Sebuah Dukungan untuk Pejuang LDR (Long Distance Relationship)

Long Distance Relationship (LDR) dianggap sebagai hubungan yang mustahil. Namun tak sedikit juga yang percaya dan yakin bahwa hubungan ini akan berhasil.

Bagi orang-orang yang tidak pernah berada dalam hubungan jarak jauh mungkin akan sulit membayangkan bagaimana perjuangan pejuang-pejuang LDR. Bahkan ada beberapa orang yang menghindari hubungan semacam ini karena dianggap terlalu beresiko dan sangat rentan untuk gagal. Mereka berpikir bahwa hubungan jarak jauh membutuhkan energi dan usaha ekstra dari hubungan biasa.

Berdasarkan data statistik hubungan jarak jauh di Amerika, pada tahun 2005 sebanyak 14 juta pasangan berada dalam hubungan jarak jauh, dan diperkirakan tidak banyak berubah pada 2018. Di Indonesia sendiri menurut survey bebas, ada 63,4% dari 183 responden mengaku sedang menjalani hubungan jarak jauh. Banyak yang memilih berjuang dalam hubungan ini, salah satunya karena teknologi dan internet. Pertemuan lewat grup alumni di facebook yang berujung terjalinnya hubungan jarak jauh. Pasangan satu kampus yang terpisah setelah lulus untuk bekerja di lain kota atau negara, tapi tetap ingin melanjutkan hubungan. Pada level suami-istri, hubungan jarak jauh mungkin terjadi karena pemindahan tugas kantor si suami/istri yang terpaksa membuat beberapa jarak diantara mereka atau sering disebut Long Distance Marriage (LDM).

Bagi orang-orang yang tidak pernah menjalin hubungan jarak jauh, tidak pernah terbayang betapa campur aduknya menjalin hubungan macam ini. Mungkin mereka tidak pernah bisa membayangkan orang-orang yang sedang berjuang dalam hubungan jarak jauh selalu merasa “terhubung” bagaimanapun jarak memisahkan. Hubungan jarak jauh adalah hubungan yang kuat karena diusahakan oleh dua orang yang sama-sama berjuang untuk selalu “dekat” walaupun dalam keadaan jauh. Dekat disini bukan hanya berarti dekat secara fisik, tetapi juga dekat secara emosional dan spiritual. Lalu bagaimana para pejuang LDR diluar sana membuktikan bahwa hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mustahil?

Apa yang mereka rasakan ?

Bagaimana seharusnya berjuang dan bertahan?

Komitmen Adalah Mutlak 

Bagi para pejuang LDR, mungkin familiar dengan perasaan “penuh harapan” diawal-awal hubungan. Rasa optimis terhadap hubungan jarak jauh yang mereka jalin akan berhasil. Perasaan tersebut muncul karena komitmen yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Kekuatan komitmen lahir dan batin inilah yang mutlak dimiliki oleh pejuang LDR karena memang landasan sebuah hubungan adalah komitmen antar pasangan. Komitmen mengikat satu sama lain, ibarat rumah, komitmen memulangkan semua yang telah tinggal didalamnya. Ketika dua orang berkomitmen, maka seluruh komponen alam semesta akan bersama-sama mengamini.

Menyisihkan Ego dan Berkompromi

Rasa rindu yang menuntut untuk segera bertemu. Namun tiada daya karena jarak yang tak cukup dekat untuk ditempuh kadang membuat frustasi dan stress. Apalagi ketika komunikasi kurang lancar, disatu sisi perubahan mood yang membuat masalah semakin terlihat rumit. Satu-satunya jalan keluar adalah berkomunikasi via telepon, video call, atau sesederhana berkirim pesan atau chat. Dibutuhkan hati yang lapang dan kemauan untuk menurunkan sedikit ego untuk bisa berkomunikasi secara sehat. Sisihkan dulu apa-apa yang memberatkan hati dan pikiranmu, kemudian bicarakan rasa rindu dan masalahmu.

“Yang kamu butuhkan hanya sedikit tarikan nafas dan senyuman. Apapun masalahmu bicarakan dengan hati yang ringan.”

Hubungan jarak jauh adalah hubungan yang “memaksa-mu” untuk selalu berkomunikasi. Apapun itu komunikasiknlah dengan pasangan, berkompromilah. Satu kelebihan hubungan jarak jauh adalah hubungan yang mengedepankan “value”, bukan hanya sekedar komunikasi ringan. Namun, gunakanlah waktu berkomunikasi ini secara lebih “dalam”. Lebih dalam dalam mengenal pasangan dan karakternya. Lebih dalam dalam memahami dan bertoleransi antara persamaan dan perbedaan. Hal ini akan membuka pikiran dan hatimu jauh lebih terbuka dan bijak.

Menjaga Kepercayaan dan Pikiran

Menjalani LDR membutuhkan rasa percaya yang kuat terhadap pasangan. Hal ini karena kita “membiarkan” pasangan kita hidup diantara ratusan manusia yang sama-sama memiliki peluang menjadi pendamping hidupnya, baik di lingkungan kerja, hobi, atau pertentanggan. Belum lagi setiap pasangan harus menjalani hidup “single” ditempatnya masing-masing. Ujian-ujian semacam itu dalam hubungan jarak jauh butuh direkatkan dengan rasa percaya yang sama-sama kuat antar pasangan.

Perasaan-perasaan seperti ragu, was-was, tertekan, mungkin akan muncul dalam perjalanan pejuang LDR. Rutinitas dan kultur yang berbeda serta ketiadaan kehadiran fisik membuat hal-hal kecil terkadang menjadi “terlupakan”. Hal itu sangatlah wajar. Namun, yang penting untuk diperhatikan adalah agar para pejuang LDR tidak melulu merasa insecure yang berlebihan. Selama semua hal dikomunikasikan dengan baik tidak perlu merasa insecure. Kembali pada komitmen awal adalah hal yang harus diyakini. Selanjutnya adalah berbicara dengan jujur dan dalam serta mendengarkan dengan sabar tentang apa yang sedang terjadi. Hilangkan pikiran dan prasangka negatif dan fokuskan pada pengembangan serta perbaikan diri. Karena menjalin hubungan tidak melulu tentang kebersamaan secara fisik. Pengabaian mungkin tidak selamanya buruk, justru sebuah pengabaian terkadang adalah bentuk perjuangan. Misalnya pengabaian karena pekerjaan.

Merawat Hubungan Jarak Jauh

Rasa bosan terkadang menghampiri para pejuang LDR. Ada beberapa yang kemudian melampiaskan kebosanan tersebut dengan melibatkan teman lawan jenis yang dianggap nyaman (comfort friend). Hal ini yang kadang terjadi karena tidak adanya komunikasi yang baik. Komunikasi yang kurang terbuka, biasanya berujung pada tidak ada lagi bahan untuk dibicarakan. Maka, carilah hal-hal baru untuk didiskusikan bersama.

Hubungan jarak jauh adalah hubungan dengan perawatan ekstra, ibarat kaktus yang tidak membutuhkan air, tapi bukan berarti tidak butuh disiram. Tentukan waktu untuk bertemu, berbicaralah secara dalam dan terkadang berilah sedikit “jarak” atau waktu bagi pasangan untuk me-time. Terbatasnya kedekatan secara fisik membuat hubungan jarak jauh lebih menekankan pada kedekatan emosi dan spiritual. Komitmen, komunikasi, keterbukaan, rasa kasih sayang, dan toleransi adalah kunci suatu hubungan termasuk hubungan jarak jauh. Bagi kamu yang sedang menjalani hubungan jarak jauh, mendewasalah bersama hubunganmu. Bangunlah kepercayaan bersama. Fokuslah pada hal-hal positif, jagalah rindumu baik-baik. Jadikan itu motivasi untuk selalu berbenah diri.

Hubungan jarak jauh seperti rumah, penghuninya membutuhkan komitmen, kepercayaan, dan keyakinan bahwa seberapa jauh keduanya dipisah jarak. Maka, akan pulang pada saatnya.

“Distance means so little when someone means so much.” – Unknown