Self-Esteem dan Self-Presentation dalam Perilaku Menggunakan Media Sosial

Apakah itu rasa percaya diri? Di era yang limitless ini, setiap orang bisa mengekspresikan dirinya. Terutama social media, yang memfasilitasi kita untuk berkoneksi, menjalin relasi dan membuat impresi diri. Tapi, menarik juga bila kita mengkaji bagaimana social media memengaruhi rasa percaya diri kita.

Self-Esteem, Apakah Itu?

Kepercayaan diri atau self-esteem adalah penilaian evaluasi seseorang terhadap dirinya atau rasa keberhargaan yang dimiliki. Self-esteem digunakan untuk menilai kepribadian dan kemampuan. Self-esteem yang kita miliki ditentukan oleh banyak faktor, termasuk di dalamnya adalah peran sosial, perbandingan yang kita lakukan dengan orang lain, identitas sosial, bagaimana kita menerima penilaian orang lain, dan pengalaman kesuksesan serta kegagalan yang kita alami. Self-esteem memengaruhi proses kognitif kita dalam menghadapi kegagalan. Orang dengan self-esteem yang tinggi akan menghadapi ancaman terhadap self-esteemnya dengan menyeimbangkannya (menyalahkan orang lain atau berusaha lebih keras pada kesempatan selanjutnya). Reaksi ini membantu mereka untuk memelihara perasaan positif tentang diri mereka. Self-esteem merupakan ukuran sinyal untuk kita dalam menghadapi penolakan sosial, memotivasi kita dalam bertingkah laku dengan sensitivitas terhadap ekspektasi orang lain.

Manajemen Impresi: Membuat Kesan dan Memperoleh Kepuasan Sosial

Penelitian mengonfirmasi bahwa penolakan sosial membuat self-esteem kita menurun dan membuat untuk lebih ingin diterima. Salah satu usaha yang mungkin dilakukan untuk melindungi self-esteem seseorang adalah dengan melakukan self-presentation atau impression management yaitu bagaimana seseorang membuat kesan yang baik untuk memperoleh kepuasan secara sosial maupun materi untuk lebih merasa aman dalam identitas sosialnya. Tidak ada yang ingin terlihat inkonsisten, agar terlihat selaras, kita menyesuaikan sikap dengan tingkah laku. Saat ini sering kita temui konten-konten di media sosial yang menampilkan diri seseorang ataupun kehidupan sehari-harinya yang inspiratif ataupun kebahagiaan. Salah satu media sosial yang digunakan adalah Instagram sebagai sarana atau media dalam mempresentasikan dirinya, karena mereka dapat lebih mudah mengatur kesan atau impression yang ingin didapatkan dari orang lain melalui teks dan gambar di media sosial Instagram. Dominasi jawaban responden juga mengatakan bahwa mereka menggunakan Instagram untuk menciptakan citra diri baik, merasa senang jika memliki banyak followers karena berpikir bahwa pengguna lain menyukainya dan merasa bahwa semakin banyak followers menunjukkan banyak yang ingin mengenal diri mereka.

Kepuasan Hidup, Self-Esteem dan Postingan Kita di Social Media

Penelitian yang dilakukan oleh Apodaca (2017)  menemukan bahwa terdapat hubungan yang positif signifikan antara true-self dan life satisfaction. Semakin tinggi kepuasan hidup, mereka lebih nyaman untuk mengunggah dirinya yang authentic. Dengan begitu, semakin authentic, perbedaan antara profil online seseorang dan bagaimana perasaan mereka sebenarnya semakin rendah. Hal ini juga berkorelasi dengan subjective well-being.

Self-esteem meningkat dengan adanya interaksi yang positif dengan followers. Mereka yang memiliki self-esteem yang rendah  memiliki perasaan tertekan untuk menjaga citra positif untuk terlihat menjadi sosok sempurna. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa individu dengan self-esteem yang rendah khususnya wanita, lebih mudah menerima pendapat dari orang lain ketika mereka sedang mencari dukungan sosial dan penerimaan. Seseorang dengan self-esteem yang tinggi akan memberikan kesan yang positif kepada orang lain, individu cenderung untuk menampilkan versi berbeda dirinya tergantung tingkatan self-esteem yang dimiliki. Seseorang dengan self-esteem yang tinggi cenderung untuk melakukan self-enhance, khususnya dalam situasi publik atau ketika mereka menerima feedback negatif. Individu dengan self-esteem yang rendah cenderung untuk melindungi dirinya dalam self-presentation dan menganggap rendah dirinya di situasi publik atau yang mengacam. Menurut self-verification theory dari Swann (2005), individu terdorong untuk menerima interpersonal feedback yang sejalan dengan self-conceptnya, sehingga untuk mereka yang memiliki self-esteem rendah, teori ini memprediksi, mereka akan berekspektasi mendapatkan feedback negatif dari orang lain.

So, The Insight is…

Kesimpulannya, perilaku menggunakan media sosial khususnya Instagram dapat digunakan individu untuk melakukan presentasi diri, dengan menggunakan media sosial individu dapat mengatur citra yang ingin ia sampaikan kepada individu lain untuk mendapatkan penilaian yang baik, respon positif dapat meningkatkan kepuasan serta rasa keberhargaan diri individu. Mereka yang memiliki self-esteem tinggi, dalam mempresentasikan dirinya bertujuan untuk self-enhancement dan pada mereka yang memiliki self-esteem yang rendah, unggahan positif dilakukan untuk membentuk citra baik pada dirinya. Mereka juga sering tertekan pada unggahan yang menunjukkan kesempurnaan, karena merasa tidak seperti apa yang orang lain tampilkan, sehingga mereka berusaha untuk terlihat seperti kesempurnaan tersebut. Selain itu, mereka yang memiliki self-esteem rendah lebih sensitif dengan pendapat orang lain yang membuat mereka sangat menjaga self-presentation yang mereka tampilkan di media sosial, mereka lebih dapat memunculkan diri mereka di media sosial karena kesan dari individu lain lebih dapat mereka kontrol dengan gambar dan teks yang mereka unggah. Individu yang memiliki kepuasan hidup yang tinggi akan menunjukkan diri mereka sebenarnya.

 

Sumber

Apodaca, J., & Apodaca, J. (2017). True-self and the uses and gratifications of Instagram among college-aged females. Theses. University Libraries, University of Nevada: Las Vegas.

Baron, R. A., & Branscombe, N. R. (2011). Social Psychology 13th Edition. Pearson Educational International. ISBN-3: 9780205205585

Djafarova, E., & Tro, O. (2017). Exploring the relationships between self-presentation and self-esteem of mothers in social media in Russia. Computers in Human Behavior, 73, 20–27. https://doi.org/10.1016/j.chb.2017.03.021

 

Gustina, Heny. (2015). Korelasi Media Sosial Instagram dengan Presentasi Diri Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Riau. Jurnal Online Mahasiswa FISIP, Volume 2(2), 1–15.

Myers, D. G. (2013). Social Psychology 11ed. United States : McGraw-Hill International Edition.

Salim, F., Rahardjo, W., Tanaya, T., & Qurani, R. (2017). Are self-presentation of instagram users influenced by friendship-contingent self-esteem and fear of missing out ? Makara Hubs-Asia, 21(2), 70–82. https://doi.org/10.7454/mssh.v21i2.3502

——————————————————————-

Artikel ini adalah sumbang tulisan dari Salsabila Fitrizqi, lulusan dari S1 Psikologi Universitas Padjajaran yang tertarik dengan dunia pendidikan dan klinis anak. Untuknya, mengkaji fenomena sosial dengan pendekatan psikologi adalah suatu hal yang seru. Ia sangat terbuka dengan sudut pandang baru, sehingga ia akan sangat senang jika diajak berdiskusi. Untuk menghubungi Salsabila, Anda dapat mengirimkan email di [email protected] atau mengunjungi akun Instagramnya @salsabilafz.

Let others know the importance of mental health !