Self-Compassion : Berbelas Kasih Pada Diri Sendiri

 

“With self-compassion, we give ourselves the same kindness and care we’d give to a good friend.” – Dr. Kristin Neff

Self-compassion atau berbelas kasih terhadap diri sendiri bisa menjadi konsep yang asing bagi beberapa orang. Terutama bagi kita yang tumbuh dalam lingkungan egois, individualis, abusive, negatif, maupun destruktif dimana kasih sayang bahkan sering dipertanyakan eksistensinya. Alih-alih menjadi manusia yang penuh belas kasih dengan sesama, seringnya kita pun tidak berbelas kasih terhadap diri sendiri.

Kita cenderung fokus pada hal-hal negatif dalam diri maupun lingkungan sekitar. Kita sering menyalahkan diri sendiri atas “ketidak-idealan” kehidupan yang kita miliki. Kita terus saja menggerutu dan memaki diri atas segala kegagalan dan ketidakberdayaan kita akan sesuatu yang kemudian berujung pada tindakan membenci diri sendiri. Terlebih lagi, kita tumbuh dalam lingkungan dengan tekanan hidup berlipat ganda dalam masyarakat yang “menuntut” sempurna. Hal ini cenderung membuat kita begitu”keras” terhadap diri sendiri.

Kita memperlakukan diri sendiri dengan kasar dan tidak baik. Kita terlalu lama terkungkung dalam belenggu menyalahkan diri sendiri, menganggap diri tidak pantas dikasihi, melainkan patut dibenci. Ketika kita gagal dalam suatu hubungan, karir, pekerjaan, usaha, wawancara, pendidikan, bahkan “gagal dalam kehidupan”, kita lantas membangun persepsi diri bahwa kitalah yang paling buruk dan tidak becus. Hal itu membuat kita merasa menderita, sengsara dan tidak bahagia.

“Kita begitu sering menjadi penyebab penderitaan kita sendiri. Kita mengejar berbagai benda dan orang-orang, meskipun kita tahu di dalam hati bahwa mereka tidak bisa membuat kita bahagia. Kita membayangkan semua masalah akan selesai jika kita mendapatkan pekerjaan tertentu atau mencapai kesuksesan tertentu. Namun mendapati bahwa hal-hal yang sangat kita inginkan itu ternyata tidaklah begitu indah. Saat kita memperoleh sesuatu, kita mulai khawatir tentang kehilangan sesuatu itu. Sebagian besar penderitaan kita berasal dari pemahaman diri yang terpangkas.” – Karen Amstrong

Self-compassion dikonseptualisasikan sebagai bentuk adaptasi dari relasi diri yang melibatkan tiga hal, yaitu menumbuhkan kesadaran terhadap penderitaan seseorang, memperlakukan diri sendiri dengan baik di masa-masa sulit dengan penuh pemahaman, serta menghubungkan pengalaman stres seseorang ke perspektif yang lebih luas dari pengalaman manusia.

Di masa kini, masa dimana terdapat banyak sekali pemicu stres dan kecemasan dalam diri, membuat self-compassion menjadi sebuah solusi yang diketahui memiliki hubungan positif terhadap kesejahteraan fisik maupun psikologis. Seseorang dengan self-compassion yang tinggi juga memiliki hubungan sosial yang lebih baik, kecerdasan emosional, kebahagiaan, dan kepuasan hidup secara keseluruhan. Self-compassion juga terbukti berkorelasi dengan rendahnya kecemasan, depresi, dan ketakutan terhadap kegagalan.

Menumbuhkan Kesadaran Terhadap Sebuah Penderitaan

Self-compassion dimulai dengan menumbuhkan kesadaran terhadap sebuah penderitaan, kesulitan, dan ketidakberdayaan. Kita tidak bisa menjadi manusia yang compassionate kecuali kita mampu menyadari penderitaan yang dialami oleh seseorang. Menyadari dan memahami penderitaan seseorang dimulai dengan bagiamana kita memperlakukan diri sendiri. Apabila kita memperlakukan diri dengan kasar dan penuh kebencian maka mustahil bagi kita untuk menyadari penderitaan orang lain. Bagaimana kita memperlakukan diri sendiri adalah cerminan perilaku kita terhadap orang lain.  Bagaimana kita memperlakukan diri sendiri dalam masa-masa sulit adalah cerminan perilaku kita dalam memperlakukan orang lain yang mengalami hal-hal sulit dalam hidupnya. Memahami dan menyadari bahwa kita harus tetap memberikan kasih sayang yang sama setiap saat pada diri sendiri adalah landasan kita dalam memperlakukan seseorang yang sedang dalam penderitaan hidup mereka.

Self-compassion adalah sebuah cara yang kita lakukan untuk tetap berlaku baik terhadap diri sendiri. Alih-alih mengkritik tajam diri sendiri (self-judgment) atas sebuah kegagalan atau ketidakberdayaan diri, kita memilih untuk tetap memberikan kebaikan, pengertian, dan belas kasih terhadap diri sendiri dengan penuh pemahaman. Pemahaman bahwa penderitaan, kegagalan, ketidakmampuan, ketidaksempurnaan adalah bagian dari pengalaman semua manusia.

Menghubungkan Pengalaman Buruk Dengan Perspektif yang Lebih Luas

Berbekal dari pemahaman bahwa kegagalan adalah bagian dari pengalaman hidup setiap orang, self-compassion memberi kita kesadaran bahwa mengutuk serta mengkritik diri sendiri saat mengalami kegagalan adalah hal yang tidak perlu kita lakukan. Hal ini karena setiap orang mengalami penderitaan dalam bentuknya masing-masing. Setiap orang adalah manusia biasa yang tidak sempurna dan rentan melakukan kesalahan. Kegagalan dan ketidakberdayaan diri adalah pengalaman hidup yang dialami setiap manusia sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Maka dari itu, apabila kita mengalami suatu penderitaan dalam bentuk apapun, perlu kita pahami bahwa penderitaan adalah bagian dari pengalaman hidup semua manusia dan bukan sesuatu yang hanya terjadi pada diri kita saja. Dengan adanya pemahaman terebut kita bisa menyeimbangkan emosi negatif yang muncul karena adanya proses yang mengaitkan pengalaman pribadi dengan pengalaman orang lain yang mengalami hal yang sama, sehingga menempatkan situasi kita sendiri ke dalam perspektif yang lebih besar. Pemahaman ini akan membawa kita pemikiran bahwa tidak hanya kita yang melalui masa-masa sulit dalam hidup, tetapi juga orang lain.

Memperlakukan Diri Sendiri Dengan Baik di Masa-Masa Sulit

Self-compassion menekankan pada kasih sayang terhadap diri sendiri bagaimanapun kondisi kita: baik di saat-saat yang mudah, sulit dan bahkan di saat kita menyadari monster atau sifat negatif di dalam diri kita. Di masa gagal, jatuh, penuh kritik dan merasa buruk, kita tetap memilih untuk menyayangi diri sendiri dengan selalu bersikap baik pada jiwa dan raga ini ketimbang menghakimi diri tanpa ampun dan mengkritik diri sendiri karena berbagai kekurangan. Rasa sayang dan belas kasih terhadap diri ini adalah suatu bentuk penghargaan kita terhadap diri karena bagaimanapun kita adalah manusia biasa yang tidak dituntut untuk sempurna. Pemahaman inilah yang harus kita miliki supaya kita bisa merasionalisasikan apa yang sedang terjadi.

Merasionalisasikan apa yang terjadi juga membutuhkan proses mindfulness. Mindfulness adalah keadaan pikiran yang tidak menghakimi dan menerima dimana seseorang mengamati pikiran dan perasaannya secara apa adanya, tanpa berusaha menekan atau menolaknya. Kita tidak dapat mengabaikan rasa sakit yang kita rasakan dan dengan tiba-tiba merasa compassionate pada saat yang bersamaan. Mindfulness tidak berarti kita over identification terhadap pikiran dan perasaan kita, sehingga kita terjebak oleh reaktivitas yang negatif, akan tetapi menerima itu semua secara apa adanya tanpa penghakiman dalam bentuk apapun.

Di masa-masa sulit memang terdengar tidak mudah untuk bisa mengidentifikasi mana perasaan dan pikiran yang kita besar-besarkan. Namun, tidak ada salahnya untuk kita mengubah cara pandang kita menjadi lebih sehat. Kita bisa memulai self-compassion kapanpun terlebih di masa-masa tersulit dalam hidup kita karena kita peduli dan sayang terhadap diri sendiri.

***

Pada akhirnya self-compassion adalah tentang bagaimana kita memperlakukan diri dengan penuh kasih sayang dan lebih jauh memberikan kasih sayang, perhatian, kebaikan, dan belas kasih diri kepada orang lain. Self-compassion membutuhkan kesadaran terhadap adanya penderitaan yang akan memicu kebaikan, kepeduliaan, dan kasih sayang kita terhadap orang lain. Self-compassion juga tentang memahami bahwa setiap penderitaan seseorang adalah bagian dari pengalaman hidup sebagai manusia yang tidak sempurna. Untuk itu, tidak ada gunanya bagi kita untuk menghakimi, menilai, mengkritik ataupun merasa bahwa kekurangan maupun kegagalan adalah sesuatu yang hanya menimpa diri kita saja. Self-compassion mengajarkan kita untuk memperlakukan manusia sebagaimana manusia yang memiliki kebutuhan biologis untuk dicintai. Manusia yang penuh cinta dan kasih sayang untuk dirinya selanjutnya memancarkannya kepada orang lain sebagai bentuk kepeduliaan kita terhadap kemanusiaan.

Self-compassion berarti kita menghormati dan menerima segala sisi kemanusiaan kita. Tidak semua yang kita harapkan dan rencanakan akan terwujud. Kita akan mengalami kegagalan, frustasi, bahkan kehancuran. Namun, perlu kita ingat bahwa manusia pasti mengalami kegagalan karena kita adalah makhluk yang tidak sempurna. Kita hanya harus menerima sisi kemanusiaan itu dan berjuang untuk bangkit kembali.

 

 

Let others know the importance of mental health !
Total
12
Shares