Sibling Rivalry : Salah Satu Cerminan Kebutuhan Kasih Sayang yang Belum Terpenuhi

 

Bagi orangtua yang memiliki beberapa anak (mungkin) pernah mendapati konflik, perseteruan, rasa iri dan cemburu, bahkan persaingan antar anak. Hal ini terjadi oleh banyak sebab, salah satunya peran orang tua dalam memberikan kasih sayang. Terlalu pilih kasih, membanggakan salah satu anak saja, dan/atau kurang memberikan kontrol pada salah satu anak atau lebih membebaskan anak lainnya. Hal tersebut dapat membuat anak-anak tumbuh dalam lingkungan persaudaraan yang negatif, jauh dari ikatan persaudaraan yang penuh dengan cinta kasih.

Adanya konflik, saling iri dan persaingan yang terjadi antara anak-anak dan saudaranya. bisa jadi disebabkan karena kebutuhan kasih sayang, pengakuan, perhatian, dan penerimaan dari orangtua. Hal semacam itu biasa disebut dengan istilah sibling rivalry.

Kebutuhan Kasih Sayang yang Belum Terpenuhi

Menurut Amy McCready, seorang ahli parenting mengatakan bahwa sibling rivalry terjadi karena kebutuhan kasih sayang dan perhatian yang belum terpenuhi oleh anak saat masa kecilnya. Ketika anak-anak tidak mendapatkan kebutuhan positif pada fase perkembangannya, maka ia akan cenderung untuk berperilaku negatif.

Hal inilah yang terjadi di India, menurut hasil survey di negara tersebut tidak sedikit keluarga yang di dalamnya terjadi pertengkaran antar anak dalam satu keluarga. Diperkirakan terdapat empat juta anak berusia 0-5 tahun di dunia yang mengalami sibling rivalry. Ditambah lagi, ketidaksadaran orangtua atas permasalahan ini membuat hubungan persaudaraan dan keluarga semakin memburuk. Beberapa orangtua tidak mengetahui alasan dibalik anak-anaknya tidak akur dalam hubungan persaudaraan yang rentan menyebabkan munculnya perilaku saling menyakiti antar anak-anak yang tidak jarang membuat orangtua stres.

Cemburu terhadap Kedudukannya dalam Keluarga

Kecemburuan seorang anak terhadap kedudukannya dalam keluarga, lazimnya terjadi pada anak pertama yang kemudian memiliki adik. Karena kurangnya pengertian dan berkurangnya perhatian yang diberikan kepadanya, maka anak yang berusia lebih tua cenderung untuk cemburu terhadap adiknya. Anak yang berusia lebih tua akan merasa dirinya kurang mendapat perhatian dan porsi kasih sayang lebih banyak diberikan kepada adiknya. Seolah-olah, ia secara tiba-tiba dan dengan terpaksa harus menjadi orang dewasa yang memaklumi keadaan, menerima dengan sabar, dan mengalah demi adik-adiknya.

Tak hanya itu, beban yang diberikan dari keluarga dan sosial sekitarnya menganggap anak pertama atau yang lebih tua seharusnya melindungi dan menjadi pilar bagi adik maupun keluarganya. Hal ini tidak jarang membuat anak yang berusia lebih tua akan merasa terbebani karena memikul tanggungjawab yang lebih besar daripada adiknya.

Sebaliknya, anak yang lahir setelahnya dianggap sebagai anak yang kurang “mampu”, kurang mandiri, perlu perlindungan, atau dilabeli sebagai anak yang “tidak punya suara”. Hal tersebut bisa terjadi terlebih dalam sistem keluarga yang tidak demokratis, kolot, dan otoriter. Hal inilah yang tidak jarang menimbulkan rasa iri, konflik, atau persaingan antar saudara untuk sekadar didengar atau diterima pendapatnya.

Tidak Menerima Hak yang Semestinya Didapat

Ketika hak anak dalam mendapatkan kasih sayang, perhatian, serta penerimaan dari orangtua tidak ia dapatkan, maka bisa menjadi pemicu terjadinya sibling rivalry. Orangtua cenderung menyamaratakan porsi hak untuk semua anak, dengan landasan pemikiran bahwa semua anak adalah “sama” yang justru membuat sibling conflict akan meningkat.  Hal ini karena kegagalan orangtua dalam memahami anak-anaknya secara mendalam.

Anak diciptakan secara istimewa dengan keunikan masing-masing sehingga sudah seharusnya anak-anak diperlakukan sebagaimana keunikan dan keistimewaannya. Namun, orangtua yang gagal memahami keistimewaan anak ini justru cenderung membanding-bandingkan anak dengan saudara kandungnya. Misalnya, dalam hal prestasi akademik, antar anak tentu memiliki keunggulannya masing-masing, namun tidak jarang orangtua justru memukul rata. Apabila anak tidak pintar matematika maka si anak dianggap kurang pintar ketimbang kakak/adiknya yang pintar dalam matematika. Inilah pentinya peran orangtua dalam melihat secara komprehensif masing-masing anak baik secara fisik dan mentalnya untuk memutuskan perilaku, kebutuhan, dan kenyamanan yang terbaik bagi masing-masing anak. Hal ini bertujuan agar tidak memicu persaingan atau kompetisi antar sesama saudara kandungnya.

“When children are not treated equally, they are more likely to be aggressive towards their siblings” – Anonim

Semua Anak Itu Istimewa

Pemahaman atas “semua anak adalah istimewa” penting untuk ditanamkan pada benak seluruh orangtua di dunia. Hal ini karena paradigma tersebut membantu anak-anak untuk dipahami secara manusiawi. Sudah selayaknya anak-anak diperlakukan dengan manusiawi, bahwa setiap anak tercipta dengan penuh cinta kasih, tanpa adanya paksaan dan banyak tuntutan. Sudah selayaknya orang tua memahami bahwa jiwa anak-anak mereka adalah jiwa yang penuh dengan kasih sayang yang siap ia curahkan ke lingkungan sekitarnya. Hal itu dapat terwujud apabila iapun mendapakan hak-haknya untuk diberi kasih sayang, perhatian, dan penerimaan tanpa penilaian, tanpa syarat apapun. Buatlah diri mereka merasa istimewa dengan perbedaan kemampuan yang mereka miliki. Biarkanlah anak-anak tumbuh dalam keunikan mereka masing-masing tanpa adanya perbandingan bahkan dengan saudara kandungnya, tanpa penilaian, tanpa syarat apapun.

 ***

Bagi para orangtua diluar sana, pahamilah anak-anak sebagaimana anak-anak “terpaksa” memahamimu dengan caranya. Berusahalah mendampingi mereka dengan penuh perhatian, kasih sayang. Sadari sedini mungkin apabila mulai terjadi adanya konflik yang serius antar anak. Luangkan waktu lebih untuk membaginya secara adil dengan masing-masing anak. Luangkanlah waktu untuk menguatkan bonding dengan anak-anak, misalnya dengan mengadakan kegiatan  yang membangun adanya kerja sama bukan persaingan antar anak.

Menjadi orangtua memang tugas yang berat, pembelajaran seumur hidup. Namun, bukan berarti menjadi orangtua yang baik adalah hal yang mustahil untuk dilakukan. Hal ini karena orangtua yang baik adalah orangtua yang mau terus berusaha agar anak-anak mereka tercukupi kebutuhan jasmani dan rohaninya. Anak-anak mendapatkan kasih sayang, perhatian, penerimaan seutuhnya dari orangtua mereka. Dan hal itulah yang paling membuat anak merasa berharga.

Selamat menjadi orang tua yang baik!.

 

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*