti kita yang dulu pernah percaya dan begitu menginginkan dia. Pikiran yang dihuni oleh emosi negatif, penyesalan, amarah, dan kegelisahan karena merasa betapa sulitnya membangun rasa percaya pada orang memang memberatkan. Namun, apapun itu rasanya, sebenarnya kita hanya sedang ingin mengabaikan emosi-emosi itu.

Dan seberapa kuat kita mengabaikan emosi negatif, mereka akan tetap ada sampai kita berhenti menyalahkan keadaan.

Philophobia: Takut Mencintai

Sebuah penelitian mengatakan bahwa saat kita takut mencintai orang lain sebenarnya karena di masa kecil kita kurang mendapatkan kasih sayang. Berasal dari suasana di keluarga yang kurang harmonis dan lingkungan sosial yang kurang hangat dalam menunjukkan cintanya. Dari situ kita belajar dan pada akhirnya kita terbiasa untuk tidak menunjukkan cinta. Kita menjadi sulit mempertahankan hubungan yang stabil dan jangka panjang. Namun, kita tidak bisa memilih di kehidupan yang seperti apa kita bisa bebas mencintai dan dicintai.

“Hearts will never be practical until they are made unbreakable.”

The Wizard of Oz

Seberapa besar kita merasa takut untuk mencintai seseorang, pada akhirnya kita akan sulit melawan keinginan untuk mencintai. Sebab cinta itu sendiri adalah candu. Kita, manusia, yang takut mencintai didominasi oleh kecemasan yang akarnya berasal dari masa lampau. Padahal, kita memiliki kebutuhan emosi untuk mencintai dan dicintai. Kita akan tetap ingin memberi cinta dalam bentuk yang berbeda-beda, dalam cara kita masing-masing. Tubuh kita begitu hebat mengatur itu semua karena setiap kita mencintai, otak akan berproses menghasilkan hormon yang menciptakan rasa senang.

Jadi, mau sampai kapan takut untuk mencintai?

Let others know the importance of mental health !
Total
68
Shares