Sudahkah Kita Bersyukur atas Kondisi Kesehatan Mental di Indonesia?

 

Indonesia Darurat Kesehatan Mental! Begitulah kira-kira pemberitaan mengenai kondisi kesehatan mental di Indonesia yang membuat banyak kalangan prihatin. Namun, sepertinya kita perlu mengambil jeda sejenak untuk meninjau kembali dan melihat sisi lain yang dapat kita syukuri dari Indonesia pada hari ini.

***

Angka bunuh diri masih sangat tinggi. Prevalensi gangguan jiwa tahun 2018 meningkat jika dibandingkan tahun 2013 lalu. Angka pasung juga masih cukup tinggi. Semakin banyak orang yang mendiagnosa dirinya sendiri. Angka psikolog dan psikiater belum sebanding dengan jumlah masyarakat. Banyak orang mengeluhkan konsultasi dengan psikolog/psikiater mahal. Minimnya akses dan informasi terkait layanan kesehatan mental. Ditambah, masih banyak orang dengan gangguan jiwa yang terlantar. Ini hanya sedikit cuplikan masalah yang mengelilingi kondisi kesehatan mental di Indonesia. Lalu, dimana sisi lain yang bisa kita syukuri?

Acara South-East Asia Region Youth Town Hall yang diselenggarakan pada tanggal 20-21 Maret 2019 lalu menjadi awal dimana kami menyadari bahwa kita patut mensyukuri perkembangan kesehatan mental di Indonesia. Acara yang diadakan oleh WHO Internasional dan bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI ini menghadirkan perwakilan pemuda dari 10 negara Asia Tenggara untuk berdialog aktif tentang bagaimana peran pemuda untuk pembangunan kesehatan dan teknologi di Indonesia. Dalam acara tersebut, kami menemukan harapan yang bisa menjadi kabar baik untuk kemajuan kesehatan mental Indonesia dan dunia.

Sebagai media yang concern terhadap isu-isu kesehatan mental, Pijar Psikologi ingin menjadikan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada hari ini 10 Oktober 2019 sebagai momentum untuk merefleksikan, sejauh mana kesadaran kita terhadap kesehatan mental serta perkembangan layanan kesehatan mental di Indonesia.

Kabar Baik dari Perkembangan Isu Kesehatan Mental di Indonesia

  • Perkembangan komunitas, support group dan layanan konsultasi psikologi berbasis online yang terus tumbuh

Diskusi dan perbincangan terkait isu kesehatan mental telah banyak kita temukan baik di dunia maya maupun dunia nyata. Hal ini terbukti dengan banyaknya ruang-ruang diskusi publik yang tumbuh di beberapa wilayah. Selain itu, tumbuh pula beragam komunitas, support group, atau media online maupun offline yang menyediakan informasi terkait isu kesehatan mental. Sebut saja Ibunda.id, Riliv, Sehat Mental Indonesia, Bipolar Care Indonesia, Into the Light, Komunitas Sehati, Kalm, Kariib, Klee, Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia dan masih banyak lagi komunitas dan organisasi yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Komunitas, support group serta layanan psikologi online tersebut membuktikan bahwa kesadaran terhadap kesehatan mental di masyarakat kita kini makin meningkat.

  • Peningkatan layanan kesehatan mental telah hadir hingga fasilitas kesehatan tingkat pertama di beberapa daerah

Peningkatan tidak hanya terjadi pada kesadaran pentingnya kesehatan mental saja. Namun, peningkatan juga terjadi pada ketersediaan serta akses layanan psikologi yang kini bisa ditemukan di puskesmas-puskesmas di berbagai wilayah. Setidaknya, Provinsi DI Yogyakarta dan DKI Jakarta sudah menghadirkan tenaga psikolog di puskesmas-puskesmas di hampir setiap kecamatan. Hal ini adalah bentuk perhatian dan wujud nyata kehadiran pemerintah terkait kesehatan mental dengan memberikan fasilitas layanan psikolog pada pelayanan kesehatan tingkat pertama. Selain itu, layanan kesehatan mental ini pun telah resmi diakomodasi melalui layanan BPJS. Dengan begitu, harapannya akan lebih banyak masyarakat yang mendapatkan layanan kesehatan mental, tanpa ada alasan terhalang jarak dan biaya. Karena nyatanya, masalah kejiwaan bisa dialami oleh siapa saja tanpa memandang status sosial ekonomi. 

  • Diakui dan dilindunginya psikolog sebagai tenaga kesehatan 

Setelah perjuangan panjang, akhirnya pada tahun 2014, negara mengeluarkan aturan bahwa Psikolog Klinis merupakan salah satu dari tenaga kesehatan yang secara sah diakui negara. Aturan ini memberikan dampak besar baik bagi profesi psikolog, maupun bagi pelayanan kesehatan mental itu sendiri. Hal ini karena jumlah profesional yang dapat memberikan pelayanan kini semakin bertambah, selain dokter umum dan psikiater. Tanpa adanya pengakuan resmi dari negara, penanganan kesehatan mental akan semakin sulit dilakukan. 

  • Kesehatan mental menjadi topik pembahasan di hampir semua tingkat

Sebelumnya, topik-topik tentang kesehatan mental tidak banyak diulas bahkan di ranah-ranah privat. Namun, sekarang ini pembahasan terkait kesehatan mental telah banyak digaungkan di media sosial dan diskusi publik yang santai yang melibatkan musisi, seniman, hingga mahasiswa. Tidak hanya itu, perbincangan mengenai kesehatan mental mulai masuk ke dalam banyak agenda diskusi, baik di tingkat nasional, regional, maupun global; baik dalam konteks praktis maupun konteks akademis; dan mulai terintegrasi ke dalam pembahasan mengenai kesehatan secara luas. Sebagai contoh, pada acara  South-East Asia Region Youth Town Hall yang mengangkat kesehatan orang muda secara umum, kesehatan mental menjadi fokus diskusi utama bersama dengan masalah kesehatan fisik lainnya. Selain itu, pada tahun 2019, Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk pertama kali menyelenggarakan Regional Workshop Asia Tenggara bertema kesehatan, khususnya penyakit tidak menular. Saat itu, topik mengenai kesehatan mental menjadi topik yang paling banyak diangkat oleh peserta. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun perlahan, tapi kita terus melakukan pergerakan ke arah yang lebih baik, dimulai dari kesadaran masyarakat.

  •  Memiliki guideline pemberitaan media mengenai bunuh diri

Pemberitaan tentang bunuh diri dulunya memang menjadi pro-kontra di kalangan media. Namun, berkat tim penyusun dan advokasi dari Into the Light pemberitaan terkait bunuh diri telah diatur untuk menghindari adanya pelanggaran privasi, penyederhanaan alasan bunuh diri, judul berita yang sensasional terkait bunuh diri, dan menggambarkan orang bunuh diri sebagai orang yang “putus asa.” Sebaliknya, pemberitaan terkait bunuh diri lebih diatur terutama terkait privasi yaitu tidak disarankan untuk menyebut nama, tempat tinggal, kerabat atau menampilkan foto-foto semasa hidup. Selain itu, media juga sebaiknya melakukan wawancara dengan tenaga ahli/profesional yang memiliki pengalaman dan pengetahuan terkait bunuh diri. Media juga sebaiknya menambahkan tulisan tentang kisah harapan dan pemulihan terkait pemikiran bunuh diri, kontak yang bisa dihubungi apabila memiliki pemikiran bunuh diri serta tulisan yang memuat tentang “apa yang bisa dilakukan apabila muncul pemikiran bunuh diri.” 

***

Sebenarnya, masih banyak kabar baik lainnya mengenai pertumbuhan kesehatan mental Indonesia yang tidak bisa disebutkan satu per satu, mulai dari anggaran kesehatan tahun 2019 ditingkatkan, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental, munculnya figur-figur publik yang konsisten menyuarakan pentingnya kesehatan mental, jumlah profesional di lapangan meningkat, adanya kader kesehatan mental di banyak kecamatan, hingga terbitnya peraturan pemerintah mengenai kesehatan mental. Kabar baik tersebut sepertinya patut untuk kita syukuri bersama bahwa Indonesia telah sampai pada titik ini. Titik dimana kesehatan mental mulai mendapat tempat dan perhatian khusus. Memang betul bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita lakukan untuk Indonesia. Masih banyak yang perlu diupayakan, ditingkatkan, dan dioptimalkan. Namun, bukankah kabar baik tetap menjadi kabar yang perlu disyukuri?

Mengapa kita patut bersyukur?

Terlibat dalam forum-forum diskusi isu kesehatan nasional maupun global seperti mengajak kami untuk berhenti sejenak dan melihat apa yang sudah Indonesia miliki hingga hari ini. Tidak jarang kami menemui rekan-rekan dari negara lain yang begitu antusias mendengar kondisi kesehatan mental Indonesia saat ini. Hal tersebut memberi mereka semangat dan harapan bahwa suatu saat nanti negaranya bisa sampai pada titik yang saat ini Indonesia capai.

Kami seperti sedang diingatkan bahwa kita sering terlalu fokus pada masalah, tapi lupa untuk mensyukuri langkah-langkah kecil yang berhasil Indonesia buat. 

Nyatanya, apa yang terjadi sekarang di Indonesia terkait kondisi kesehatan mental serta layanannya tidak terjadi di setiap negara. Di beberapa negara misalnya, masih banyak kota besar yang masih sulit mendapat akses pelayanan kesehatan mental yang terjangkau, angka bunuh diri yang tinggi, tenaga kesehatan mental yang sangat kurang, terbatasnya organisasi atau komunitas kesehatan mental, serta sedikitnya platform konsultasi online atau pelayanan kesehatan mental yang sulit dijangkau dan belum memenuhi standar. Indonesia tentu masih memiliki segudang masalah yang perlu segera diselesaikan. Kondisi kita masih jauh dari kata “sejahtera” secara mental. Namun, yang perlu kita ingat adalah Indonesia sedang bertumbuh. Meskipun perlahan, namun secara pasti Indonesia sedang berjalan ke arah kesehatan mental yang lebih baik. Dan kita perlu bersyukur untuk itu.

***

Tepat pada hari ini, kami ingin mengajak kita semua seluruh elemen masyarakat untuk berhenti sejenak dan merefleksikan sejauh mana Indonesia bertumbuh dalam hal kesehatan mental. Sejauh apa kita melangkah dan berupaya untuk menyuarakan pentingnya kesadaran serta pelayanan kesehatan mental di Indonesia. Mari bersama mensyukuri setiap langkah dan kabar baik yang datang di hari ini dan hari-hari sebelumnya. Karena bersyukur sejatinya bukan untuk membuat kita puas lalu berhenti di titik ini. Bersyukur adalah tentang menyadari bahwa kita sedang bertumbuh dan mengapresiasi usaha keras yang sudah kita lakukan. Bersyukur adalah tentang merayakan keberhasilan kecil untuk capaian yang lebih besar. Bersyukur justru diperlukan untuk membuat kita ingat bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Semoga usaha-usaha progresif kita dalam hal kesehatan mental di Indonesia dapat terus kita tingkatkan agar mencetak sumber daya manusia Indonesia yang tangguh.

Salam Berpijar untuk Negeri!

Pijar Psikologi

 

 

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*