Selamat Hari Ibu, Bagi Semua Perempuan yang Tak Pernah Berhenti Berkarya!

Tanggal 22 Desember di Indonesia diperingati sebagai hari Ibu. Mulanya, pada tanggal ini digunakan sebagai momentum untuk merayakan semangat perempuan Indonesia, meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan, serta untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara yang digagas oleh Kongres Perempuan IndonesiaNamun, kini hari Ibu telah bergeser jauh dari makna awalnya yaitu merayakan semangat perempuan dalam memperjuangkan hak dan cita-citanya. Untuk mengembalikan momentum pada hari ini 91 tahun silam, kami mengajak Anda untuk menepi sejenak, mengambil jeda dan merefleksikan diri untuk bersama merayakan semangat perempuan-perempuan Indonesia. Perempuanperempuan yang memilih untuk berdaya, tidak kehilangan dirinya dan terus berusaha mewujudkan cita-cita.

 ***

Hari ibu bisa menjadi momentum bagi kita para perempuan untuk kembali menyelami diri, memaknai setiap keputusan dan pilihan yang kita ambil. Sebagai ibu, kita para perempuan tentu dihadapkan dengan banyak sekali pilihan, batasan, stigma, labeling serta impian yang tidak mudah untuk diputuskan. Stigma dan batasan-batasan tersebut seringkali menambah pergulatan batin seorang ibu yang juga seorang perempuan dalam menentukan sikapnya sendiri. Menjadi ibu dipandang sebagai akhir kehidupan perempuan dalam mengaktualisasikan dirinya. Menjadi ibu dianggap tidak punya lagi kesempatan dalam mewujudkan mimpi dan cita-citanya sendiri sebagai seorang perempuan. Menjadi ibu masih dilihat sebagai jalan satu-satunya untuk mengabdikan diri pada hidup.

Baru-baru ini film Kim Ji Young, Born 1982 berkisah tentang bagaimana lingkungan sosial dan impian seorang perempuan dihadapkan dengan kompleksitas pernikahan. Kim Ji Young seakan merepresentasikan ibu-ibu dan para perempuan yang bernasib serupa dengannya. Seorang perempuan biasa dan kemudian menikah, sehingga kesehariannya seperti pekerjaan domestik, mengurus suami serta seorang anak adalah rutinitasnya.

Baca juga: Mengenal “Profesi” Ibu dalam Keluarga di sini.

Perempuan Tidak Selesai Begitu Saja Ketika Ia Menikah dan Menjadi Seorang Ibu

Dari film Kim Ji Young, Born 1982 kita bisa melihat realitas seorang perempuan yang telah menikah dan menjadi ibu tetap bisa mewujudkan apa yang ia cita-citakan. Diceritakan dalam film tersebut, Kim Ji Young pada masa muda adalah seorang wanita karir yang independent. Ia adalah wanita karir yang berdaya. Namun, ketika ia menikah ia mulai dihadapkan dengan berbagai kompleksitas kehidupan berumah tangga, seperti dealing dengan pekerjaan domestik yang tiada henti, merawat anak, mengurus suami, menghadapi lingkungan sosial yang meremehkan seorang ibu rumah tangga hingga pergulatan batinnya sendiri terkait realita dan mimpinya. Sosok Kim Ji Young, beserta dengan pengalaman, realitas, perasaan, dan pikiran-pikirannya seperti sedang mewakili banyak ibu dan perempuan yang mengalami situasi yang sama. Sebagai perempuan tentu kita sangat memahami begitu kompleksnya kehidupan kita karena konstruk sosial yang telah lama timpang terhadap perempuan. Ketimpangan terhadap perempuan masih saja dianggap hal yang biasa. Perempuan dianggap sebagai makhluk lemah, kelas kedua, dan layak diobjektifikasi apalagi terkait seksualitas.

Terlebih saat sudah menjadi ibu, ketimpangan itu kian terbuka lebar bahwa pengasuhan dan perawatan anak serta urusan-urusan domestik seakan-akan adalah kewajiban perempuan saja. Kita tidak pernah diberi ruang untuk bertanya, “Apa peran laki-laki sebagai suami dan ayah dalam pengasuhan serta urusan-urusan domestik?” Padahal menurut studi peran serta laki-laki sebagai ayah dalam pengasuhan anak sangat penting untuk perkembangan anak yang sehat secara fisik dan mental. Bahkan di beberapa negara seperti Amerika dan Inggris telah serius dalam mengembangkan pengasuhan setara gender. Beberapa ayah mengambil cuti dalam masa persalinan untuk bisa terlibat langsung dalam pengasuhan anak bersama-sama dengan ibu.

Seperti Kim Ji Young, masih banyak para ibu yang masih terjebak dalam konstruk yang tidak seimbang ini. Banyak perempuan kemudian merasa tidak berdaya, dipandang sebelah mata hanya karena bekerja dirumah, mengasuh anak dan mengurus rumah tangga. Sama seperti Kim Ji Young, perempuan yang telah menjadi ibu juga banyak mengalami ketidakadilan dalam porsi pengasuhan anak. Ditambah lagi, persoalan-persoalan dengan keluarga besar, mertua, tetangga dan lingkungan sosial yang seakan tidak pernah mau memahami persoalan secara berimbang.

Perempuan telah lama dihadapkan dengan stigma masyarakat yang masih bias gender, seperti pekerjaan rumah tangga “haram” dikerjakan oleh suami (laki-laki) dan pekerjaan domestik seakan adalah milik istri (perempuan). Stigma di masyarakat juga menuntut perempuan untuk tampil sempurna tanpa celah dan harus selalu siap untuk “dipekerjakan” ketika pulang ke keluarga mertua dan menerima semua itu sebagai “tugas” menantu. Apabila dilihat secara kasat mata, tentu hal itu bukanlah sesuatu yang penting dan perlu mendapat perhatian. Namun, Kim Ji Young seperti sedang membukakan mata kita dan juga para perempuan serta ibu lainnya bahwa keadaan yang dihadapi oleh seorang perempuan dan ibu bukanlah “sesederhana” apa yang ada di kepala kita. Budaya patriarki membuat laki-laki memiliki privilege untuk tetap menjadi dirinya sendiri walaupun ia telah menikah. Ia tetap bisa memilih berkarir dan melanjutkan jenjang karir yang ia bangun semasa muda. Ia tetap akan menjadi seorang putra yang membanggakan kedua orang tuanya. Ia akan tetap menjadi anak di keluarga istri dan diterima baik oleh keluarga mertua. Ia akan tetap menjadi laki-laki seutuhnya tanpa khawatir identitas dan jati dirinya berubah bahkan hilang. Bagaimana dengan kita para perempuan? Tidak banyak dari kita yang mendapatkan privilege itu setelah memutuskan untuk menikah.

Banyak perempuan mengubur mimpi-mimpinya karena sistem keluarga yang demikian timpang dan terjebak dalam ruang hampa hingga keadaan fisik, mental serta spiritual kita menjadi taruhannya. Padahal, pernikahan dan apapun fase kehidupan yang sedang dijalani saat ini tidak seharusnya membatasi perempuan untuk menjadi apa yang ia inginkan. Seorang perempuan sekaligus ibu yang tidak kehilangan dirinya serta bebas untuk menjadi apa yang ia impikan.

Baca juga: Pernikahan dan Kesehatan Mental Tema yang Jarang Dibicarakan di sini.

Seorang Ibu Adalah Perempuan dengan Mimpi-Mimpinya

Seperti pikiran dan perasaan Kim Ji Young, perempuan adalah makhluk kompleks yang tidak berhenti bertumbuh setelah menikah. Pernikahan tidak bisa menghentikannya untuk memikirkan bagaimana mewujudkan cita-cita dan impiannya sejak kecil. Pernikahan dan batasan-batasan lainnya tidak bisa menekan segala keinginannya untuk bertumbuh menjadi manusia yang bahagia, tapi tidak lupa untuk tetap membahagiakan orang lain. Untuk yakin dan percaya diri atas segala pilihan-pilihannya tanpa takut adanya stigma dan label yang membatasinya. Karena sejatinya, menjadi manusia adalah tentang bagaiamana menemukan diri kita terus bertumbuh untuk mewujudkan setiap cita-cita. Seorang ibu tidak seharusnya digolong-golongkan dan dipilih mana yang lebih baik dan mana yang buruk. Menjadi seorang ibu adalah tentang perjalanan diri seorang perempuan yang utuh dan tidak bisa dinodai dengan anggapan yang sempit terhadap diri yang sejati. Perjalanan ini begitu personal dan intens bagi setiap perempuan dalam menjadi istri, ibu, nenek, tetangga, ataupun dirinya sendiri. Seorang perempuan selalu bisa menentukan tanpa dibatasi pilihan-pilihan. Setiap perempuan yang berperan sebagai ibu, akan selalu berjuang untuk mimpi dan cita-citanya, entah itu di bidang pendidikan, karir, pernikahan maupun sosial kemasyarakatan. Setiap perempuan selalu memiliki kekuatan dan semangat untuk berdaya bagi dirinya serta orang-orang di sekitarnya. Walau begitu, setiap perempuan tidak kemudian lupa pada tujuan penciptaannya, yaitu untuk selalu memenuhi cinta dalam dirinya dan menyebarkannya pada keluarga serta semua makhluk-makhluk-Nya.

Selamat Hari Ibu, untuk seluruh perempuan yang selalu bersemangat dalam mewujudkan cita-cita!

 

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*