Schadenfreude : Bahagia Saat Melihat Orang Lain Menderita

Kita tentu pernah menonton tayangan lawakan yang mengandung ejekan atau kekerasan seperti mendorong salah satu pelawak hingga terjatuh. Video yang banyak beredar di akun Youtube tentang seseorang yang mencoba aksi melompati beberapa tumpuk kursi dan gagal. Hal tersebut kerapkali membuat kita tertawa. Padahal orang yang mencoba melompati beberapa tumpuk kursi ataupun pelawak yang didorong hingga terjatuh oleh pelawak lainnya tengah mengalami hal malang.

Schadenfreude Sebagai Respon Alami Manusia

Schadenfreude berasal dari bahasa Jerman yang diartikan sebagai perasaan bahagia yang timbul saat melihat penderitaan orang lain. Perasaan senang yang diam-diam muncul saat melihat saingan kita gagal dalam suatu pekerjaan, atau saat orang yang tidak kita senangi terluka, merupakan contoh schadenfreude.

Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa schadenfreude merupakan respon kebanyakan manusia ketika menghadapi suatu humor yang mengandung kekerasan. Pada sebuah penelitian, disajikan dua macam cerita yang bertolak belakang. Ada cerita seorang ibu pengantin wanita yang mencuri tip dari pramusaji yang menolak untuk diberi tip di pesta pernikahan, dan cerita seorang ibu pengantin wanita yang menyelipkan uang tip untuk bartender di kotak tip. Diantara dua cerita tersebut, banyak responden yang menganggap cerita pertama lebih lucu walaupun hal tersebut kontradiktif dengan norma yang beredar.

Secara biologis, otak kita akan memilih perasaan senang daripada perasaan lain. Pada saat schadenfreude terjadi, otak akan mengeluarkan senyawa dopamin yang membuat kita merasa senang. Schadenfreude membuat seseorang merasa senang dan merupakan hal alami, meski terkadang kita kerap mengingkari hal tersebut.

Perasaan Iri dan Schadenfreude

Perasaan iri kerap dikaitkan dengan schadenfreude. Sebagai manusia, kita tentu memiliki keinginan untuk tampil lebih baik dari orang lain. Secara naluriah, ketika melihat orang lain mengalami kegagalan, kita akan merasa senang walaupun perasaan itu muncul tanpa disadari. Namun perasaan schadenfreude biasanya lebih sering muncul apabila kemalangan terjadi pada orang lain yang tidak berhubungan dengan kita. Perasan ini juga lebih sering muncul apabila kita tidak terlibat pada kemalangan yang menimpa orang tersebut.

Schadenfreude dan Tayangan Lawak

Pada tayangan lawak yang ditampilkan di televisi, penonton mengetahui bahwa adegan yang ditampilkan merupakan adegan fiksi, sehingga merasa bebas menertawakannya. Begitu juga pada video lucu mengenai kegagalan seseorang ketika mencoba suatu aksi, penonton tahu bahwa hal tersebut memang diunggah karena dianggap lucu. Orang yang menonton merasa bahwa sah-sah saja  menertawakan setiap adegan yang disajikan. Namun kebiasaan menonton tayangan komedi yang menampilkan lawakan dengan adegan kekerasan dapat berakibat buruk. Salah satunya adalah dapat memengaruhi penonton untuk melontarkan candaan yang sama pada orang lain, dan tanpa sadar menyakiti hati. Padahal melemparkan candaan seharusnya tidak mengganggu dan merugikan orang lain. Hal ini dapat terjadi karena kita belajar melalui apa yang kita lihat. Terutama dalam kehidupan sosial, perilaku yang diwajarkan oleh banyak orang akan menjadi suatu hal yang dianggap “normal”.

Menertawakan sebuah peristiwa yang kita anggap lucu merupakan hal yang wajar. Demikian juga dengan mengalami schadenfreude, karena sebagai manusia kita kerap merasa lebih superior dari orang lain dan akan selalu ingin merasa lebih baik dari yang lainnya. Hal itu alamiah. Namun memanfaatkan candaan dengan disertai kekerasan ataupun ejekan yang dapat menyinggung orang lain bukanlah hal yang patut kita lakukan untuk mendapatkan kesenangan. Apabila kita menonton seseorang yang melakukan candaan yang berlebihan kita dapat menegur mereka atau kita bisa membatasi menonton tayangan lawak yang mengandung kekerasan.

Let others know the importance of mental health !