Sekala Niskala, Cara Anak Menghadapi Duka

 

Anak-anak memiliki cara yang berbeda untuk mengelola duka. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah mampu memahami bahwa hidup hanya sementara, anak-anak masih belum begitu paham hukum alam yang mengharuskan seseorang meninggalkan dunia untuk selamanya.

Sekala Niskala (the seen and the unseen), film terbaru yang menuai beragam prestasi ini, memotret duka yang dialami seorang anak perempuan yang saudara kembar buncingnya sedang mengalami sakit parah dan tinggal menghitung hari.

Tantri, anak perempuan dalam Sekala Niskala, menyaksikan saudara kembarnya yang terbaring layu di kasur rumah sakit. Sebagai mana anak-anak pada umumnya, kemampuan kognitif yang dimiliki belum bisa mengekspresikan duka yang dimiliki dalam bentuk kata. Tantri mengekspresikan dukanya melalui imajinasi bahwa Tantra, saudara kembar laki-lakinya, sehat-sehat saja dan bisa menari bersamanya setiap malam. Namun, semua imajinasi itu luluh saat matahari pagi sudah terbit.

Imajinasi Tantri hadir setiap malam. Imajinasi Tantri hadir kala ia terjaga dan yang lain tertidur. Imajinasinya digambarkan dengan nuansa surealis. Tantri kerap menari saat bulan purnama bersama makhluk-makhluk halus yang terwujud dalam sosok anak-anak seusianya. Anak-anak itu kadang berguling dan mengepakkan tangan mereka menyimbolisasikan telur ayam. Telur itu sendiri, menggambarkan awal dari sebuah kehidupan. Telur juga mewakili banten (sesajen) yang biasa hadir di masyarakat bali. Telur juga mewakili ikatan batin Tantri dan Tantra, di mana Tantri menyukai bagian putih saja dan selalu berbagi kuning telur ke Tantra.

Bersama dengan bulan purnama, tarian, ritual pemujaan, sawah dan adu ayam, film ini sarat akan simbol-simbol yang mistis dan magis khas bali. Simbol-simbol budaya ini juga menjelaskan bahwa imajinasi anak juga kerap terpengaruh budaya dan kepecayaan setempat.

Hal ini terjadi karena secara psikologis, anak-anak lebih bisa mengeskpresikan dukanya melalui seni dan permainan. Selain itu, bermain, menari dan berimajinasi bisa menjadi cara seorang anak untuk menghadapi duka. Membebaskannya dari perasaan bersalah, depresi, cemas ataupun marah. Hal ini lah yang disajikan di film Sekala Niskala tentang bagaimana anak-anak melihat dan mendengar sebanyak apa yang orang dewasa lihat dan dengar. Namun, anak-anak belum mampu mencerna sebuah kejadian sebagaimana orang dewasa mampu memaknainya. Anak-anak juga belum begitu bisa mengekspresikan apa yang dialaminya melalui bahasa.

Tak heran, film besutan Kamila Andini ini mendapatkan banyak penghargaan internasional. Proses pembuatannya memakan waktu lama untuk mengkhayati budaya yang ada di masyarakat. Pengambilan setting film pun tidak berusaha ‘menjual’ landscape Bali, melainkan berlokasi di rumah warga yang sangat sederhana. Penyajian film juga dibuat dengan penuh unsur simbolis yang menggambarkan duka yang dialami seorang anak.

Melalui film ini kita diajak memahami bahwa anak pun bisa mengalami duka. Hanya saja mereka mempersepsikan dan mengekspresikannya dengan cara yang berbeda.

Let others know the importance of mental health !
Total
4
Shares