Sulli: Kepergian Kali Ini, Kegagalan Siapa (Lagi)?

Senin, 14 Oktober 2019, dunia kembali harus kehilangan figur publik yang berasal dari Korea Selatan. Setelah Chester Bennington, Jonghyun (SHINee), DJ Avicii, dan kini Choi Jin-ri atau yang lebih dikenal dengan Sulli mantan anggota girl group f(x), ditemukan meninggal dunia di apartemennya sekitar pukul 15.20 waktu setempat. Segera setelah kejadian itu, polisi mengonfirmasikan kepada publik bahwa penyebab Sulli meninggal berkaitan dengan tindakan bunuh diri (suicidal behavior).

Keputusannya untuk mengakhiri hidup jelas menjadi duka bagi kita semua. Sosok Sulli dikenal sebagai pribadi yang berani dan hidup dengan mengedepankan authenticity serta vulnerability. Meski hidup di lingkungan yang konservatif, Sulli tetap vokal menyuarakan hal yang dianggap tabu seperti gangguan mental yang dialaminya. Keberaniannya ini, seringkali diinterpretasikan menjadi sebuah hal yang kontroversial dan tidak jarang mengundang komentar negatif netizen pada akun media sosial pribadinya. Sangat disayangkan komentar negatif dan perundungan di dunia maya (cyberbullying) yang ia alami itu, diduga menjadi penyebab ia mengakhiri hidup. Padahal, apa yang Sulli lakukan adalah usahanya untuk mencoba jujur dengan menjadi dirinya sendiri.

***

Cyberbullying adalah tindakan yang disengaja untuk menipu atau melecehkan seseorang menggunakan email, room chat, SNS, dan media komunikasi elektronik lainnya. Penyebab seseorang melakukan cyberbullying diantaranya karena permasalahan putusnya hubungan cinta yang kemudian timbul rasa benci, iri, cemburu, intoleransi, mencari perhatian, dan balas dendam. Cyberbullying ini masalah yang sangat serius karena tidak hanya menjadi faktor penyebab kemunculan depresi dan kecemasan, tetapi tindakan ini juga berimplikasi lebih jauh pada pikiran/tindakan bunuh diri korbannya.

Kenapa Fenomena Cyberbullying Terjadi?

Adanya kebencian merupakan salah satu penggerak dari perilaku cyberbullying. Sigmund Freud menjelaskan bahwa kebencian ini bersifat manusiawi walaupun itu adalah hal yang negatif. Namun, ada beberapa alasan yang mendasari mengapa seseorang bisa mengembangkan emosi ini secara berlebihan hingga mungkin menjadi pelaku cyberbullying.

  • Ketakutan pada Mereka yang Berbeda

Patrick Wanis—behavioral researcher—mengutip teori in-group out-group bahwa ketika kita merasa keberadaan orang lain di luar kelompok kita bersifat mengancam karena value yang dianut berbeda, maka secara naluriah kita akan melakukan konfrontasi dan bergabung dengan orang-orang sepaham dengan kita.

  • Ketakutan pada Diri Sendiri

Fenomena ini dikenal dengan nama projection atau proyeksi, di mana Psikolog Brad Reedy menjelaskan bagaimana seseorang memproyeksikan kejahatan yang ada di dalam dirinya kepada orang lain demi menghilangkan resiko penolakan dan kesendirian. Di satu sisi mungkin bisa dibenarkan dengan dalih mekanisme pertahanan diri. Tetapi di sisi lain, fenomena ini justru melanggengkan terjadinya penindasan atau perundungan.

  • Kurangnya Belas Kasih

Penangkal kebencian adalah belas kasih yang tidak hanya ditujukan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Belas kasih adalah ketika diri kita mampu melihat kekurangan yang ada dalam diri sebagai bagian dari diri kita. Oleh karena itu, ketika kita melihat perilaku orang lain yang tidak sesuai dengan pendapat ataupun value yang kita anut, maka kita menerima hal tersebut sebagai bagian dari mereka tanpa perlu menyebarkan hate speech atau bahkan melakukan bentuk-bentuk perundungan lainnya.

Bentuk-bentuk Cyberbullying

Dengan meningkatnya pengguna media sosial, maka kemungkinan cyberbullying terjadi juga semakin tinggi. Siklus yang seolah tidak berhenti ini disebabkan oleh mekanisme kerja dari platform online sendiri dimana mereka mendukung pada anonimitas dan juga efek disinhibisi online. Berikut ini adalah beberapa contoh bentuk cyberbullying yang perlu kita pahami bersama.

  1. Mengirim pesan atau ancaman ke akun pribadi atau ponsel seseorang,
  2. Menyebarkan rumor,
  3. Memposting pesan yang menyakitkan atau mengancam di situs jejaring sosial atau halaman website tertentu,
  4. Mengambil foto seseorang yang tidak menarik dan menyebarkannya melalui ponsel atau dunia maya,
  5. Mengedarkan gambar atau pesan bersifat seksual seseorang.

Bagaimana Cara Menghadapi Cyberbullying?

Meskipun tindakan cyberbullying ini semakin marak dan sulit dicegah di era digital saat ini. Namun, masih ada hal yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya. Cara yang pertama adalah dengan mengembangkan self-love atau mencintai diri sendiri. Seringkali kita justru menghabiskan waktu kita untuk mencari persetujuan/validasi dan cinta dari orang lain. Hal itu tanpa kita sadari telah mengembangkan pengabaian dan penolakan yang datang justru dari dalam diri kita, karena ketidakmampuan kita untuk menerima diri seutuhnya. Ketika kita bisa mencintai diri kita seutuhnya, kita akan mengembangkan self-kindness pada diri kita dan juga orang lain. Kita bisa menghargai perbedaan dengan tetap mempertimbangkan kesehatan juga kebahagiaan diri kita sendiri.

Cara yang kedua adalah dengan mencari bantuan dan dukungan. Kita bisa mencoba terbuka dan bercerita pada teman juga keluarga kita mengenai cyberbullying ini. Jika memang merasa memerlukan bantuan profesional, kita bisa menghubungi layanan konsultasi online ataupun pergi ke psikolog terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

***

Sulli adalah pengingat kita bahwa kita masih saja gagal untuk memahami manusia seutuhnya. Kita masih saja mengedepankan kebencian yang menutup pikiran dan mata hati. Walaupun memang kebencian adalah suatu hal yang wajar. Namun, kebencian bukan sesuatu yang layak dijadikan pembenaran ketika masih ada pilihan lain, yakni kebaikan. Meski sifatnya yang dikotomibisa konstruktif dan destruktif, komentar negatif yang menunjukkan kebencian ini tidak lantas bisa diatasi oleh setiap orang. Masing-masing orang memiliki kapasitasnya masing-masing dan itu tidak bisa digeneralisasi. Maka, tanyakan pada diri kita sendiri sebelum berucap, bertindak dan memutuskan sesuatu. Kita tidak pernah tahu apa dan bagaimana dampak perilaku, ucapan juga keputusan kita terhadap seseorang. Jika ada teman ataupun kerabat yang mengalami atau menjadi korban cyberbullying, rangkullah mereka, katakan bahwa mereka sangat berarti untuk kita. Apabila diperlukan, dampingi mereka bertemu dengan tenaga profesional untuk mendapatkan pertolongan yang tepat.


Sumber gambar : www.pinterest.com

Let others know the importance of mental health !