Stigma dan Rendahnya Pengetahuan Tentang Kesehatan Mental

Orang dengan gangguan mental mengalami beban ganda. Mereka tidak hanya menanggung gejala atas gangguan mental yang mereka hadapi, akan tetapi mereka juga harus memikul beban stigma yang salah di masyarakat.

***

Berbagai gejala dari yang ringan (susah konsentrasi, nafsu makan menurun) hingga berat (halusinasi, waham) telah mengganggu keberfungsian mereka dalam menjalani hidup. Di satu sisi mereka berjuang dengan setiap gejala dan disabilitas yang menyertai, di sisi yang lain mereka juga bergulat dengan stereotip atau bias kesehatan mental yang berkembang di masyarakat. Keduanya telah mengambil berbagai kesempatan untuk mencapai kualitas hidup, seperti pekerjaan, rumah tangga, perawatan kesehatan, dan berbagai kesempatan untuk terlibat dalam keberagaman masyarakat.

Permasalahan yang belum dapat diselesaikan oleh negara adalah kejadian pemasungan yang masih ditemukan. Hingga pertengahan 2018, Human Right Watch melaporkan adanya pemasungan penyandang disabilitas mental sebesar 12.800 orang. Melihat fakta tersebut, target pemerintah bebas pasung 2019 menjadi target yang berat untuk dicapai.

Tidak hanya itu, polemik bertambah dengan adanya hiruk pikuk masyarakat yang mempermasalahkan hak pilih pada penyandang disabilitas mental. Hal tersebut menambah daftar gagal paham mengenai isu kesehatan mental itu sendiri. Patut diakui bahwa prasangka masyarakat mengenai gangguan mental adalah penyakit kronis akibat malnutrisi literasi kesehatan mental.

Stigma sebagai konstruk sosial

Secara umum, stigma merupakan konstruksi sosial yang merendahkan manusia sebagai hasil dari pemberian karakteristik atau tanda tertentu yang membedakan. Dalam bahasan ini, stigma tidak lain adalah miskonsepsi masyarakat tentang kesehatan mental. Ia termanifestasi dalam bentuk, seperti:

  1. Stereotip, yaitu anggapan bahwa gangguan mental adalah pengaruh roh jahat
  2. Prasangka, yaitu sikap negatif masyarakat disertai prasangka; orang dengan skizofrenia dapat menyakiti saya
  3. Diskriminasi, yaitu tidak mendapatkan akses layanan kesehatan mental

Dengan begitu, kompleksitas stigma ini mencakup level individu, sosial, dan budaya.

Stigma berkembang melalui pembelajaran sosial, artinya pengetahuan dan keyakinan kita tentang kesehatan mental adalah cerminan dari nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat. Berbagai teori mengemukakan bahwa orang mulai mengembangkan stigma sejak bayi, melalui pengetahuan keluarga, pengalaman pribadi, pergaulan dengan teman sebaya, dan media. Media merupakan saluran yang dinilai turut berperan dalam mengembangkan stigma. Hal itu bisa terlihat dari tayangan-tayangan di media yang banyak menggambarkan orang-orang dengan gangguan mental memiliki perilaku yang bengis, aneh dan berbahaya.

Film juga berpengaruh terhadap adanya stigma terhadap orang dengan gangguan mental. Beberapa film dinilai menyudutkan orang dengan gangguan mental, seperti Split (2016), Shutter Island (2010), Black Swan (2010), Belahan Jiwa (2005) atau Hannibal (2001). Perfilman banyak menjual sensasionalitas gejala psikologis dengan menyuguhkan konsep kesehatan mental secara salah kaprah.

Dampak penyajian informasi yang salah tentang gangguan mental, telah dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan oleh Bruce Link dan kawan-kawan. Mereka menemukan sebanyak 75% responden memiliki penilaian buruk terhadap orang dengan gangguan mental. Para responden menganggap bahwa orang dengan gangguan mental memiliki potensi tindakan berbahaya dan dapat mencelakai orang lain. Anggapan tersebut tentu saja merupakan anggapan yang keliru dan patut dikritisi. Hal itu karena tindakan berbahaya dan perilaku mencederai misalnya pada pelaku kriminal, adalah mereka yang sebagian besar merupakan orang-orang yang memiliki kesan pertama sebagai orang baik-baik.

Stigma tidak hanya menjadi beban bagi orang dengan gangguan mental, tetapi juga berdampak destruktif terhadap citra diri dan pandangan masa depan pada orang dengan gangguan mental. Sebuah penelitian juga menyebutkan dampak lain dari stigma terhadap orang dengan gangguan mental yang tengah menjalani terapi/pengobatan. Banyak dari mereka dilaporkan memiliki kepercayaan yang rendah terhadap keberhasilan terapi/pengobatan yang dijalaninya.

Jerat stigma pada profesional kesehatan mental

Stigma tidak hanya terjadi pada masyarakat awam, ia juga ditemukan bahkan pada praktisi kesehatan. Komunitas kesehatan yang diharapkan memiliki pandangan terbuka pada isu kesehatan mental, justru pada kenyataannya tidak demikian. Sebuah penelitian yang melibatkan responden dari tenaga kesehatan pada empat National Health Service di London menemukan adanya kontaminasi stigma pada kalangan profesional kesehatan. Hasil penelitian pada tenaga kesehatan mental dan tenaga umum terbukti memiliki prasangka yang sama terhadap pasien yang tengah mereka rawat.

Dampak dari stigma tersebut terhadap pasien adalah tidak adanya kelayakan dalam mendapatkan pelayanan dan pengadministrasian kesehatan pada pasien. Penelitian tersebut menjadi bukti nyata bahwa stigma tidak hanya masalah di negara berkembang seperti Indonesia, melainkan juga PR besar bagi negara maju bahkan di kalangan terpelajar sekalipun.

Kampanye anti-stigma

Di Indonesia sendiri belum banyak studi yang mengkaji stigma kesehatan mental. Studi macam itu kalah pamor dengan kajian-kajian populer, bahkan dengan sesama kajian dalam rumpun kesehatan. Isu kesehatan mental dinilai bukan sebagai penyakit mematikan (kanker, stroke), akibatnya perhatian yang diberikan oleh negara dan komunitas juga tidak maksimal.

Demi untuk mengangkat isu kesehatan mental menjadi fokus penting, maka sudah waktunya bagi kita untuk membuka mata terhadap pentingnya pengetahuan dan keyakinan terhadap isu-isu kesehatan mental. Sudah saatnya kita menutrisi diri dengan informasi terkait kesehatan dan gangguan mental. Hal itu agar kita tidak lagi mengembangkan stigma yang salah terhadap orang-orang dengan gangguan mental di masyarakat.

Kita bisa mulai melawan stigma dengan mengkampanyekan kesehatan mental dan perilaku anti-stigma. Kampanye ini bertujuan untuk membangun kesadaran sekaligus kepedulian masyarakat yang telah lama dekat dengan stigma. Sebab stigma bukan hanya tentang tahu-tidak tahu, melainkan juga tentang bagaimana kita menyikapi dan bertindak secara adil dalam isu kesehatan mental. Hal tersebut termasuk bagaimana sikap dan tindakan kita untuk menghormati setiap penyandang disabilitas mental.

Beberapa cara bisa kita lakukan untuk mengampanyekan anti-stigma, misalnya:

  • Bicara secara terbukatentang fakta-fakta terkait kesehatan mental di kehidupan sosial. Namun, hindari berbagai informasi yang belum dimengerti untuk mengantisipasi pembicaraan tidak berdasar dan hanya mengulas mitos.
  • Perdalam isu kesehatan mental dari sumber tepercaya, baik dari praktisi (psikiater, psikolog), literatur, workshop atau berbagai sumber ilmiah lainnya.
  • Membangun kesadaran bahwa isu kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Selain itu, menyebarkan informasi valid tentang kesehatan mental juga penting dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai isu kesehatan mental.
  • Membangun jejaring dengan para pejuang kesehatan mental,baik caregiver, social worker, pemangku kebijakan, akademisi, praktisi, hingga pihak manapun yang menggunakan layanan kesehatan mental.

Baca juga: 6 Stigma yang Salah Tentang Gangguan dan Kesehatan Mental di sini.

***

Pada akhirnya, menghilangkan stigma merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan akses layanan kesehatan mental dan membangun kesejahteraan orang dengan gangguan mental secara utuh. Semoga.


Artikel ini adalah sumbang tulisan dari FA Nurdiyanto. Nurdiyanto adalah mahasiswa Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada. Ia bisa dihubungi melalui akun facebook fanurdiyanto.

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*