Self Acceptance: Menyusun Puzzle Kebahagiaan dengan Menjadi Diri Sendiri

Asyik ya, dia setiap liburan selalu piknik,”

“Pintar banget otaknya dia, ngerjain tugas kuliah apa aja dia bisa,”

 “Aku tidak seberuntung dan sebahagia mereka yang sukses dengan pencapaiannya”

“Aku ingin menjadi seperti dia…”

Tanpa kita sadari, kerap kali terlintas di pikiran kita perasaan iri terhadap hidup orang lain. Kita menginginkan peristiwa dan sesuatu yang orang lain punya. Kita berusaha agar berhasil dan beruntung seperti orang lain. Perasaan iri, cemas, dan sedih karena diri kita belum sesukses orang lain adalah perasaan yang wajar. Kesuksesan orang lain bisa menjadi motivasi untuk lebih giat lagi melangkah dan berproses dalam kehidupan. Namun, perasaan itu justru menyiksa kita apabila terus menerus selalu ingin sepadan dengan orang lain.

Kemampuan yang kita miliki tidak dapat disamakan dengan kemampuan orang lain. Setiap manusia mempunyai kapasitas kemampuan berbeda. Tujuanmu bisa jadi tampak sama dengan orang lain, namun tidak semua orang harus menempuh jalan yang sama. Kita tidak perlu mengambil langkah sama persis dengan orang lain. Justru, cobalah menggunakan temukan jalan yang paling sesuai dengan keadaanmu.

Apakah kamu harus “sama” seperti yang lain?

Istimewa dengan Menjadi Diri Sendiri

Memaksakan diri untuk menjadi orang lain, hingga kapan pun tidak akan pernah “sama” dan berhasil. Esensinya, setiap manusia diciptakan berbeda dengan jalannya masing-masing. Hanya  bagaimana saja manusia mengolah dan mewujudkan dengan cara tersendiri. Kita yang mengetahui kekurangan, kelebihan, kemampuan, dan perasaan yang sedang terjadi pada diri kita. Menjadi diri sendiri menghasilkan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain karena sesungguhnya kita istimewa dengan menjadi diri kita apa adanya.

“You must love yourself before you love another. By accepting yourself and fully being what you are, your simple presence can make others happy”  -Anonim

Menyusun Puzzle Kebahagiaan

Self acceptance adalah penegasan untuk mengakui adanya kekurangan dan kelebihan dalam diri. Kegagalan dan kesalahan yang dimiliki, diterima dengan sepenuh kesadaran. Ia menjadi nyaman dengan menjadi diri sendiri karena telah menerima apapun keadaan dirinya. Seseorang menjadi puas dalam melakukan sesuatu saat dapat menerima kelebihan dan kekurangan pada dirinya.

Kita yang mempunyai kekurangan seperti menyelesaikan tugas kuliah kurang maksimal dan tidak segera mendapat pekerjaan, maka terimalah dengan ketulusan tentang perasaan yang sedang terjadi. Hal yang wajar ketika kita merasakan dan mengalami semua itu. Menerima apapun yang kita punya, seberapa kecil atau besarnya pencapaian diri kita. Tugas diri kita adalah menerima tanpa syarat. Penerimaan menjadikan kita tangguh dan bertahan.

Demikian itu, fokuslah pada sisi kelebihan diri, agar kita tidak jatuh terlampau dalam untuk iri karena memikirkan kelebihan orang lain yang membuatnya sukses dan bahagia. Kesempatan bahagiamu terlalu berharga jika hanya terbuang untuk memikirkan orang lain. Berkembanglah dengan apa adanya dirimu yang sekarang. Menerima diri sendiri berarti kita telah menyusun puzzle untuk menciptakan kebahagiaan yang menghasilkan hadiah terindah dari diri sendiri.

Berhenti Menganggap Orang Lain “Sempurna”

Kita yang menganggap orang lain melangkah lebih jauh dalam segala aspek dan bergumam dalam hati “dia enak, apa saja bisa diperoleh secara instan, sedangkan aku harus bersusah payah dulu”, belajarlah perlahan untuk menghilangkan bayang-bayang tentang orang lain. Kita tidak pernah mengetahui betapa beragam perjuangan orang lain yang menjadikannya sukses dan bahagia pada akhirnya. Sebagian dari kita, melihat “indah dan ujung suksesnya” saja. Perlahan, mulailah untuk memahami dan menerima bahwa kesuksesan orang lain membutuhkan perjuangan yang kita tidak ketahui.

Keberhasilan sebuah asa, membutuhkan perjuangan dengan cara tidak instan

Kita diperbolehkan mempunyai keinginan, harapan, cita-cita, dan tujuan yang sepadan dengan orang lain untuk menggapai kebahagiaan. Namun kita juga perlu menyadari apakah diri kita mampu melangkah dan menyamaratakan seperti kemampuan orang lain. Beranjaklah dari rasa iri pada kebahagiaan orang lain maupun ketidakpuasan pada diri sendiri.

Semua manusia berhak bahagia dan hanya diri sendirilah yang mengetahui bagaimana cara ia bahagia. Melalui penerimaan diri atas segala yang terjadi adalah proses menuju bahagia dan kedamaian tanpa mengusik kehidupan orang lain. Bahagiaku dan bahagiamu adalah perbedaan yang patut dipahami dan diterima.

Let others know the importance of mental health !
Total
7
Shares