Self-Loathing: Belenggu Membenci Diri Sendiri

Terperangkap dalam ketidaksukaan terhadap diri sendiri kerap terjadi. Melihat diri sebagai sosok yang tidak menarik, tidak becus melakukan apapun, serta tidak berarti. Kalaupun diri ini harus menghilang, tidak akan ada yang merasa rugi dan mencari.

Terjebak dalam Self-Loathing

Self-loathing atau self-hatred adalah keadaan yang menggambarkan terjebaknya seseorang dalam belenggu kebencian diri sendiri. Kebencian dapat terjadi ketika “keadaan diri sekarang” tidak bisa memenuhi standar, mimpi, atau keinginan dari “diri yang ideal”. Dirinya selalu merasa tidak cukup baik dan melihat orang lain jauh lebih baik. Selalu mencari kesalahan dan lupa menghargai diri. Merasa gambaran impian diri selalu sulit untuk diraih dan tidak puas dengan keadaan saat ini.

Seseorang yang terjebak dalam self-loathing tidak selamanya karena memiliki self-esteem (harga diri) yang rendah. Akan tetapi, lebih kepada tidak mampu mengenali dan menyadari kemampuan diri yang dimiliki. Kalaupun diri tidak cukup meyakini bahwa kita membenci diri sendiri, ada saja dorongan dari lingkungan yang membuat kita membenci diri sendiri. Seolah-olah kita adalah bahan tawa dan candaan orang-orang di luar sana.

Seseorang yang tidak menyukai diri sendiri sebenarnya menyadari adanya atribut positif dalam diri. Namun, kehadiran atribut positif itu semua terkaburkan karena pengaruh emosi yang muncul akibat dari ketidaksukaan itu sendiri. Emosi-emosi negatif terlalu kuat menyelimuti sampai sulit untuk melihat kehadiran atribut positif dalam diri.

Ketika membiarkan diri terjebak dalam self-loathing, maka sesungguhnya kita membiarkan diri terpengaruh oleh keyakinan bahwa kita akan selalu gagal, berbuat salah, dan tidak cukup berarti untuk melakukan apapun dalam hidup kita.

Self-Loathing sebagai Motivasi Mengubah Diri

Hampir setiap orang pernah merasa kurang baik dan tidak puas dengan keadaan sekarang. Hingga akhirnya, muncul rasa tidak suka dan seolah memarahi diri karena menjadi tidak cukup baik untuk saat ini. Pernyataan seperti,
“Aku terlalu gendut, tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka yang bertubuh langsing.”
“Memang ku selalu buat kesalahan ya, gak bisa tampil dengan baik seperti dia. Gimana ingin jadi yang terbaik kalau begini.”

“Aku memang gak pantas berhasil, ku saja tidak mengetahui apa yang sesungguhnya ingin ku capai.”

Pernyataan di atas menjadi contoh percakapan yang bernuansa ketidaksukaan terhadap diri sendiri. Bagi sebagian orang, percakapan seperti itu adalah cara yang tidak sehat dan memperburuk keadaan diri. Namun, sebagian orang menilai, self-loathing mampu memotivasi untuk mengubah diri menjadi lebih baik.

Sebagai contoh, merasa penampilan tidak semenarik orang lain akan mendorongnya untuk mengubah penampilan agar terlihat lebih menarik. Merasa tubuh terlalu gemuk mendorong dirinya untuk berolahraga dan mengatur pola makan. Merasa dirinya tidak cukup pintar mendorong dirinya untuk belajar lebih keras. Merasa gagal sehingga mendorong dirinya untuk mencari tahu jawaban yang tepat untuk mencapai keberhasilan. Serta berbagai contoh lainnya yang dapat menjadi titik balik bagi perubahan diri seseorang.

Pada akhirnya, self-loathing dianggap cara yang tepat selama berada di porsi yang tepat pula. Kita tidak bisa selamanya menyukai diri sendiri. Ada saatnya kita merasa tidak cukup baik dan harus menegur diri sendiri. Hal ini lumrah dilakukan layaknya kita menegur rekan kita ketika dia berbuat kesalahan. Diri kita pun butuh merasakan momen kesedihan, kegagalan, atau ketidaksukaan. Butuh merasakan itu semua agar menyadari, ada suatu keadaan yang membutuhkan respons yang tepat. Seperti, tidak tetap mengapresiasi diri ketika telah berbuat kesalahan.

Mengenali dan menyadari kapasitas diri seolah menjadi kunci untuk mengelola kebencian dalam diri. Ketika kita sudah mampu mengenali dan menyadari, rasa tidak suka atau benci yang muncul kita lihat sebagai hal yang lumrah. Kemudian kita nikmati sejenak dan mencukupkan ketidaksukaan itu terjadi. Setelah itu, kita kembali menyadari adanya hal positif dalam diri yang patut untuk dihargai dan menjadi bekal untuk memperbaiki diri.