Sehat Mental: Bagian Utuh dari Kesehatan

Sejak kecil, kita telah diajarkan segala macam bentuk perilaku sehat. Perilaku sehat seperti, cara mencuci tangan, menyikat gigi, atau membersihkan badan dengan benar. Begitu pula dengan cara pertolongan pertama ketika terluka. Terluka karena tersandung saat berjalan, terjatuh dari sepeda, terbeset benda tajam, dan lainnya.

Akan tetapi, itu semua hanyalah luka fisik yang terlihat jelas di depan mata. Sebagian besar dari kita lupa untuk diajarkan menghadapi luka psikis yang bisa saja muncul sejak kanak-kanak. Luka yang timbul karena penolakan, kegagalan, pengabaian, dan emosi tidak menyenangkan lainnya.

Ada yang tidak terbiasa mengekspresikan emosinya karena sejak kecil selalu menahan diri atas perasaan yang dirasakan. Ada yang terbiasa menyalahkan diri bahkan menjadi rendah diri karena selalu dikritik dan dianggap kurang memuaskan oleh keluarga. Ada pula yang selalu merasa gelisah karena tumbuh di suasana keluarga yang tidak aman dan nyaman. Ketika itu semua dibiarkan, maka akan menimbulkan masalah bagi kehidupan seseorang kelak.

No Health without Mental Health” -WHO

WHO (World Health Organization) menjelaskan, seorang yang sehat adalah ketika keadaan fisik, mental, dan kesejahteraan sosial sehat secara utuh, bukan hanya karena tidak adanya penyakit atau kekurangan. Namun, selama ini manusia seperti terlalu berfokus pada fisik dan lupa pada kesehatan mental yang dimilikinya.

Coba berkaca pada diri kita sendiri sejak kecil hingga sekarang. Seberapa jauhkah kita memahami keadaan mental kita sendiri? Seberapa besar kita menyayangi diri kita sendiri demi mencapai kesejahteraan lebih baik? Seberapa berani kita mengakui ketika diri merasa tidak baik? Yang pada akhirnya mendorong kita untuk terbuka dan mencari bantuan agar diri menjadi baik kembali.

Darurat Sehat Mental

WHO menyatakan, satu dari empat orang di dunia akan mengalami gangguan mental setidaknya satu kali dalam fase hidupnya. WHO juga menyampaikan, sekitar 450 juta orang saat ini mengalami gangguan mental dan hampir 1 juta orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya. Sebagai tambahan, WHO mempublikasikan bahwa depresi diperkirakan akan menjadi penyebab kedua kelumpuhan dan kematian pada tahun 2020 dan menjadi beban nomor satu pada tahun 2030.

Sementara itu, menurut Riset Kesehatan Dasar 2013 prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia mencapai 1,7 per  mil. Hal ini berarti, 1-2 orang dari 1000 penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa berat. Dr Eka Viora SpKJ, selaku Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI turut mengemukakan, pengobatan gangguan jiwa di Indonesia mengalami kesenjangan sebesar lebih dari 90%. Artinya, kurang dari 10% orang yang mengalami gangguan jiwa mendapatkan layanan terapi oleh petugas kesehatan.

Tidak hanya itu, jumlah tenaga profesional yang menangani kasus kesehatan mental di Indonesia juga masih terbatas. Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, Indonesia baru memiliki sekitar 451 psikolog klinis (0,15 per 100.000 orang), 773 psikiater (0,32 per 100.000 orang), dan perawat jiwa 6.500 orang (2 per 100.000 orang). Sementara itu, WHO menetapkan standar jumlah tenaga psikolog dan psikiater dengan jumlah penduduk adalah 1:30 ribu orang, atau 0,03 per 100.000 orang.

Apa yang Perlu Dilakukan?

Menyambut World Health Day 2018, WHO mengusung temaUniversal health coverage: everyone, everywhere“. Menyikapi tema ini, kami dari Pijar Psikologi melihat bahwa Indonesia memiliki perjalanan panjang untuk mewujudkan cakupan kesehatan yang merata di Indonesia . Lebih khusus lagi, mewujudkan pelayanan kesehatan mental yang merata di Indonesia.

Indonesia masih memiliki beberapa tantangan yang perlu diselesaikan. Tantangan berupa keterbatasan jumlah psikolog dan psikiater yang ada, tingkat kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental, serta cara menyikapi dan menangani isu-isu kesehatan mental yang terjadi di Indonesia.

Kita perlu menyadari bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kita juga perlu membuka mata dan memahami, banyak orang di sekitar kita yang mengalami permasalahan dengan kesehatan mentalnya. Tidak mudah bagi mereka untuk mengakui dan membuka diri karena takut menerima stigma negatif dari orang lain yang mendengarnya.

Oleh karena itu, Pijar Psikologi hadir untuk menjalani misi bersama WHO dan kementrian kesehatan demi mewujudukan Indonesia yang sehat secara utuh, baik fisik maupun mental. Pijar Psikologi menjadi media yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu kesehatan mental yang terjadi di sekitar. Harapannya, masyarakat dapat lebih terbuka dan lebih memahami pentingnya kesehatan mental serta menyikapi berbagai permasalahan terkait kesehatan mental yang muncul di kehidupan dengan lebih bijak.

Let others know the importance of mental health !
Total
5
Shares