Sayangnya, Kita (Bisa) Terperangkap dalam Kehidupan Orang Lain

A flower does not think of competing with the flower next to it. It just blooms.” – Zen Shin

Kita, terlalu sibuk melihat dunia orang lain sampai lupa kalau kita juga punya dunia.

Kita ingin memiliki keluarga seharmonis dia, memiliki prestasi sehebat dia, memiliki pasangan sebaik dia, memiliki kesempatan berkarir sebanyak dia. Dia, siapapun itu yang sedang kita bandingkan dengan diri kita telah menjadi pusat perhatian. Sampai kita lupa untuk memeluk diri kita yang ternyata sedang berjuang untuk tidak menjadi dirinya sendiri.

Kita Adalah Sebuah Perjalanan Hidup

Setiap langkah untuk mencapai cita dan cinta adalah sebuah perjalanan. Kita sebagai pemegang kendali sekaligus pengemudi akan membawa sendiri harapan-harapan kita agar sampai pada tujuannya. Seiring berjalannnya waktu dan seiring kita membuka mata, kita akan banyak belajar dari orang lain. Menemukan sesuatu yang bisa dipetik dari kehidupan orang lain. Namun, bisakah kita untuk tidak terlena pada kehidupan orang lain tersebut?

Yang seringkali dialami adalah kita terlena. Kita begitu mengagung-agungkan kehidupan orang lain. Nampaknya, tanpa sadar kita sering lupa bahwa kita sedang dalam proses belajar. Belajar membawa harapan-harapan itu tadi ke tempat tujuan. Jika kita mempertahankan diri untuk fokus pada kehidupan orang lain, kita justru akan menemukan titik lemah dari diri. Kita akan mulai merasa rendah diri dan tidak percaya pada kemampuan diri, maka dari itu berhati-hatilah. Di atas langit akan selalu ada langit. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, cerita hidup akan tetap berjalan.

Terjebak pada Sesuatu yang Tidak Sepenuhnya Kita Tahu

Membandingkan diri dengan orang lain memang tidak bisa dihindari. Kita melihat diri kita dari bagaimana orang lain menjalani kehidupannya. Kita menilai orang lain dan memasukkan nilai-nilai yang ada tersebut di diri kita. Padahal kita sedang ‘terjebak’ pada kehidupan orang lain yang tidak seutuhnya kita ketahui.

Memang sudah menjadi kodrat manusia untuk selalu ingin lebih unggul dari orang lain. Sayangnya, kehadiran orang di sekitar, idola di luar sana, dan orang-orang yang kita kagumi justru bisa jadi bumerang yang pada akhirnya membuat kita merasa inferior.

Membandingkan diri tidak hanya berlangsung di kehidupan nyata. Di media sosial pun kita tidak sadar membandingkan seberapa banyak comments, likes, followers kita dengan orang lain. Membandingkan diri dengan orang lain membuat kita termotivasi untuk menjadi lebih hebat, tetapi pada waktu yang bersamaan, kita juga merasa tidak sebaik pencapaian hidup yang dialami orang lain.

Kita berhak percaya bahwa masing-masing dari kita memiliki waktunya sendiri untuk berhasil.

Sayangnya, Kita Memiliki Kesempatan Kehilangan Diri Sendiri

Kita cenderung menyamakan alur hidup dengan orang yang kita pandang hebat. Punya banyak prestasi, aktif organisasi, berteman banyak bahkan sampai lintas negara, punya kesempatan beasiswa untuk studi lanjut, bekerja di perusahaan ternama, punya kesempatan menikah dengan orang terpilih dan memiliki anak, dan kebahagiaan-kebahagiaan lain yang tidak kita tahu sepenuhnya.

Hanya diri sendiri yang mampu mengelola hati seberapa ingin kita fokus untuk mengembangkan diri. Sejatinya, semakin kuat kita membandingkan diri dengan orang lain, semakin besar peluang kita untuk kehilangan diri sendiri.

Comparison is the death of joy.” -Mark Twain

Membangun hubungan positif dengan orang lain mungkin mudah saja bagi kita. Namun, apa kabar dengan membangun hubungan baik bersama diri sendiri? Dengan berhenti menjatuhkan dan meremehkan diri sendiri karena belum bisa berhasil seperti orang lain, kita sudah berdamai dengan diri sendiri. Kita bersiap untuk menengok ke dalam diri, hal apa saja yang bisa diperbaiki.

Kita boleh membandingkan diri kita tapi dengan kita yang dulu. Agar proses menjadi dewasa itu terasa.

Sejenak, Perhatikan Kekuatan Dalam Diri Kita

Sulit untuk merasa cukup dengan diri kita, sampai kita berhenti memuja kehidupan orang lain. Karena, tidak ada pekerjaan yang lebih sulit daripada menjadi diri sendiri.

Untuk sementara waktu, merasa ingin menjadi hebat seperti orang lain tidak masalah. Namun, untuk waktu yang lama, kondisi seperti itu akan sangat melelahkan. Kita hanya melihat orang lain dari permukaan, tanpa mengetahui usaha kerasnya sampai menjadi seperti saat ini.

Saat merasa tidak cukup dengan diri sendiri, kita hanya perlu membungkus kekurangan menjadi sesuatu yang positif dan mengoptimalkan kelebihan dengan merealisasikannya. Semua itu ada baiknya kita lakukan tanpa melawan takdir, tanpa mengutuk diri, dan tanpa meratapi ‘rumput sendiri yang tidak lebih hijau dari rumput tetangga’. Kita, punya kekuatan diri masing-masing.

Let others know the importance of mental health !
Total
18
Shares