Tanamkan Jiwa Sehat dalam Keluarga

Di dalam rumah yang tentram terdapat kehidupan yang menyenangkan. Di mana peran keluarga yang optimal bisa mengantarkan pada sehat baik secara jasmani maupun rohani.

Tahukah Anda, kesehatan identik dengan sehat jasmani dan rohani? Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sehat artinya dalam keadaan baik sekujur badan serta bagian-bagiannya, bebas dari sakit atau penyakit, dalam keadaan waras, mendatangkan kebaikan pada badan, sembuh dari sakit, baik dalam keadaan biasa atau normal pikirannya, boleh dipercaya atau masuk pada akal pendapat, usul.1

Buku ini membahas mengenai pentingnya pendidikan karakter bagi anak anka bangsa dan dimulai dari keluarga. Bangsa Indonesia saat ini sedang mengalami kerusakan moral/akhlak hampir pada semua segmen kehidupan dan seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK), praktik KKN di Indonesia tahun 2012 naik menjadi 3% dari 2,8% pada 2011.2 Apabila sehat hanya mengacu pada fisik maka yang terjadi adalah mengabaikan sehat rohani. Pepatah mengatakan, pada jiwa yang sehat terdapat fisik yang kuat. Maka dari itu, perlulah membangun pondasi jiwa yang sesuai dengan kaidah yang benar.

Pembangunan jiwa bukan di mulai ketika sudah bisa bermasyarakat. Namun, di awali dari lingkup keluarga. Sebagai objeknya adalah anak. Karena anak masih mudah untuk dibentuk dan diarahkan. Ketika sejak kecil anak sudah terbiasa menimba ilmu yang ‘layak’ diharapkan bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakatnya. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya, atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas, atau ke bawah sampai dengan derajat ketiga.

Sebuah keluarga adalah pondasi utama anak yang mampu menanamkan nilai-nilai karakter. Perawatan orangtua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi yang sehat. Keluarga juga di pandang sebagai institusi yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadian anak dan pengembangan ras manusia. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan kebutuhan individu dari Maslow, tokoh pencetus teori kebutuhan,  maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut,  baik kebutuhan fisik-biologis maupun sosio-psikologisnya.

Keluarga merupakan lembaga/pendidikan pertama dan utama bagi seseorang. Pendidikan dalam keluarga sangat berperan dalam mengambangkan watak, karakter, dan kepribadian seseorang. Oleh karena itu, pendidikan karakter dalam keluarga perlu diberdayakan secara serius. Sebagaimana disarankan Lickona, keluarga sebaiknya dijadikan pondasi dasar untuk memulai pembentukan karakter/moral anak di masa yang akan datang. Apabila di dalam keluarga karakter anak terbentuk kearah yang relevan sesuai dengan kaidah, secara tidak langsung ketika dia di masyarakat karakternya tidak akan mudah untuk goyah.

Peranan keluarga berfungsi sebagai berikut:

  1. Fungsi Edukasi

Fungsi ini berkaitan pada pendidikan anak pada khususnya dan pendidikan anggota keluarga pada umumnya.

  1. Fungsi Proteksi

Keluarga menjadi tempat perlindungan yang memberikan rasa aman, tenteram, lahir dan batin sejak anak-anak berada dalam kandungan ibunya sampai mereka menjadi dewasa dan lanjut usia.

  1. Fungsi Afeksi

Di mana dalam satu keluarga itu terjalin ikatan emosional yang kuat antara para anggotanya (suami, istri, dan anak). Fungsi afeksi berperan untuk memupuk dan mencipta rasa kasih sayang dan cinta antara sesama anggotanya.

  1. Fungsi Sosialisasi

Fungsi sosialisasi keluarga terkait erat dengan tugas mengantarkan anak ke dalam kehidupan sosial yang lebih nyata dan luas.  Karena bagaimanapun, anak harus harus diantarkan pada kehidupan berkawan, bergaul dengan famili, bertetangga dan menjadi warga masyarakat di lingkungannya.

Empat fungsi peran keluarga di atas, apabila bisa dijalankan secara berkesinambungan akan mengarahkan anak pada pribadi yang sehat secara jasmani maupun rohani. Dengan harapan, apabila didik dari kecil menjadi pribadi yang ‘sehat’ di kemudian hari nanti akan menjadi manuasia yang mempunyai karakter yang patut untuk dibanggakan.

 

Judul Buku  : Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga

Pengarang    : Dr. H. Amirulloh Syarbini, M.Ag.

Tahun Terbit : 2016


Sumber Data Tulisan

1 Pengertian sehat diambil dari Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Purwo Waskito, S.Pd.

2 Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga, Dr. H. Amirulloh Syarbini, M.Ag., 2016

By: Hidayatul Hasanah, S.Pd.I.

Featured Image Credit: dutailmu.co.id

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*